Abstrak
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu daerah yang memiliki keanekaragaman hayati dimana terdapat berbagai jenis tumbuhan berkhasiat obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat, Organ tumbuhan yang di gunakan dan cara pengolahannya. dan untuk mengetahui kelimpahan tumbuhan obat Di Hutan Wisata Alam Laputi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yang diamati baik dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. pengambilan sampel dan pengumpulan data di lokasi menggunakan metode belt transek dengan transek kuadran. Dalam pengumpulan data vegetasi dalam penelitian ini menggunakan 3 lokasi yang berbeda yaitu lokasi ditempat yang dekat air terjun, danau dan tempat kering atau bebatuan. Data tumbuhan obat yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif yang disajikan dalam bentuk tabel. Untuk menghitung keanekaragaman tumbuhan pada plot digunakan rumus keanekaragaman Shanon-Wiener. Data vegetasi dianalisis dengan menggunakan rumus kerapatan, frekuensi dan dominasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa di Hutan Wisata Alam Laputi Desa Praingkareha terdapat 23 jenis tumbuhan yang berkhasiat obat yang digunakan oleh pengobat tradisional dalam menyembuhkan berbagai penyakit. Bagian organ tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan yaitu akar, batang, daun, biji dan rimpang.Cara mengolah tumbuhan tersebut yaitu dengan cara dihaluskan, dimasak dan direbus. Hasil penghitungan nilai kerapatan dan kerapatan relatif. Nilai tertinggi untuk tingkat pertumbuhan semai yaitu Piper betle L K (1,5), KR (22.222%). Tingkat Tiang nilai tertiggi yaitu, Psidium guajavaK (50), KR (0,166%). Tingkat pertumbuhan tertinggi pada pohon yaitu, Cassia siamea LamkK (0,01), KR (80,645%).Hasil penghitungan nilai frekuensi dan frekuensi relatif untuk tingkat pertumbuhan semai yaitu Piper betle L F(0,277), FR (29,562%). Tingkat Perdu nilai tertinggi yaitu, Psidium guajava (0,166), FR (10,553%). Tingkat pertumbuhan tertinggi pada pohon yaitu, Cassia siamea Lamk F (0,222), FR (33,484%) dan S. Macrophylla F (0,138, FR (20,814%).Hasil penghitungan dominansi dan dominansi relatif, nilai tertinggi untuk tingkat pertumbuhan perdu yaitu, Hibiscus rosa-sinensis, D (1,398), DR (28,974%)danSauropus androgynusD (1,185), DR (24,559%). Nilai tertinggi untuk tingkat pohon yaitu S. Macrophylla D (3,602), DR (38,388%).Perlu peningkatan upaya budidaya tumbuhan yang berpotensi sebagai obat tradisional Kata kunci: Etnobotani, Analisis Vegetasi, Tumbuhan Obat Tradisional.