SEAN LEONARDO FAOT
2021 · Book · Open Access
Pertanian yang dijalankandenganpengunaanbahan-bahankimiasemakinharisemakinmengancamtanahsebagaiwadahpertanian. Tanah yang semakinrusakditandaidengankesuburan yang berkurang, hama yang semakinkebaldankematian mikro-organisme di dalamtanah. Bahankimiainijugaberakibatpadakerusakanalamataulingkungansepertipeningkatan gas emisi, pencemarantanahdan air akibatreduksibahankimiadankeracunanpadamakanan yang dikonsumsiolehmakhlukhidup yang memakanya. Pola pertanian dengan bahan-bahan kimia juga masih ditemukan di Jemaat GMIT Alfa Omega Labat. Para petani di jemaat ini didorong untuk bertani selaras alam yaitu “Pertanian Organik”. BerefleksidariKejadian 2:4b-25, menolong agar setiapmanusiakhususnyaparapetanimulaimenyadari bahwa pemberian lahan pertanian dari Allah adalah melanjutkan tugas dari Allah untuk mengelola dan memeliharataman Eden. Pertanian yang baikdanmenjadisolusidalammenghadapikerusakanlingkungan di bidangpertanian ialah “pertanian organik”.Penelitiandanpenulisaninibertujuanmenganalisisdanmenjelaskanhubunganpertaniandengankerusakanlingkungan.Krisis ekologi dari bidang pertanian perlu untuk diperhatikan. Wilayah pertanian di Jemaat Alfa Omega Labat sangat berperan penting bagi jemaat sekitarnya, berbagai interaksi terjadi melalui bidang pertanian di jemaat ini. Pertanian sudah menjadi salah satu sumber hidup bagi jemaat di tempat ini, lingkungan yang padat ekosistem dengan berbagai tumbuhan dan sungai sangat mendukung pertanian di wilayah ini. Model atau pola pertanian di wilayah ini mulai berganti dengan penggunaan teknologi seperti traktor dan bahan-bahan kimia untuk menyuburkan tanaman dan menjaga dari kerusakan. Penggunaan bahan kimia yang sudah berlangsung selama ini ternyata berbanding terbalik dengan harapan para petani. Tanah semakin semakin rusak dan hasil panen terus menurun. Pola pertanian seperti ini jika terus dipertahankan maka, akan memberi dampak pada kerusakan lingkungan. Dalam bingkai ekoteologi gerejadanumatkristenjugabertanggungjawabuntukmemperbaikilingkungan yang sudahrusakdaribidangpertanian. Berefleksi dari Kejadian 2:4b-25, mengarahkan kita maupun para petani pada sikap hidup yang menghormati dan menghargai alam semesta sebagai bentuk penyembahan kepada Allah, terutama dalam pengelolaan pertanian yang selaras dengan alam. Parapetani di Jemaat GMIT Alfa Omega Labat diharapkan agar mulaimenerapkansistempertanianorganik yang menyejahterakandanmemberikeharmonisanbagisesamaciptaanlainya. Pertanianorganikperlujugamendasarikehidupanparapetaniketikabertani, Pertanianinimenjadiwujudimandanibadahsejatikepada Allah. Para petaniperlumemandangsetiaplingkunganpertanianlayaknyataman Eden yang sedangdiusahakandanberpihakpadakehidupantanpakeserakahan.
LITA MEATHY DAWI NGANA ELUAMA
2021 · Book · Open Access
Kehidupan umat Tuhan yang tidak peduli terhadap keadilan sosial, maka yang menjadi salah satu penyebabnya yaitu kerakusan tuan-tuan tanah dan penyalahgunaan kuasa para penguasa yang mau meraup keuntungan pribadi. Akibatnya terjadi penindasan terhadap orang-orang lemah, terbentang jurang antara orang kaya miskin dan terjadinya ketidakadilan sosial. Kenyataan inilah yang menyebabkan respon Mikha (Mi. 6:8) terhadap umat Allah yang merupakan kecaman kepada para penguasa Yehuda yang membenci keadilan dan nabi-nabi palsunya yang menyesatkan. Penulis ini memakai metode penelitian historis kristis untuk menggali perkembangan dan makna teks secara mendalam, waktu dan peristiwa, tempat dan orang-orang yang ada dalam cerita. Bangsa Yehuda telah mengabaikan apa yang dikehendaki oleh Tuhan dan terancam kehilangan janji-janji-Nya. Maka dari itu ditemukan tiga pesan sebagai anjuran agar bangsa Yehuda tidak lagi melakukan kejahatan moral yaitu dengan melakukan keadilan, mencintai belas kasihan dan hidup rendah hati di hadapan TUHAN.
KEVIN V. TARAPANJANG
2021 · Book · Open Access
Salah satu aspek kehidupan yang berpengaruh dalam tatanan manusia yaitu pertanian. Dalam aspek ini petani memiliki peranan penting dalam mengupayakan berbagai cara untuk memenuhi kehidupan. Namun dalam upaya-upaya yang dilakukan oleh petani dapat membuat petani hidup dalam sistem sosial yakni sistem ijon yang berdampak pada ketidakadilan. Petani merasakan ketidakadilan dengan praktik sistem ijon yang dilakukan oleh warga jemaat. Skripsi ini membahas tentang praktik sistem ijon yang dilakukan oleh warga jemaat Toru Ahu yang berdampak pada ketidakadilan dengan judul “Gereja dan Sistem Ijon” (Suatu Tinjauan Teologi Sosial Terhadap Keterlibatan Gereja Dalam Praktik Sistem Ijon di Warga Jemaat Toru Ahu Dan Implikasinya Bagi GKS Jemaat Toru Ahu). Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat keterlibatan gereja dalam menyikapi praktik sistem ijon di GKS Jemaat Toru Ahu yang menimbulkan ketidakadilan. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yakni mengamati fenomena yang terjadi, mendeskripsikan dan menganalisis. Penulis menganalisis ketidakadilan dalam praktik ijon dengan menggunakan teori Paulo Freire tentang Pendidikan Kaum Tertindas. Freire membahas mengenai kebebasan bagi orang-orang yang mengalami ketidakadilan serta memberi penyadaran diri bagi penguasa (tengkulak), kaum tertindas (petani), dan gereja. Perilaku dan sikap yang baik dapat menghasilkan keadilan dan penyadaran diri dengan melandaskan Kasih Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dari hasil penelitian di GKS Jemaat Toru Ahu khususnya dalam praktik sistem ijon yang telah menimbulkan ketidakadilan bagi jemaat. Gereja memberi kesadaran bagi jemaat sehingga dalam melaksanakan praktik sistem ijon berpatokan pada persekutuan sehingga memperoleh keadilan. Keadilan merupakan sikap yang harus dilakukan oleh setiap orang dalam memenuhi kebutuhan hidup berdasarkan kasih Kristus. Oleh karena itu, gereja harus bekerjasama dengan pemerintah untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan jemaat. Bekerjasama dalam sebuah persekutuan merupakan keadilan dan wujud dari kesadaran manusia dalam merespon Anugerah Allah.
FRIEDMA CHRISTINE NOMSEO
2021 · Book · Open Access
Tindakan disiplin gereja atau siasat gereja dilakukan oleh GMIT untuk menata kehidupan anggotanya menjadi murid Kristus yang taat dan dengan rela hati melakukan apa yang diajarkan kepada mereka. Pemahaman jemaat dalam penerapan tindakan disiplin gereja di jemaat GMIT Imanuel Oenali sangatlah beragam. Pemahaman jemaat yang berbeda sampai pada anggapan disiplin gereja yang diberikan tersebut merupakan sebuah hukuman yang diberikan oleh gereja kepada anggota jemaatnya. Pemahaman tersebutlah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian bagaimana pemahaman jemaat mengenai tindakan disiplin gereja dan penerapannya di jemaat GMIT Imanuel Oenali. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif sehingga bisa mendalami permasalahan tersebut, mengambil sampel dan melakukan wawancara sehingga memperoleh informasi dengan lebih akurat. Hasil penelitian yang telah dilakukan tersebut dapat diketahui dampak penerapan tindakan disiplin gereja yang diberlakukan di jemaat GMIT Imanuel Oenali. Berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis menemukan bahwa anggota jemaat yang menerima tindakan disipli gereja menarik diri dari pelayanan yang diberikan kepada mereka. Melihat faktor serta dampak yang terjadi dalam jemaat, penulis kemudian mendialogkannya dengan teologi pastoral, mengingat teologi pastoral dalam hal pendampingan dan percakapan pastoral tidak dapat terpisahkan dengan tindakan disiplin gereja yang diaplikasikan di jemaat GMIT Imanuel Oenali. Percakapan dan pendampingan pastoral yang dilakukan serta pemahaman jemaat dalam memahami tindakan disiplin gereja tersebut akan mempengaruhi proses tindakan disiplin gereja di jemaat ini. Oleh sebab itu maka pemahaman yang tepat dalam jemaat tentang tindakakan disiplin gereja ini akan akan membantu anggota sidi tersebut dalam melewati tindakan disiplin gereja dalam jemaat.
HELDA MARDIANA YUSELINA DJARAWADU
2021 · Book · Open Access
Pendeta adalah hamba Tuhan yang ditugaskan dengan dua jabatan yaitu organisasi dan pelayanan di mana ia harus bertanggunjawab secara organisatoris serta menjalankan fungsi kenabian, kerasulan dan gembala untuk melayani di mana ia hidup dan ditugaskan dalam gereja. Dalam menjalankan panggilan sebagai pengikut Kristus tidak terlepas dari situasi di mana antara memilih menjalankan panggilan sebagai pengikut-Nya atau harus memusatkan perhatian pada kepentingan diri sendiri dan keluarga. Panggilan menjadi pengikut Kristus ialah panggilan untuk setia dan mengambil bagian dalam penderitaan bersama-Nya. Penderitaan yang dialami pengikut-pengikut Kristus bukan karena akibat yang ditimbulkan oleh pengikut-pengikut Kristus, tetapi sebagai konsekuensi yang harus diterima sebagai bagian dari melayani Kristus. Hal tersebut bukan hanya dialami dari luar, tetapi dari dalam keluarga dan diri pengikut itu sendiri. Melihat kedua tanggungjawab antara pelayanan dan keluarga, terkadang menimbulkan dinamika dalam keluarga pendeta di mana bisa saja ada yang merasa sebagaimana yang terjadi dalam keluarga pendeta yang melayani di jemaat GMIT Kota Kupang, di mana anggota keluarga merasa terabaikan, dilema, adanya keraguan terhadap pasangan, cemas, kurangnya waktu bersama oleh karena mereka diperhadapkan dengan kesibukkan pendeta. Penulis bertujuan agar memberi dasar teologis terhadap makna dari sebuah keluarga pendeta dalam jemaat, untuk itu metode yang digunakan penulis yaitu penelitian dengan menggunakan metode kualitatif. Dimana penulis melakukan wawancara mendalam dengan keluarga pendeta-pendeta yang sedang melayani di jemaat GMIT Kota KupangKlasis Kota Kupang. Karena itu sangat perlu untuk merefleksikan tentang kisah Allah memanggil Abraham dari antara kaum keluarganya dan berjanji kepadanya “Allah akan memberikan tanah dan keturunan kepadanya dan Allah akan memberkatinya”. Anaknya Ishak sebagai penerus keturunanya, kemudian Yakub dan ia juga menerima tugas yang sama yaitu demi keselamatan umat manusia dan supaya semua kaum di muka bumi menerima berkat (Kej. 12:3). Hal yang sama juga diberikan Allah kepada Yakub dan keturunannya. Allah memulai penyelamatan dengan satu orang dan satu keluarga untuk menjadi alat dari suatu realitas bersama yang baru. Dasar teologis ini menjawab dinamika antara pelayanan dan keluarga pendeta di mana keluarga pendeta adalah komunitas yang juga ditetapkan Allah sebagai wadah untuk menyatakan rencana-Nya bagi dunia. Allah sebagai pembentuk keluarga memiliki misi agar keluarga pendeta menjadi komunitas yang memancarkan dirinya sebagai terang di tengah-tengah kehidupan jemaat. Karena itu pendeta perlu memberi pemahaman dan mempersiapkan keluarga agar keluarga pendeta memberi nilai tertinggi kepada Allah dan menjalankan pelayanan dengan segala konsekuensi yang harus diterima.
MARIA SERAN
2021 · Book · Open Access
Emile Durkheim merupakan Sosiolog besar yang berpengaruh pada perkembangan ilmu sosial. Sama seperti Karl Max dan Weber, Durkheim hidup dalam masa peralihan sosial dan krisis di Eropa akibat revolusi industri. Revolusi industri inilah yang menjadi penggerak pemikirannya tentang fungsi sosial agama. Kerangka teori berpikir Durkheim terletak pada makna penting struktur masyarakat, interaksi dan kelembagaan sosial untuk melihat dan mempelajari masyarakat. Bagi Durkheim, agama adalah produk sosial masyarakat yang dijadikan standar moralitas bersama atau membangkitkan prinsip solidaritas bersama. Teori Durkheim terkait agama sebagai perekat sosial, penulis angkat dan dialogkan dengan konteks Klasis TTU yang menghadapi kesenjangan sosial. Untuk mendialogkan serta mendekati masalah tersebut, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif khususnya studi pustaka serta melakukan wawancara beberapa pihak terkait. Metode penulisan yang digunakan ialah metode deskriptif dengan pendekatan deduktif juga menganalisis berdasarkan pemikiran beberapa ahli. Berdasarkan pola serta metode yang digunakan, penulis mendapati bahwa peran agama sebagai fungsi sosial di wilayah Klasis TTU belum optimal. Terlihat dari data-data serta isu-isu sosial yang masih kuat di Kabupaten Kefamenanu, serta kaum Katolik sebagai mayoritas yang mendominasi. Sehingga agama sebagai perekat sosial menjadi pergumulan Klasis TTU sebagai bagian di dalam Kabupaten Kefamenanu. Penulis kemudian melakukan refleksi Sosio Teologis dalam Injil Mat. 22: 34-40. Penulis mendapati bahwa di tengah kesenjangan sosial, Yesus merekatkan dengan kehadiranNya bagi semua orang di mana Ia dibutuhkan. Yesus menunjukkan bahwa kasih melampui segala kesenjangan yang terjadi. Kasih melampui batas-batas sosial, karena kasih tidak pernah terbatas. Sehingga dengan mengasihi sesama, manusia telah mengasihi Allah (Mat. 22:36-40).
FONY MARLIN NINU
2021 · Book · Open Access
ABSTRAK Kehamilan sebelum menikah seringkali digambarkan sebagai suatu situasi kehidupan yang penuh dengan tekanan baik dari keluarga, masyarakat bahkan gereja. Perempuan yang hamil sebelum menikah harus siap untuk menerima segala bentuk konsekuensi dari perbuatan yang dilakukannya. Kasus kehamilan sebelum menikah juga sering terjadi di lingkup pelayanan Jemaat GMIT Soleman Neonmat Klasis Soe Timur. Rata-rata perempuan yang hamil sebelum menikah di tempat ini adalah pelajar sekolah menengah atas atau dengan kata lain merupakan anak-anak remaja. Dengan alasan mengurangi kehamilan sebelum menikah, gereja GMIT Soleman Neonmat membuat suatu kesepakatan. Kesepakatan ini mengharuskan perempuan yang ingin membawa anaknya ke gereja untuk dilayani, terlebih dahulu harus membayar uang sesuai jumlah yang telah disepakati. Jumlah uang yang harus dibayar sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dampak dan faktor-faktor yang ditimbulkan dari pembayaran denda oleh perempuan yang hamil sebelum menikah kepada gereja serta merefleksikannya kasus ini menurut sudut pandang pastoral.Tujuan ini dapat dicapai dengan melakukan penelitian lapangan dan metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang digunakan untuk memperoleh data yang akurat dengan metode penulisannya adalah metode studi kasus. Metode studi kasus membantu untuk mengerti masalah dengan menderksripsikan, menganalisa, merefleksikan dan memberikan tawaran aksi pastoral yang dapat dipakai oleh gereja dan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, faktor pemberlakuan denda yaitu gereja belum secara penuh memahami tentang konsep penebusan salah. Pemberlakuan denda sebagai bentuk pembersihan diri seolah-olah menandakan bahwa manusia dapat berusaha seorang diri dengan menggunakan harta untuk membersihkan diri dari dosa yang telah dilakukan. Semua manusia adalah makhluk yang berdosa. Oleh karena dosa itu Allah melalui Yesus Kristus berinisiatif untuk memperbaiki relasi yang telah rusak antara manusia dengan Allah serta manusia dengan sesamanya. Dosa yang dilakukan oleh manusia hanya dapat dibersihkan dengan darah yang kudus dan itu semua nyata dalam karya Yesus Kristus di kayu Salib. Kata Kunci: Pastoral, Hamil Sebelum Menikah, Denda, Penebusan Salah.
RIANISNA BAKO
2021 · Book · Open Access
Konteks umum jemaat GMIT Koinonia Kupang adalah salah satu jemaat di Klasis Kota Kupang. Jemaat yang berada dipusat kota ini memiliki pelayanan yang baik. Namun masih ada masalah yang di hadapi oleh jemaat yaitu mengenai perkembangan anak-anak pasca perceraian orang tua. Anak –anak merupakan masa depan gereja, kualitas perkembangan anak pada masak ini merupakan gambaran gereja di masa depan. Melihat perkembangan anak yang menurun pasca perceraian orang tua maka gereja juga perlu meningkatkan pelayanan bagi anak-anak korban perceraian. Untuk mencapai tujuan penulisan tersebut penulis menggunakan penelitian kualitatif. Penulis menggunakan jenis metode kualitatif Studi Kasus (case study). Melalui metode ini peneliti hendak mendalami dengan mencari beraneka sumber informasi. Penulis menemukan pasca perceaian sejumlah perkembangan anak-anak menurun. Penulis menganalisa masalah tersebut menggunakan teori kebutuhan menurut Abraham Maslow, serta melihat dampak perceraian bagi kebutuhan dan psikologi perkembangan anak. Penulis menemukan bahwa sejumlah kebutuhan anak ini menjadi perhatian gereja. Gereja perlu hadir dalam upaya pemulihan perasaan anak-anak pasca perceraian orang tua. Selanjutnya penulis juga melihat bahwa peranan orang tua juga penting untuk mendidik anak-anak dalam keluarga. Sehingga pentingnya pelayanan gereja dalam meningkatkan pelayanan bagi keluarga pra nikah dan pasca menikah dalam memaknai arti pernikahan, serta melihat dampak perceraian bagi karakter anak-anak.
YELI CAROLIN MAGDALENA WADU
2021 · Book · Open Access
Guru Injil adalah pelayan gereja penuh waktu yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Majelis Jemaat atas persetujuan Klasis dan Sinode GKS. Guru Injil diteguhkan dalam jabatan Penatua tanpa melalui pe¬milihan. Tugas pokok ialah memberitakan Injil serta tugas-tugas lain dalam Jemaat yang ditetapkan oleh Majelis jemaat. Dalam sejarah terbentuknya GKS Jemaat Waikabubak, peran guru Injil sangat mendukung pelayanan dan pemberitaan Injil. Realitas di GKS Jemaat Waikabubak ada lima guru Injil yang melayani serta bertanggungjawab terkhususnya di jemaat cabang. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui peran Guru Injil dalam sejarah GKS Jemaat Waikabubak dan membangun refleksi teologis dari peran Guru Injil bagi pertumbuhan dan perkembangan pelayanan. Untuk mencapai tujuan tersebut penulis menggunakan penelitian lapangan dengan mewawancarai pihak gereja dan para guru Injil yang melayani di jemaat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru Injil sangat besar dalam membangun dan menunjang pelayanan.Peran guru Injil masa kini lebih berfokus pada pelayanan di jemaat cabang. Bertanggungjawab dengan semua pelayanan terkecuali sakramen (perjamuan kudus dan baptisan), tidak saja memberitakan firman tetapi dalam kehidupannya menggambarkan apa yang di sampaikan yaitu hidup sesuai firman. Memiliki kepedulian, kerendahaan hati, serta mengutamakan pelayanan. Para guru Injil memberikan hasil yang nyata lewat pelayanannya melalui tri tugas panggilan dan pengutusan yakni, koinonia, marturia, dan diakonia. Panggilan dan pengutusan gereja adalah untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di bumi. Tugas itu bukan saja tugas khusus para pelayan, namunpanggilan dan pengutusan itu merupakan tugas semua orang percaya.Dalam menjalankan misi Allah, membutuhkan peran para pelayan yang melakukan pelayanan sesuai dengan tanggungjawab masing-masing.Dengan karunia yang berbeda-beda, para pelayan membangun relasi atau hubungan baik yang akhirnya berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan pelayanan dalam gereja maupun masyarakat.
NINGSIH DILIYANTI BENU
2021 · Book · Open Access
Jemaat Anak Sulung Sikumana adalah persekutuan orang-orang percaya yang dipanggil oleh Allah untuk hidup dan melayani di Sikumana. Jemaat Anak Sulung merupakan jemaat muda yang terletak di wilayah arus perpindahan penduduk yang menyebabkan jemaat ini mengalami penambahan jumlah anggota jemaat yang sangat signifikan dari waktu ke waktu. Untuk membantu jemaat ini bertumbuh ke depan baik secara kuantitas maupun kualitas, jemaat perlu melihat kembali apa yang telah dilalui sebelumnya sebagai bahan refleksi dan evaluasi. Penulisan ini bertujuan untuk melihat dinamika kehidupan pelayanan selama kurang lebih tujuh tahun jemaat ini mandiri serta untuk merefleksikan kehidupan pelayanan jemaat dengan berdasarkan kepada kehidupan jemaat Kristen mula-mula. Tujuan ini dicapai dengan menggunakan metode penelitian kualitatif serta analisa data primer dan sekunder yakni data-data observasi, wawancara, arsip gereja dan buku-buku yang memuat catatan pembentukan Jemaat Anak Sulung. Karya ilmiah ini ditulis menggunakan pendekatan klasik yakni penulisan didasarkan pada hal-hal yang telah diperbuat gereja sebagai suatu organisasi, tokoh-tokoh pemimpin gereja serta diperlengkapi dengan arsip gereja. Berdasarkan hasil penelitian ini, ditemukan bahwa pelayanan Anak Sulung mengalami pencapaian dan juga tantangan-tantangan yang mewarnai perjalanannya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yakni lingkungan, sosial budaya serta pendidikan dan sumber daya manusia. Pertambahan jumlah anggota jemaat ini mempengaruhi pelayanan di dalam gereja seperti pengembangan pembangunan fisik dan perubahan program-program pelayanan setiap tahunnya. Namun, penambahan secara kuantitas ini tidak sepenuhnya menunjukkan bahwa jemaat ini telah bertumbuh secara kualitas sebab sebagai jemaat yang muda, gereja ini masih harus melakukan berbagai pembenahan untuk pelayanan yang lebih baik ke depan. Perjalanan kehidupan dan pelayanan jemaat Anak Sulung Sikumana juga tidak terlepas dari peranan Roh Kudus yang terus bekerja di dalam jemaat-Nya. Jemaat ini juga mencirikan suatu bentuk persekutuan yang kokoh serta dipimpin oleh abdi-abdi Allah yang menjalankan tugasnya sesuai dengan teladan kepemimpinan Kristus.
ONISIFORINITA INYA KADORA
2021 · Book · Open Access
Praktik kawin tangkap adalah salah satu cara memperistri seorang perempuan oleh masyarakat di Sumba. Para perempuan yang ditangkap secara paksa merasakan luka batin, trauma, ketakutan, dan keluarga juga mengalami kesusahan dalam bidang ekonomi. Realitas di GKS Jemaat Waidamisi banyak korban praktik kawin tangkap tidak terdata, namun berdasarkan data dari tahun 2000-2021 ada 4 orang korban praktik bawa lari secara paksa, 3 tidak dapat lari dari perkawinan tersebut, 1 berhasil lari dan kembali ke keluarganya. Perempuan yang ditangkap berumur 20-24 tahun dan telah mereka menamatkan pendidikan di Sekolah Menangah Atas. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab praktik kawin tangkap yang mempengaruhi pelayanan pastoral gereja kepada perempuan korban, dan merefleksikan persoalan ini menurut tinjauan pastoral yang menolong perempuan korban praktik kawin tangkap, serta bagaimana melakukan pelayanan pastoral yang baik untuk korban. Untuk mencapai tujuan tersebut penulis menggunakan penelitian lapangan dengan mewawancarai pihak gereja, pemerintah dan para perempuan korban praktik kawin tangkap. Hasil penelitian menunjukan bahwa perempuan sebagai korban praktik tersebut sangat terpuruk. Pendampingan pastoral gereja bagi mereka belum terlalu fokus kepada korban dan dibuat dalam ibadah PKS (Pembacaan Kitab Suci) sehingga korban tidak secara bebas menceritakan apa yang dirasakan. Gereja merupakan tempat pelayanan pastoral dijalankan, sehingga tugas gereja menguatkan mereka yang ada dalam keterpurukan untuk terus bertumbuh secara baik. Pendampingan gereja juga untuk membebaskan para perempuan yang ada dalam ketakutan. Perempuan dan laki-laki adalah ciptaan yang segambar dengan Allah, sehingga baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama. Dalam prakarsa pernikahan juga laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk menentukan dengan siapa mereka akan menikah. Saat Yesus menolong para perempuan yang ada dalam keterpurukan maka gereja juga memiliki tugas untuk menolong perempuan.
MEGA SILVIA BRIA
2021 · Book · Open Access
Ritus Hatama Kakaluk merupakan ritus penyembuh sakit. Hatama Kakaluk secara harafiah yakni memasukkan kesaku atau ruangan, artinya bahwa orang yang sakit dipisahkan dari keluarga dan akan tinggal di dalam rumah adat atau rumahnya sendiri. Selama proses penyembuhan perempuan dilarang untuk ikut terlibat dalam merawat. Hal ini karena perempuan dianggap sebagai yang lemah, kotor dan dapat memperparah kondisi dari orang yang sakit. Selain itu, pemahaman lain bahwa perempuan itu sama dengan Hawa sehingga jika mereka masuk maka dapat menyebabkan kesalahan seperti Hawa. Ritus ini masih dilakukan oleh Jemaat GMIT Imanuel Maktihan-Klasis Malaka. Hal ini telah merendahkan perempuan sebagai penolong yang sepadan dan Segambar dan SerupadenganAllah. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi pemahaman Jemaat yang masih melakukan ritus yang mendiskriminasikan satu pihak dan merefleksikan persoalan ini menurut teologi gender serta bagaimana memberikan pemahaman yang tepat mengenai Ritus Hatama Kakaluk di Jemaat GMIT Imanuel Maktihan-Klasis Malaka. Tujuan ini dapat dicapai dengan satu penelitian dan metode yang digunakan adalah metode penelitian fenomenologi. Metode penelitian ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman hidup dan persepsi yang muncul dari suatumasyarakat mengenai fenomena tertentu, bertujuan untuk memperoleh makna yang mandalam terhadap masalah Ritus Hatama Kakaluk di Maktihan. Hasil penelitian menunjukan bahwa permasalahan gender yang terjadi dalam ritus Hatama Kakaluk disebabkan beberapa faktor yaitu budaya Matriakat, di mana posisi perempuan lebih tinggi dari laki-laki, sehingga timbul kecemburuan, faktor penafisiran terhadap teks-teks Alkitab, di mana menggunakan teks Kejatuhan Manusia sebagai alasan pelarangan bagi perempuan dan faktor Ekonomi. Adapun dampak yang ditimbulkan dari faktor-faktor ini yaitu adanya ketidakadilan gender. Ritus Hatama Kakaluk menjadi tempat untuk Jemaat mendapatkan kesembuhan namun karena praktiknya yang mendiskriminasi satupihak yaitu perempuan maka Gereja haruslah hadir untuk memberikan pemahaman kepada Jemaat mengenai kesetaraan gender baik itu laki-laki dan perempuan. Agar jemaat dapat memahami bahwa praktik yang selama ini mereka jalani adalah salah (pelarangan terhadap perempuan sebagai yang kotor dan lemah serta sebagai pembawa kekacauan seperti Hawa).
ROMELTON N. SELAN
2021 · Book · Open Access
Skripsi ini ditulis oleh Romelton N Selan sebagai pra-syarat dalam menyelesaikan perkuliahan. Judul yang diberikan untuk skripsi ini yaitu “Efektivitas Penggembalaan Pra-Nikah” dengan sub judul yaitu “ Suatu Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Efektivitas Penggembalaan Pra-Nikah di Jemaat GMIT Ararat Haukoto Kalsis Kota Kupang Barat”. dalam penulisan skripsi ini, penulis dibimbing oleh Pdt Endang D. Koli M.Si Teol sebagai pembimbing 1 dan Pdt Dr. Welfrid F. Ruku, M.Th, MA, sebagai pembimbing 2. Sebelum memasuki pernikahan calon mempelai akan diberikan pemahaman tentang arti menikah dan pemahaman berkeluarga, sebagai bekal dalam membentuk rumah tangga yang akan mereka hadapi setelah menikah melalui pastoral gereja, yakni Penggembalaan Pra-Nikah. Namun, pemberian bekal melalui Penggembalaan Pra-Nikah yang tidak efektif memberi pengaruh dalam kehidupan pernikahan, karena tidak dapat membantu mereka untuk membangun rumah tangga dengan baik. Kekudusan pernikahan yang semestinya menciptakan rumah tangga yang saling melengkapi di dalam Kristus, menjadi tidak berarti bagi sebagian jemaat masa kini. Hal ini perlu menjadi perhatian, karena fenomena ini terjadi dalam kalangan gereja, terkususnya Jemaat GMIT Ararat Haukoto. Faktor-faktor yang menimbulkan masalah ini terjadi karena kurangnya pemahaman jemaat tentang materi Penggembalaan Pra-Nikah. Pemberian materi berkisar pemahaman teologis selama 3 minggu dan kebutuhan non teologis hingga mencapai batas waktu selama kurang lebih 3 bulan. Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, yaitu materi tentang teologis dan non teologis hanya diberikan dalam 2-3 minggu saja. Hal ini kemudian menghasilkan kurangnya pemahaman calon mempelai dalam rumah tangga dan berdampak pada kehidupan rumah tangga mereka. Adapun tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui konteks jemaat Ararat Haukoto di mana pengembalaan pra-nikah bagi calon suami isteri dipraktikan, untuk mengetahui proses dan efektivitas Penggembalaan Pra-Nikah bagi calon suami isteri di Jemaat GMIT Ararat Haukoto, serta untuk mengetahui dan mengembangkan refleksi teologis pastoral terhadap efektivitas pengggembalaan pra-nikah bagi calon suami isteri di Jemaat GMIT Ararat Haukoto Klasis Kota Kupang Barat. Untuk menjawab tujuan dari penulisan skripsi ini, maka penulis menggunakan metode yang dibagi dalam dua bagian yaitu metode penelitian yang mencakup : Penelitian pustaka, dan penelitian lapangan serta observasi, atau teknik pengumpulan data yang paling utama dalam penelitian. Di mana adanya pengamatan atau peninjauan secara langsung terhadap objek untuk mengetahui kebenarannya. Selain observasi, penulis juga menggunakan wawancara dengan teknik snow balling, Di mana penelitian akan berakhir ketika tercapai kejenuhan data atau tidak ada data yang baru lagi dari informan yang diwawancara. Adapun metode yang kedua yakni metode penulisan, yaitu deskriptif, analitis, dan reflektif. Setelah melakukan penelitian dan analisis, penulis mendapati bahwa Penggembalaan Pra-Nikah yang dilakukan ternyata tidak efektif. Hal ini terjadi karena pemberian materi yang kurang efektif, disertai dengan waktu yang terbatas, sehingga menghasilkan kurangnya pemahaman dan penerapan jemaat terhadap materi Penggembalaan Pra-Nikah dalam rumah tangga mereka. Kenyataan yang demikian mengundang perhatian, terutama gereja untuk bagaimana merefleksikan kembali peran, fungsi dan kehadiran gereja ditengah-tengah jemaat. Dalam kaitannya dengan fenomena yang dikemukakan di atas, gereja perlu untuk menata kembali tugas pastoral, yakni Penggembalaan Pra-Nikah. Karena itu, telah diuraikan juga sebuah materi dan metode yang diusulkan untuk mewujudkan penggembalaan Pra-Nikah yang efektif.
DARNIYATI AMTIRAN
2021 · Book · Open Access
Gereja hadir di tengah dunia sebagai perpanjangan tangan Allah. Tentu ada tugas-tugas pelayanan yang gereja harus lakukan sebagai bentuk tanggung jawab kepada Allah. Salah satunya adalah memperhatikan semua orang yang membutuhkan, menolong mereka dengan cara-cara atau aksi-aksi gereja dalam mengatasi mesalah kehidupan semua orang tanpa terkecuali. gereja hadir dengan ciri atau identitas tersendiri yang berbeda dari dunia, dan itu terpola dari kehidupan gereja mula-mula yang dapat kita lihat dari cara menjalani kehidupan dalam Kitab Kisah Para Rasul. Gereja mula-mula hadir dengan identitas atau ciri yang membedakan mereka dengan kelompok lain. Identitas itu seperti adanya prinsip “kepunyaan bersama”, segala milikku adalah milikmu, mereka hidup dengan saling melayani, dan tidak mengabaikan orang lain dalam pelayanan, mereka menjalani kehidupan dengan saling memperhatikan kesusahan orang lain, lalu mereka memberikan sumbangan dalam arti ada aksi yang mereka lakukan untuk menolong sesama mereka yaitu orang-orang yang membutuhkan, serta kehidupan yang mereka jalani penuh dengan rasa hormat tanpa memandang adanya perbedaan suku agama dan ras. Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) hadir sebagai suatu organisasi tidak terlepas dari permasalahan ekonomi, bencana, konflik, baik itu dari jemaat GMIT sendiri atau dari saudara-saudara yang bukan seiman. Salah satu masalah yang penulis kaji dalam tulisan ini adalah identitas sosial gereja (GMIT). Dalam aksi-aksi sosial yang GMIT lakukan untuk menanggapi masalah sosial masyarakat secara umum, apa ciri atau identitas gereja yang membedakan pelayanannya dengan agama lain, dengan kelompok lain, atau denominasi lain. Tentu keterlibatan sosial gereja utamanya harus didasarkan pada nilai teologis. Oleh karena itu dengan mendalami Kitab Kisah Para Rasul terutama melihat pada kehidupan sosial gereja mula-mula, penulis berupaya mencari dan menemukan sumbangsi Identitas sosial jemaat GMIT. Untuk mencapai maksud tersebut, penulis menggunakan metode penulisan deskriptif analisis, reflektif, agar memperoleh kerygma sesuai Kitab Kisah Para Rasul dan menggunakan metode studi pustaka sehingga, kerygma Kitab Kisah Para Rasul dapat diterapkan pada konteks GMIT masa kini.
INRI IMANUEL SONY BOY BENU
2021 · Book · Open Access
Sebelum adanya superbook, pengajar Oemathonis Nait menggunakan bahan ajar Pelayan Anak Remaja (PAR) yang diterbitkan oleh Majelis Sinode GMIT. Bahan ajar tersebut cukup membantu pengajar Sekolah Minggu dalam melakukan pendidikan bagi anak. Tetapi dalam perjalanannya ditemukan bahwa bahan ajar tersebut kurang efektif dalam pendidikan iman anak. Bahan ajar tersebut cenderung membuat metode pembelajaran menjadi monoton. Kurangnya dialog antara pengajar dengan anak-anak bimbingannya. Anak-anak hanya menjadi pendengar dan pengajar yang memiliki peran aktif. Hal ini mengakibatkan pengajar tidak mengetahui sejauh mana pemahaman anak-anak Sekolah Minggu terhadap setiap materi yang diberikan. Melihat hal ini maka Jemaat Oemathonis Nait memutuskan untuk menggunakan kurikulum superbook sebagai media bantu bagi pengajar untuk mendidik anak-anak Sekolah Minggu. Dalam pemakaiannya, superbook masih memiliki beberapa kendala yang membuat pemakaiannya masih belum maksimal sehingga penulis ingin melihat bagaimana efektivitas dari penggunaan kurikulum superbook yang ada di Jemaat GMIT Oemathonis Nait, Klasis Kupang Barat. Dalam melakukan penelitian kualitatif, penulis melakukan pengamatan secara langsung dengan terlibat dengan aktivitas bersama terhadap hal-hal yang berhubungan dengan penelitian untuk melihat atau mengamati perubahan sosial yang tumbuh dan berkembang kemudian dapat dilakukan penilaian atas perubahan tersebut, selain itu dalam menyajikan hasil penelitian secara sistematis, metode penulisan yang dipakai adalah metode deskriptif, analitis dan interpretatif. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, penulis menemukan bahwa superbook cukup membantu dalam mempersiapkan bahan ajar, karena bahan ajar yang diberikan dapat dipakai selama 1 bulan. Namun ada beberapa kendala seperti materi superbook yang tidak dibagi menurut golongan usia anak, sehingga para guru harus mengolah kembali materi yang ada dan menyampaikannya kepada anak Sekolah Minggu. Kendala lain yang dihadapi lebih kepada kesiapan dari para guru dalam mengolah materi superbook yang ada. Penulis menemukan bahwa perlu adanya persiapan diri dari pengajar dan juga Pendalaman Alkitab untuk membantu pengajar dalam mempersiapkan materi yang ada sehingga materi yang ada dapat dipahami oleh anak-anak Sekolah Minggu.
CICI NOMLENI
2021 · Book · Open Access
Stunting merupakan kondisi di mana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Salah satu masalah sosial yang terjadi di lingkungan gereja adalah masalah kesehatan jemaat. Masalah yang diangkat penulis ialah persoalan Stunting di Jemaat GMIT Imanuel Kuatnana. GMIT Imanuel Kuatnana terletak di Desa Tetaf, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Jemaat ini memiliki 52 rayon dengan jumlah jemaat 3620 jiwa. Termasuk di dalamnya adalah anak-anak yang mengalami stunting dengan jumlah 164 anak. Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk melihat bagaimana gereja menyikapi dan menangani masalah stunting di Jemaat GMIT Imanuel Kuatnana. Metode yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah ini terbagi atas dua yaitu metode penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang berlokasi di Jemaat GMIT Imanuel Kuatnana. Populasi dalam penelitian ini ialah orangtua anak yang menderita stunting dengan jumlah sampel yakni 20 orang dari 164 orang tua anak. Sedangkan untuk metode penulisan memakai metode deskriptif analitis. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data penulis menemukan bahwa gereja belum sepenuhnya terlibat secara sosial dalam mengatasi persoalan Stunting. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ketidakpahaman gereja dan jemaat mengenai masalah stunting. Faktor lainnya yang juga mempengaruhi ialah faktor ekonomi, kesehatan dan budaya masyarakat GMIT Imanuel Kuatnana. Dari hasil analisis yang ada, penulis menemukan bahwa gereja harus terlibat secara sosial dalam menanggapi masalah stunting dengan meningkatkan pemahaman jemaat mengenai Stunting dengan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi karena anak-anak yang menderita stunting adalah bagian dari gereja yang merupakan kesatuan Tubuh Kristus.
THRESIA NINA ORA
2021 · Book · Open Access
ABSTRAK Pelaksanaan adat suus oef (air susu ibu) yang merupakan bagian dari perkawinan adat di Desa Nekmese, yang masih dilakukan sampai sekarang. Adat suus oef merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh prosesi perkawinan adat, hal ini dikarenakan adat suus oef merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan sebelum melakukan pernikahan kudus. Namun pada pelaksanaannya penentuan besaran suus oef sangat besar sehingga keluarga dari mempelai laki-laki menjadi kesulitan untuk memenuhinya, sehingga yang terjadi adalah beberapa anggota jemaat GMIT Ebenhaezer Naimuti yang sudah tinggal bersama bahkan sudah memiliki anak, namun mereka belum menikah secara sah di gereja. Hal ini dikarenakan belum memenuhi adat suus oef atau belum menyelesaikan adat, sehingga pasangan yang sudah tinggal bersama namun belum menikah secara sah di gereja. Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang praktek adat suus oef, dengan model teologi kontekstual yang diperkenalkan oleh Bevans yaitu model antropologis. Bevans melihat dan memberi perhatian utama pada proses pelestarian jati diri budaya oleh seorang pribadi yang beriman Kristen. Perhatian utamanya pada pemahaman ajaran agama Kristen sebagai seorang pribadi yang berpusat pada nilai dan kebaikan pribadi manusia. Selain itu juga terbuka dengan budaya, namun tetap mempertahankan iman Kristen. Untuk itu penulis menggunakan metode penelitian lapangan (Field research) dan penelitian kepustakaan (Library research), dan kemudian menganalisa dengan menggunakan teknik deskripsi-analisis-refleksi. Adat suus oef (air susu ibu) yang masih dilakukan oleh masyarakat Desa Nekmese, terkhususnya Jemaat GMIT Ebenhaezer Naimuti, Klasis Amarasi Timur. Sejumlah jemaaat, majelis jemaat maupun Pendeta, mengakui bahwa pelaksanaan praktek adat suus oef tidak hanya berdampak bagi generasi penerus, tetapi juga berdampak sampai jalannya pelayanan di jemaat seperti pernikahan mereka yang belum diberkati di gereja. Hal ini juga membuat jemaat menjadi resah karena jemaat yang belum melakukan pernikahan karena belum menyelesaikan adat. Pemberian adat suus oef diberikan sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih kepada ibu dan se’ nono untuk ayah. Pelaksanaan adat suus oef jika dilakukan dengan baik maka akan mendapatkan kesejahteraan dan berkat yang melimpah, namun jika tidak melakukannya dengan baik maka akan mendapat masalah dan tidak akan mendapat keberuntungan dalam berumah tangga. Penulis menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan adat suus oef. Salah satu cara agar pelaksanaan praktek adat suus oef tetap dijalankan adalah dengan tetap memberikan keringanan tuntutan adat, agar pelaksanaan praktek adat suus oef ini dilakukan dengan baik. Penulis kemudian merefleksikan dari salah satu nilai yang terkandung dalam pelaksanaan adat suus oef, yaitu nilai hukum hormat/penghormatan yang merupakan dasar dari pelaksanaan adat suus oef (air susu ibu). Nilai hukum hormat/penghormatan kepada orangtua ini tidak terletak pada seberapa besar besaran nilai yang diberikan, tetapi lebih kepada hasil akhir dari pelaksanaan adat tersebut, yang dapat memberikan kesejahteraan dan berkat untuk orangtua dan juga bagi perjalanan rumah tangga.
DELSI MARTHA CHRISTIANA NUNNENO
2021 · Book · Open Access
Korupsi adalah salah satu masalah sosial yang terjadi di hampir seluruh lapisan masyarakat.Hal ini membuat korupsi dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa (Extraordinary Crime).Penyebarannya sistematis mulai dari pusat sampai ke daerah-daerah dan desa-desa bahkan melibatkan pilar utama kekuasaan bangsa yakni Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif. Di NTT sendiri tak perlu diulang-ulang karena hampir setiap hari kita membaca di surat kabar maupun secara online. Gereja khususnya GMIT terpanggil secara aktif untuk melibatkan diri dan memiliki kepekaan dalam usaha memberantas masalah-masalah ini terutama dalam realitas sosial. Penulis dalam mengkaji masalah ini menggunakan metode penelitian kualitatif khususnya studi pustaka. Jon Sobrino melihat bahwa gereja harus turut ambil bagian dalam mengatasi masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat.Namun ketelibatan gereja bukan hanya keterlibatan humanis semata tetapi juga keterlibatan teologis.Ia berangkat dari konteks Amerika Latin khususnya El Salvador dan mengantarkannya untuk berbicara mengenai Yesus yang Solider.Penulis mengaitkan konsep ini dengan pemikiran J.B. Banawiratma mengenai proses Teologi Sosial untuk dianalisis melalui empat aspek teologi Sosial yaitu aspek sosial, kultural, historis dan personal. Analisis ini menghasilkan tiga pokok penting tentang solidaritas menurut Sobrino yaitu sumber dari solidaritas adalah realitas, solidaritas terbentuk dari iman komunitas dan bukan individu dan Yesus dari Nazaret menjadi titik tolak melakukan solidaritas. Penulis kemudian melakukan refleksi teologis dan mengaitkan dengan teks Lukas 4:16-21 yang merupakan bagian cerita tentang Yesus yang ditolak di Nazaret. Teks ini membuktikan bahwa Allah selalu melihat realitas. Ia mengutus anak-Nya untuk memberitakan kabar baik ke dalam realitas hidup manusia yang penuh ketidakadilan dan keputusasaan.Kabar baik adalah juga kehadiran untuk orang miskin, orang-orang tawanan, orang-orang buta dan yang tertindas. Artinya bukan hanya mengenai kabar baik lewat pemberitaan firman atau lewat perkataan tetapi aksi nyata yang kita lihat lewat pengajaran, penyembuhan dan mujizat yang dibuat Yesus.Namun gereja mesti juga menjaga sikap kritis atas realitas yang dihadapi. Gereja yang bercermin dari Yesus juga harus menyadari bahwa ia sama seperti Yesus berbeda dari dunia. Namun terlepas dari perbedaan itu, gereja lahir di dalam realitas dunia, maka gereja tidak dapat mengabaikan tugas panggilannya di dunia. Ini berarti khotbah atau pelayanan nyata yang diberikan gereja boleh sama tetapi punya nilai dorong yang berbeda.
STIFANI NATALIA TANOF
2021 · Book · Open Access
Kemajemukan yang ada di Indonesia membuktikan bahwa Indonesia berada dalam kemajemukan global. Tetapi dalam kenyataannya, keberagaman ini menjadi ancaman. Salah satu pemicu munculnya masalah ialah keberagaman agama dan ajarannya masing-masing. Hal ini terlihat dari pemahaman pemuda GMIT Syalom Kupang tentang keselamatan di tengah-tengah kemajemukan. Pemuda GMIT Syalom Kupang tidak setuju bahwa keselamatan juga diperoleh umat beragama lain walaupun pemuda GMIT Syalom Kupang setuju bahwa keselamatan tidak terbatas pada suatu agama. Pemuda GMIT Syalom Kupang masih membatasi keselamatan Allah yang universal dalam pemahaman mereka sebagai seorang kristiani. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membahas konsep berteologi Karl Rahner yakni Kristen Anonim yang sesuai dengan konsep berteologi di dalam GMIT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep teologi Karl Rahner yakni “Kristen Anonim” yang dapat direfleksikan dan manfaatnya bagi pemuda GMIT Syalom Kupang di dalam memahami dan merumuskan konsep keselamatan yang juga diterima oleh umat beragama lain. Metode yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah ini terbagi atas dua yaitu metode penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang berlokasi di Jemaat GMIT Syalom Kupang. Populasi dalam penelitian ini ialah pemuda-pemudi tingkat jemaat dengan jumlah sampel yakni 60 orang dari 600 orang. Sedangkan untuk metode penulisan memakai metode deskriptif-deduktif. Artinya metode yang dipakai ini akan membahas terlebih dahulu data-data yang bersifat umum dan dilanjutkan dengan penuturan dan penafsiran data atas fenomena yang ada. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, penulis menemukan bahwa pemuda GMIT Syalom Kupang tidak setuju bahwa keselamatan diperoleh oleh umat beragama lain jika tidak menjadi Kristen walaupun pemuda GMIT Syalom Kupang setuju bahwa keselamatan tidak terbatas pada suatu agama. Pemahaman pemuda GMIT Syalom Kupang ini ternyata dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni usia, orang tua dan keluarga, lingkungan dan sesama pemuda menjadi faktor yang mempengaruhi pemahaman pemuda dalam berpikir. Berdasarkan hasil analisis yang ada, penulis melihat bahwa konsep Teologi Karl Rahner yang sesuai dengan konsep GMIT dalam menjalankan misi-Nya tidak dimaknai dengan baik. Konsep GMIT dalam berteologi ini menunjukkan bahwa GMIT terbuka lebih fleksibel dan lebih terbuka dalam menerima keberadaan umat beragama lain tetapi tetap mempertahankan ciri khas dari setiap agama. Teori Rahner ini tentu menjadi relevan dan bisa dijadikan bahan untuk memperbaiki pemahaman pemuda GMIT Syalom Kupang, yang sedang menjalankan misi Allah dalam persekutuan bersama pemuda agama lain. Teologi “Kristen Anonim” menjadi konsep teologis yang menarik bagi pengembangan wacana dan wawasan pemuda GMIT Syalom Kupang
LUDYA WADU
2021 · Book · Open Access
Asumsi yang diuji oleh peneliti adalah hubungan antara agama dan pekerjaannya. Hubungan antara agama dan pekerjaan tercermin dari perilaku seseorang dalam bekerja. Skripsi ini merupakan hasil penelitian lapangan yang membahas tentang hubungan agama dan etos kerja seseorang dengan judul “Etika Protestantisme (Studi Sosio-Teologis Terhadap Etika Protestantisme Max Weber dan Implikasinya bagi Etos Kerja di Jemaat GMIT Getsemani Aimere)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan agama dan etos kerja Jemaat GMIT Getsemani Aimere serta dampaknya pada perekonomian jemaat. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode pendekatan fenomenologi yakni mengamati fenomena yang terjadi, mendeskripsikan dan menganalisis. Penulis menganalisis hubungan agama dan etos kerja jemaat menggunakan teori Max Weber tentang Etika Protestantisme serta teori sekunder sebagai pendukung yakni teori John Calvin tentang kerja sebagai panggilan. Pandangan dan sikap yang positif akan membentuk etos kerja yang baik. Etos kerja dapat dibentuk ketika seseorang memahami kerja sebagai ‘panggilan’. Dari hasil penelitian di Jemaat GMIT Getsemani Aimere khususnya suku Sabu menunjukkan bahwa etos kerja yang baik dipengaruhi oleh budaya dan agama. Budaya mengajarkan kerja keras dan agama mengajarkan sikap yang baik dalam bekerja serta arti kerja yang sesungguhnya. Akibat dari latar belakang yang berbeda ini sebagian besar jemaat memiliki tujuan kerja hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Arti kerja sebagai paggilan, tujuan bekerja tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup melainkan untuk melayani-Nya dan dunia. Pemaknaan akan arti kerja sebagai panggilan mempunyai hubungan erat dengan spiritualitas seseorang. Spiritualitas yang baik akan mendorong lahirnya Etika Protestantisme. Etika Protestantisme ini merupakan bentuk ibadah kepada Tuhan berkaitan dengan kerja.