NI SARAH MEDO LUDJI
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Jemaat GMIT Semau Tengah Utara merupakan Jemaat yang terdiri dari Mata Jemaat Elim Uitao dan Mata Jemaat Ora et Labora Uitao. Jemaat Ora et Labora Uitao dulunya adalah Jemaat Elim Uitao yang memilih keluar dikarenakan beberpa persoalan di mana masalah politik menjadi puncak dari konflik yang terjadi. Kurangnya pendeta/pelayan pada masa itu menyebabkan ketegangan di antara keduanya seolah-olah tenggelam begitu saja. Di tahun 2019, kedua jemaat ini disatukan menjadi Jemaat GMIT Semau Tengah Utara dalam relasi yang masih bersitegang. Kedua jemaat ini kembali disatukan dalam satu jemaat pelayanan yang akhirnya berdampak pada pelayanan dan juga relasi diantara keduanya.
Perpecahan antara dua jemaat ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain situasi politik, kebijakan gereja secara sinodal terkait sikap politik yang belum terlalu jelas. Faktor lainnya ialah model kepemimpinan yang tidak lagi memiliki rasa percaya dan juga cara pengelolaan konflik yang tidak tepat. Adapun akibat dari konflik ini secara langsung berakibat pada perpecahan di dalam jemaat, dan akibat secara tidak langsung pada relasi diantara kedua jemaat yang kurang harmonis pasca konflik.
Sebagai gereja kita tidak dapat menghindarkan diri kita dari yang namanya konflik. Upaya yang bisa dilakukan gereja dalam menghadapi konflik ada pada proses pengelolaannya. Sebuah konflik yang dapat dikelolah dengan baik akan mendapatkan hasil yang baik bagi kedua belah pihak yang bertikai. Sedangkan proses pengelolaan konflik yang tidak tepat akan berimbas pada lahirnya konflik baru. Selain proses pengelolaan konflik, hal yang penting dalam sebuah konflik gereja adalah pemulihan relasi pasca konflik. Pemulihan relasi ini tidak hanya berdampak pada psikologis anggota jemaat tetapi juga pada spiritualitas mereka.
AYU LESTARI MENOH
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Kerajaan Allah adalah inti dari pemberitaan Yesus. Kerajaan Allah tidak hanya ada dalam Perjanjian Baru tetapi juga dalam Perjanjian Lama. Kerajaan Allah dipahami sesuai dengan konteks waktu itu, tetapi pada umumnya adalah sebagai sebuah pembaharuan hidup manusia. Pemberitaan tentang Kerajaan Allah oleh Yesus menekankan pada keselamatan eskatologi. Keselamatan yang merujuk pada masa kekinian, bahwa keselamatan sudah mulai terjadi sekarang ini. Kerajaan Allah bukan sesuatu yang abstrak bagi manusia tetapi sudah dan akan dialami oleh manusia. Dalam kehidupan jemaat, Kerajaan Allah kerap dihubungkan dengan hal penghukuman bagi manusia. Pandangan ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang ada di sekitar jemaat. Jemaat GMIT Lahairoi Kuanheun, Klasis Kupang Barat, memahami Kerajaan Allah sebagai sebuah penghakiman dan Pandemi Covid 19 sebagai hukuman dan tanda dari datangnya Kerajaan Allah, sehingga Kerajaan Allah menjadi hal yang menakutkan bagi jemaat. Pemahaman ini mendorong penulis untuk meneliti lebih jauh tentang faktor-faktor penyebabnya. Mengapa jemaat memahami bahwa Kerajaan Allah, yang hanya berpusat pada penghukuman? Apa dampak yang timbul dari pemahaman yang demikian? Tulisan ini dikaji dalam metode penelitian deskriptif-analitif yang diharapkan dapat mendeskripsikan pemahaman jemaat serta menganalisisnya secara ilmiah. Berdasarkan hasil penggambaran dan analisa, penulis menemukan bahwa jemaat memahami Kerajaan Allah secara sempit yaitu sebuah penghukuman, pelayanan dan sikap hidup. Pemahaman jemaat ini dipengaruhi oleh ajaran dari Yohanes Pembaptis yang lebih menekankan pada penghukuman pada akhir zaman. Pemahaman jemaat juga turut dipengaruhi oleh kehadiran Persekutuan Doa yang ada di lingkungan jemaat. Pemahaman ini menjadi penting bagi Gereja dalam memberi pengajaran terhadap jemaat. Memberitakan bahwa Kerajaan Allah tidak semata-mata tentang sebuah penghukuman saja, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan sosial manusia. Kerajaan Allah bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan bagi Jemaat Kata Kunci: Kerajaan Allah, Hukuman, Ajaran.
DENI MARGARITA NUBATONIS
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Tenunan merupakan salah satu jenis karya seni budaya khas Indonesia yang patut untuk dilestarikan. Tenunan yang dilestarikan merupakan warisan budaya nenek moyang kepada orang-orang atau suku-suku yang ada di satu tempat. Pada kain-kain tenunan terajut gambar motif-motif yang mengandung makna dan nilai budaya, salah satunya tenunan motif Tokek dalam suku Amanuban di Timor Tengah Selatan. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti tentang pemahaman jemaat GMIT Soleman Neonmat terhadap, makna dan nilai, dan manfaat tenunan motif Tokek.
Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara dan pengamatan terhadap objek penelitian. Penulis juga menggunakan metode penulisan deskriptif- Analisis-reflektif untuk menguraikan hasil penelitian yang di dapat. Penulis juga menggunakan teori Bevans yaitu antropologi untuk membantu penulis menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam tenunan motif tokek.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman orang Timor tentang Tokek mengarah kepada totem orang Timor. Buaya dipercaya sebagai asal usul orang Timor sedangkan Tokek sebagai identitas orang Timor, dimana selalu ada tokek yang tingal di setiap rumah orang Timor. Bagi orang Timor Tokekmenggambarkan identitas mereka.Berkaitan dengan hal ini maka Alkitab juga berbicara tentang identitas, bagaimana Allah mengenal kita sebagai umat kepunyaanNya. Allah menciptakan lalu memberikan mandat kepada manusia agar terus melakukan dan meneruskan mandat Allah. Lewat tenunanMotif Tokek mengajarkan orang Timor bagaimana memaknai akan identitas dirinya yang siap mengakui dirinya dimanapun berada untuk menjalankan tugas yang diemban dari Allah.
Kata Kunci: Timor,Tenunan,Tokek, Motif Tokek, Identitas
EUNIKE MARIA LADA
2022 · Thesis · Open Access
Siklon Seroja merupakan jenis Siklon ketujuh dalam musim siklon wilayah Australia. Badai ini dapat menimbulkan dampak yang merugikan seperti kerusakan yang masif pada daerah yang dilandanya, memakan korban jiwa, dan menyebabkan trauma pada korban yang selamat dari badai Siklon Seroja. Pada tanggal 3 hingga 5 April 2021, badai Siklon Seroja telah terjadi dan melanda wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk di dalamnya Jemaat GMIT Imanuel Oesao. Pasca terjadinya badai ini, GMIT Imanuel Oesao melakukan pelayanan trauma healing pada Jemaat GMIT Imanuel Oesao yang selamat dari badai Seroja. Trauma healing adalah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan trauma yang dialami oleh seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana efektifitas proses trauma healing yang dilakukan oleh gereja untuk menolong jemaat yang mengalami trauma. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif berupa wawancara dan pengamatan untuk memperoleh data yang akurat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses trauma healing yang dilakukan GMIT Imanuel Oesao bagi jemaat yang selamat dari badai Siklon Seroja belum membuat trauma yang dialami jemaat berkurang. Hal ini dikarenakan pelayanan trauma healing hanya dilakukan satu kali dan para presbiter yang tidak memiliki pedoman dalam melakukan trauma healing. Allah sebagai penyembuh adalah landasan dari tindakan gereja dalam melakukan trauma healing bagi jemaat korban badai Siklon Seroja. Atas dasar ini gereja perlu melakukan pelayanan trauma healing yang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan jemaat secara holistik. Dalam melakukan pelayanan trauma healing, gereja perlu membekali para presbiter dengan keahlian dasar pelayan pendampingan pastoral. Gereja adalah gereja yang mengalami trauma sekaligus gereja yang mewartakan kesembuhan gereja hadir sebagai tempat perlindungan yaitu rumah yang aman dan ramah bagi korban pasca bencana badai Siklon Seroja, dan membangun kemitraan dengan pemerintah dalam mitigasi bencana, sehingga korban pasca bencana badai Siklon Seroja dapat terus melanjutkan hidup dan pulih dari trauma. Kata Kunci: Badai Seroja, Trauma, Trauma Healing, Pastoral.
MELAN ROSYANTI LANI
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Jemaat GMIT Yegar Sahaduta Oenaek masih kental dengan tradisi sebagai
identitas mereka dan mewarisi untuk menjaga persekutuan mereka. Salah satu tradisi
yang kental adalah Tradisi Mole Dame. Tradisi Mole Dame dilakukan untuk
mendamaikan kedua keluarga karena anak mereka telah kawin lari dan atau hamil di
luar nikah. Tradisi Mole Dame sangat membantu untuk menyelesaikan masalah yang
ada, akan tetapi, untuk sampai pada tahap perdamaian terdapat sejumlah sanksi adat,
yang sudah ditetapkan dalam peraturan adat. Kendala ini membuat beberapa pasangan
tidak sampai tahap pernikahan secara gerejawi. Maka dari itu, masalah yang terjadi
adalah kedua pasangan hidup tak serumah, anak-anak lahir tanpa keluarga yang utuh,
bahkan persoalan ini mempengaruhi persekutuan jemaat karena pasangan berada dalam
satu jemaat dan suku yang sama.
Skripsi ini bertujuan untuk mengupayakan Injil dan Tradisi Mole Dame dapat
berjalan bersama-sama. Tradisi ini penting dilakukan, namun tradisi ada bagian yang
harus dikritisi dan diperbarui sehingga benar-benar tradisi ini memuliakan nama Tuhan.
Terhadap masalah ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dan penelitian
lapangan. Teori yang dipakai, yakni model sintesis oleh Stephen Bevans, yakni
mengupayakan berteologi untuk menemukan jalan tengah atau menjawab masalah
dengan pertimbangan tetap menerima Tradisi Mole Dame, tetapi memperbarui sanksi-
sanksi adat yang menjadi kendala atau penyebab masalah.
Berdasarkan analisis model sintesis, maka hasil penelitian menunjukkan, bahwa
pihak-pihak yang terlibat seperti keluarga, tokoh adat, dan gereja perlu membangun
perdamaian, yakni merevitalisasi sanksi adat yang memberatkan. Dalam tradisi penting
adanya inisiatif untuk kerja sama dari berbagai pihak dalam melakukan pendampingan
dan pengawasan terhadap anak, sehingga mengurangi kasus hamil di luar nikah dan
kawin lari. Untuk membenahi relasi yang renggang akibat tradisi, maka keluarga perlu
meneladani karya perdamaian Yesus Kristus yang memampukan keluarga saling
memberikan pengampunan dan saling mengasihi.
DIMI HERLINA BOUKH
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Jemaat GMIT Syalom Nisum, Klasis Amarasi Barat merupakan salah satu gereja di Amarasi selatan. Jemaat ini sudah ada sejak tahun 1954, hal ini ditandai dengan masuknya Injil ke Amarasi dan sakramen baptisan kudus pertama yang dilayankan di Amarasi Barat, tepatnya di Baun pada tahun 1875. Penelitian ini berfokus pada pemahaman jemaat terkait dengan praktik kan nitu (pemberian nama orang mati) pada bayi oleh warga jemaat GMIT Syalom Nisum. Sejak kan nitu dipraktikan, pemahaman jemaat terhadap pemberian nama pada bayi yang baru lahir mulai terpengaruh. Ada yang memahami praktik kan nitu sebagai bagian dari cara mengenang atau menghormati pada leluhur, namun ada juga yang memahami praktik ini sebagai bagian dari cara leluhur menunjukkan kehendaknya. Meneliti pemahaman jemaat berkaitan dengan praktik kan nitu menjadi penting karena praktik kan nitu mulai dipraktikan dengan kepercayaan bahwa leluhur masih turut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang masih hidup. Warga jemaat GMIT Syalom Nisum percaya bahwa melalui mimpi dan sakit-penyakit, leluhur menunjukkan kehendak atau keinginan mereka. Untuk mengetahui praktik kan nitu warga jemaat GMIT Syalom Nisum, maka penulis menggunakan metode penulisan deskriptif-analisis-reflektif. Warga jemaat jemaat Syalom Nisum, meski sudah menjadi Kristen sejak lama, namun mereka tetap menghidupi praktik kan nitu kan nitu yang ditinggalkan leluhur.
TESANIA NGGAUK
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Pandemi Covid-19 yang melanda dunia telah memberi dampak bagi kehidupan manusia termasuk kehidupan bergereja. Kondisi ini mendorong gereja untuk mencari alternatif agar jemaat dapat bersekutu. Alternatif yang ditawarkan oleh gereja mendorong jemaat untuk beribadah di rumah bukan lagi di gedung gereja. Hal ini juga berdampak dalam praktik Perjamuan Kudus. Pelaksanaan Perjamuan Kudus yang biasanya dilakukan secara rutin di gedung gereja dan dilayani oleh Pendeta berubah ke rumah-rumah tangga dan dipimpin oleh Penatua atau anggota sidi. Karena itu penelitian dalam penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pandangan Jemaat GMIT Alfa Omega Labat terkait dengan sah atau tidaknya perayaan Perjamuan Kudus yang dilakukan di rumah dan apakah mereka setuju dengan Perjamuan Kudus yang dipimpin oleh penatua atau anggota sidi sesuai dengan landasan teori yang dipakai.
Penelitian dalam penulisan ini menggunakan metode deskriptif-analitif yang diharapkan dapat mendeskripsikan pemahaman jemaat dengan baik dan bisa dianalisis secara ilmiah. Berdasarkan hasil penggambaran dan analisa bisa dilihat bahwa jemaat memiliki pemikiran yang beragam tentang Perjamuan Kudus masa pandemi Covid-19.
Dari pelaksanaan Perjamuan Kudus masa pandemi ini, jemaat menemukan makna baru yaitu persekutuan yang lebih intim di dalam lingkup keluarga. Di mana dalam pelaksanaannya, jemaat berefleksi bahwa tanpa gedung, gereja tetap dapat melaksanakan pemberitaan dan pelayanan sakramen Perjamuan Kudus. Hal ini memberi makna bahwa Allah yang adalah Roh itu, tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Ia hadir di mana pun umat-Nya bersekutu dan dalam keadaan seperti apapun. Oleh karena itu, pelayanan Perjamuan Kudus di masa pandemi Covid-19 yang dilakukan di rumah dapat dilakukan karena Bait Allah yang sejati sesungguhnya adalah Allah itu sendiri dan dapat menjadi satu alternatif yang baru karena memiliki dampak positif. Selain itu, para pejabat tertahbis turut melepas jabatan mereka demi berada di tengah-tengah kerapuhan jemaat dalam menjalani Covid-19.
Kata-kata Kunci: Perjamuan Kudus, Gereja, Pandemi Covid-19, Makna
ELEN PARAMITHA SOINBALA
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Skripsi merupakan karya ilmiah yang menjadi tugas akhir yang harus diselesaikan mahasiswa Fakultas Teologi untuk mendapat gelar Sarjana Theologi (S.Th). Dalam proses mengerjakan skripsi, mahasiswa banyak mengalami stres. Hans Selye membagi stres menjadi tiga, yaitu Eustres atau stres positif yang memberi dampak yang baik, Distress dan Hyperstress yaitu stres negatif yang memberi dampak negatif dan merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu stres apa yang dialami mahasiswa Teologi, faktor-faktor apa yang menyebabkan stres tersebut, dampak apa yang ditimbulkan dari stres tersebut, dan merefleksikannya menurut teologi pastoral, serta bagaimana pendampingan pastoral yang tepat bagi mahasiswa Fakultas Teologi yang mengalami stres dalam mengerjakan skripsi.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif berupa wawancara dan pengamatan, untuk memperoleh data yang akurat dengan kebenaran yang mendalam mengenai persoalan stres pada mahasiswa Fakultas Teologi yang mengerjakan skripsi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa mahasiswa Teologi lebih banyak mengalami Distress dan Hyperstress. Faktor yang menyebabkan mahasiswa Teologi mengalami stres tersebut, yaitu melihat teman seangkatan lebuh dulu ujian skripsi dan wisuda, tingkat semester yang semakin tinggi, ditanya kapan wisuda, pertemuan bimbingan yang tidak terlaksana dalam waktu yang lama, mengerjakan skripsi dalam keadaan sakit, dan orang tua yang menuntut untuk segera wisuda, dengan dampak buruk yang ditimbulkan yaitu: dampak fisik seperti penyakit yang semakin parah dan sering kambuh, dampak psikologis seperti timbulnya berbagai perasaan negatif yang menganggu, dampak sosial seperti sikap menutup diri, merokok, mengonsumsi alkohol, dan dampak spiritual yakni marah kepada Tuhan dan memandang Tuhan tidak adil. Stres tersebut juga memberi dampak lanjutan pada perekonomian keluarga dan akreditasi Fakultas Teologi. Karena itu, stres negatif pada mahasiswa yang menulis skripsi perlu mendapat perhatian melalui peranan pastoral untuk menolong mahasiswa yang mengalami stres, agar dapat menangani stres tersebut.
Sebagimana yang telah disaksikan oleh Alkitab bahwa ketenangan dapat dicari dan ditemukan di dalam Tuhan, dan dalam persoalan hidup manusia sebenarnya sedang bergumul dengan Tuhan, maka melalui pendampingan pastoral, mahasiswa yang mengerjakan skripsi perlu dibimbing untuk memahami Allah sebagai sumber ketenangan, dan memandang skripsi sebagai perjalanan spiritual yang dipakai Allah untuk membentuk mahasiswa Teologi, dan menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan keteguhan imannya kepada Tuhan, dengan bekerja keras mengatasi tantangan yang ada dan menyelesaikan perjuangan mereka dalam menulis skripsi. Dalam upaya menolong mahasiswa yang mengalami stres dalam mengerjakan skripsi, maka, Fakultas Teologi perlu menerapkan pola pendampingan pastoral yang memuat fungsi membimbing, menopang, menyembuhkan, memulihkan, dan memelihara atau mengasuh.
Kata Kunci: Mahasiswa Fakultas Teologi, Skripsi, Stres, Pastoral.
FRANSISKUS RUFUS KOLO
2022 · Thesis · Open Access
Latar belakang: Model gerak tendangan dalam Pencak silat di Ranting Kiupukan Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara, pada saat siswa melakukan latihan tendangan yang sering mereka gunakan adalah tendangan sebagai serangan maupun bela serang untuk mengumpulkan poin. Sebagian dari mereka ketika melakukan tendangan, kaki mereka sering tertangkap meskipun tidak selalu terbanting oleh lawan, kemudian tendangannya juga sering tidak mengenai sasaran, posisi badan yang tidak seimbang saat mengangkat kaki sehingga sangat menguntungkan lawan untuk melakukan teknik bantingan.
Tujuan penelitian: Untuk mengetahui model gerak tendangan sabit dalam pencak silat Perisai Diri Ranting Kiupukan Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara.
Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan pelatih dan siswa/atlet. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan data reduction, data display dan conclusion drawing/verification.
Hasil dan pembahasan: Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa model gerak tendangan sabit pada atlet perisai diri di Ranting Kiupukan, dimulai dari peran pelatih, program latihan, proses dan teknik latihan, serta evaluasi latihan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa latihan teknik untuk tendangan sabit dengan beberapa tahapan yaitu seperti sikap awal, pelaksanaan tendangan serta akhir setelah melakukan tendangan telah dilakukan dengan baik.
Simpulan: Program latihan pembinaan di perguruan pencak silat perisai diri Ranting Kiupukan Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara dilihat dari metode latihan yang dibuat pelatih yang meliputi latihan teknik, latihan fisik, latihan mental dan latihan keterampilan sudah terprogram dan terlaksana dengan baik.
RONALDO STEVEN ULY DJAMI
2022 · Thesis · Open Access
Pandemi Covid-19 telah menjadi momok menakutkan bagi semua umat manusia di seluruh dunia oleh karena berbagai dampak yang ditimbulkannya. Inilah penderitaan (dukkha) bagi semua elemen masyarakat. Sebagai masyarakat pluralis di Indonesia, semua perhatian kita tentu diarahkan pada bagaimana merespon situasi ini. Lantas muncul berbagai tanggapan teologis yang beragam dengan menghubungkannya dengan Sang Ilahi. Ada yang menyebutnya hukuman, ujian, pencobaan, malapetaka, dan lain sebagainya. Inilah kekayaan sudut pandang teologi agama-agama. Akan tetapi, hal ini berbeda dengan Agama Buddha secara khusus, yang memandang dunia dengan segala realitas penderitaannya lebih filosofis. Sebabnya, tulisan ini memuat pandangan filosofis Buddhisme, sekaligus bagaimana korelasinya dengan teologi agama-agama, dalam hal ini agama Kristen, yang pada akhirnya mengarah pada sebuah dialog kehidupan dan karya dalam menghadapi pergumulan pandemi Covid-19 ini sebagai dukkha bersama seluruh umat manusia.
YULISTERINA IGRACIA FAOT
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Adat istiadat, kebiasaan dan budaya dapat menunjukkan identitas diri seseorang. Masyarakat suku Timor Atoni Pah Meto sampai sekarang masih melakukan ritus nalonip `na atau percik darah. Ritus ini dilakukan sebagai upaya untuk mendinginkan sesuatu agar dijauhkan dari suat (malapetaka) dari kehidupan keluarga. Seiring berjalannya waktu dan karena faktor agama, pelaksanaan ritus ini mengalami pro dan kontra karena dianggap sebagai dualisme dan menyembah berhala. Inilah yang menjadi alasan penulis melakukan penelitian tentang ritus Nalonip `na atau percik darah utnuk mendinginkan rumah. Penelitian yang penulis lakukan bertempat di jemaat GMIT Esa Matsio Nunusunu, dengan tujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan ritus nalonip `na dan melakukan refleksi teologis tentang ritus ini.
Penelitian ini menggunakan model penelitian kualitatif dan dilakukan dengan cara wawancara. Hasil penelitian yang didapat penulis ialah, ritus ini telah mengalami pergeseran makna karena faktor agama. Jemaat yang sudah Kristen tetap melakukan ritus ini dengan maksud sebagai bentuk ucapan syukur dan pengakuan kedaulatan Allah Tritunggal yang telah memberkahi mereka dengan berbagai berkat. Khususnya dalam hal mendinginkan rumah, jemaat melakukan ritus ini karena mereka mensyukuri penyertaan Allah dari awal pelaksaan pembangunan rumah hingga selesai. Ritus nalonip `na sebagai upaya jemaat mencari keamanan dan tidak terkena malapetaka kini telah memiliki arti baru setelah jemaat memeluk agama dan menjadi Kristen. Ritus nalonip `na memiliki nilai positif yang berguna bagi pelayanan gereja yaitu usaha mencari keselamatan dan kepasrahan akan kuasa Tuhan. Darah binatang/korban yang dipercik bukanlah pemberi keselamatan melainkan satu-satunya keselamatan ialah bersumber dari Darah Kristus.
RUTH ALVIN MANAO
2022 · Thesis · Open Access
Keterlibatan sosial GMIT dalam bidang pendidikan dilakukan dalam kesadaran untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia, secara khusus dalam konteks pelayanan GMIT di Nusa Tenggara Timur. Penyelenggaraan pendidikan di GMIT tidak lepas dari sejumlah persoalan, seperti: terbatasnya fasilitas pendidikan, rendahnya kualitas tenaga pendidik, serta manajemen pendidikan di sekolah-sekolah GMIT yang belum tertata dengan baik. Menyikapi persoalan-persoalan tersebut, GMIT membangun kemitraan dengan beberapa pihak dengan tujuan untuk mengatasi persoalan serta meningkatkan kualitas pendidikan di GMIT. Namun, dampak dari kemitraan GMIT dalam bidang pendidikan belum menyentuh seluruh sekolah GMIT.
Fakta tersebut penulis temukan melalui sebuah penelitian dengan metode kualitatif di lima sekolah GMIT di kabupaten TTS dan satu sekolah GMIT di Kota Kupang. Lima sekolah GMIT di kabupaten TTS belum merasakan dampak dari kemitraan GMIT dalam bidang pendidikan. Hingga kini mereka masih berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan guru, fasilitas pendidikan, dan manajemen pendidikan. Berbeda dengan SMA Lentera Harapan Kupang sebagai salah satu sekolah GMIT yang lahir dari kemitraan GMIT dengan Yayasan Pelita Harapan. SMA Lentera Harapan Kupang menampilkan kualitas lebih baik dibandingkan lima sekolah GMIT di Kabupaten TTS.
Penulis melakukan analisa berdasarkan teori teologi sosial Banawiratma. Dua aspek teologi sosial yang ditekankan adalah aspek sosial dan aspek historis. Aspek sosial menunjuk pada keterlibatan semua pihak dalam penyelengggaraan pendidikan di GMIT, secara khusus dalam kemitraan eksternal dan internal GMIT. Sementara itu aspek historis menunjuk pada suatu usaha mempertahankan esensi sekolah-sekolah GMIT sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan gereja. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak semua pihak untuk memaknai hakekat keberadaan GMIT sebagai mitra Allah melalui kemitraan dalam bidang pendidikan. Sebelum GMIT membangun kemitraan dengan pihak lain, GMIT itu sendiri adalah mitra Allah. Oleh karena itu, perlu adanya optimalisasi penyelenggaraan pendidikan di GMIT melalui kemitraan dalam bidang bidang pendidikan dalam rangka pembenahan sekolah-sekolah GMIT. Upaya optimalisasi tersebut dilakukan di dalam kesadaran untuk menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di dunia.
Kata Kunci: Kemitraan, Pendidikan, Keterlibatan Sosial, Keadilan, Optimalisasi.
SOLVINA J. MANILANG
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Kematian adalah peristiwa natural, setiap manusia pasti akan mati. Kematian adalah kehidupan dalam cara yang baru, bentuk baru, dari kehidupan itu Yesus namakan tidur. Ini adalah suatu masa antara di mana manusia itu istirahat sambil menantikan kebangkitan. Orang beriman mati sebelum kedatangan kembali Kristus dihubungkan dengan Kristus oleh karen itu disebut mati dalam Kristus. Anggota jemaat Etam Lipa, Klasis Alor Tengah Utara memahami kematian karena kecelakaan sebagai penyakit atau masalah adat yang belum terselesaikan sehingga harus melaksanakan ritus Patei Sela Kate untuk membatasi kematian karena kecelakaan. Kematian bagi orang percaya bukan suatu hal yang harus ditakutkan karena Kristus sendiri telah mati dan bangkit pada hari yang ketiga untuk mengalahkan kuasa dosa.
Penelitian mengenai pemahaman anggota Jemaat GMIT Etam Lipa dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pandangan anggota Jemaat tentang ritus Patei Sela Kate. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian mengemukakan bahwa pemahaman anggota Jemaat Etam Lipa terhadap kematian merupakan suatu penyakit. Kematian dipahami secara sempit oleh anggota Jemaat Etam Lipa mengenai kematian karena kecelakan dipengaruhi juga oleh faktor warisan leluhur. Oleh karena itu gereja perlu memberikan pemahaman lagi tentang kematian dalam ajaran Iman Kristen sehingga anggota jemaat Etam Lipa tidak menganut pemahaman yang keliru tentang kematian, tetapi dapat diterima bahwa kematian bagi orang percaya merupakan kehidupan dalam cara yang baru yaitu tidur sambil menantikan kebangkitan.
SOPPO AGUSRI TAKOI
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Keberadaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) merupakan sebuah fenomena yang selalu ada bahkan terus meningkat di seluruh wilayah Indonesia bahkan di NTT. ODGJ adalah orang yang mengalami gangguan jiwa sehingga membuat orang tersebut sulit melakukan fungsinya sebagai manusia. Ciri ODGJ yang sulit berkomunikasi, menarik diri bahkan cenderung agresif membutuhkan perawatan yang lebih. Dalam perawatannya, keluarga ODGJ membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi karena karakteristik penyakit gangguan jiwa yang unik. Jumlah ODGJ yang terus meningkat terutama di NTT, sedangkan minimnya fasilitas kesehatan maka tanggung jawab keluarga ODGJ akan semakin besar. Bertolak dari hal itu, penulis tertarik untuk meneliti tentang sikap pastoral gereja terhadap keluarga ODGJ sebagai sosok yang paling dibutuhkan oleh ODGJ dan penulis membuat refleksi pastoral. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memilih keluarga ODGJ menjadi sampel untuk mengkaji tentang peran gereja terhadap keluarga ODGJ di Jemaat GMIT Haleluya Nubraen, Klasis Amarasi Barat. Dari hasil penelitian tersebut, penulis mendapatkan jawaban yang bervariasi. Rata-rata ada keluarga yang memahami perannya sebagai sebuah pelayanan terhadap anggota keluarganya, bersamaan dengan itu keluarga juga tertantang dengan orang-orang disekitar yang melihat ODGJ sebagai aib keluarga. Walaupun dalam kenyataannya masih ada keluarga yang mengharapkan dukungan gereja bagi mereka dan ODGJ sendiri melalui pelayanan pastoral. Namun, dalam keadaan tersebut justru keluarga merasa hilang dari genggaman gereja. Peran keluarga yang terlihat ialah mendukung, merawat dan menyembuhkan pasien ODGJ. Bertolak dari belas kasihan dan tindakan Yesus terhadap orang sakit, gereja seharusnya mencerminkan apa yang Yesus lakukan dalam proses penyembuhannya yaitu merawat dan menyembuhkan orang sakit. Peran keluarga ODGJ juga menampilkan bahwa keluarga membutuhkan pelayanan pastoral dan tugas gereja harus memenuhi panggilan itu dalam melayani orang-orang sakit dan keluarganya dengan memberikan pelayanan yang menyembuhkan, mendukung dan merawat atau mengasuh. Gereja juga terpanggil bukan hanya untuk orang sakit tetapi juga bagi mereka yang melayani orang sakit dalam hal ini keluarga ODGJ demi mendatangkan kerajaan Allah.
Kata-kata kunci: Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), Gereja, Keluarga, Pastoral
DELSY MEGA ADU
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Kitab Keluaran ditulis untuk memperlihatkan kuasa Tuhan, karena selama 400 tahun (Kej. 15:13), bangsa Israel diperbudak dan dianiaya di Mesir. Kitab Keluaran juga melanjutkan sejarah pembebasan dan perkembangan umat Israel sebagai pilihan Allah, selama di Mesir, kelepasan, dan kehadiran mereka di padang Gurun Sinai sampai pada pendudukan tanah Kanaan. Tujuan kitab Keluaran adalah menekankan tentang penyataan diri Allah (Kel. 6: 2-3), serta memberi pengajaran kepada umat Israel melalui aturan-aturan untuk memelihara perjanjian (covenant) dengan Allah. Pemberian Perjanjian di Sinai untuk memelihara jati diri Israel sebagai umat Allah (Kel. 23:20-23) di tengah-tengah bangsa lain. Keluaran 21 termasuk dalam hukum-hukum Kitab Perjanjian (Kel. 19-24). Keluaran 21: 12-17 mengatur tentang penghargaan terhadap nyawa sesama. Dalam kehidupan Israel kuno, terdapat hukum yang mengatur kejahatan-kejahatan, terutama pembunuhan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja (Kel. 21:12-14). Maka ditetapkannya tempat perlindungan (Bil. 35:13-14; Ul. 19;11-13; Yos. 20:6) sebagai tempat untuk beroleh hak perlindungan (Raj. 1:51; 2:28) dari para go’el (penuntut darah).
Metodologi yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian studi pustaka dan metode tafsir historis kritis. Metode studi pustaka dilakukan dengan mengumpulkan data pustaka melalui berbagai literatur. Sedangkan metode tafsir historis kritis yakni metode penafsiran Alkitab sebagai studi tentang tek-teks Alkitab yang menunjuk pada hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dalam teks dan menemukan kerygma teologi (eksegesis) dari teks bukan menambahkan kerygma teologi dari luar teks (eisegesis).
Kehidupan masa kini juga tidak terlepas dari banyak kejahatan dan menjadi realita yang dihadapi oleh semua orang, termasuk pemerintah maupun gereja. Pembunuhan, perdagangan orang (human trafficking), dan masih banyak masalah lain yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Kepolisian Republik Indonesia (polri) sebagai lembaga hukum juga belum melaksanakan tugasnya secara maksimal, karena masih terdapat oknum-oknum Polri yang melakukan pelanggaran HAM terhadap masyarakat, seperti kasus di Warior, penganiayaan tehadap Napi, dan memperkosa anak di bawah umur. Demikian juga gereja, di dalamnya masih ada oknum yang melakukannya pelanggaran HAM, yang terlibat pelaku humman trafficking. Segala diskusi dan upaya harus dilakukan oleh gereja dan Polri. Gereja dan Polri juga harus menjadi tempat perlindungan yang menjamin keamanan, hak perlindungan dan keadilan bagi semua orang demi mempertahankan martabat dan HAM menurut hukum perjanjian dan ketetapan-ketetapan Tuhan. Dalam hal ini, baik Gereja Masehi Injili di Timur (GMIT), pemerintah, Polri, masyarakat, dan individu berkewajiban untuk melindungi HAM tanpa membeda-bedakan.
Kata kunci: Hukum, Perjanjian, TUHAN, Tempat Perlindungan, Hak Asasi Manusia
YOSIA MAGDALENA ORA
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Sejarah merupakan peristiwa yang telah berlalu dalam kehidupan, baik itu hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Sejarah juga turut mempengaruhi kahidupan di hari esok, baik itu pengaruh buruk maupun pengaruh baik. Oleh karena itu belajar dari pengalaman masa lalu adalah hal yang sangat penting untuk menata hari ini dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik. Sejarah perjalanan gereja juga harus menjadi perhatian masa kini. Lewat pengalaman masa lalu gereja dapat mengetahui bagaimana gereja bertumbuh hingga kini. Namun, pada kenyataannya banyak generasi masa kini yang tidak peduli terhadap peristiwa masa lalu. Hal ini membuat mereka tidak mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi dan berkesan dari perjalanan sebuah gereja. Jemaat Efata adalah salah satu jemaat GMIT yang memiliki perjalanan sejarah yang panjang, namun tidak diketahui oleh generasi masa kini. Hal ini mengakibatkan akan mulai hilangnya sejarah dari generasi muda. Metode penelitian kualitatif dan metode penelitian sejarah yang dilakukan melalui langkah-langkah berikut, menentukan topik yang akan diteliti, mengumpulkan sumber data yang diperlukan baik itu secara lisan, dan tulisan. Melakukan verifikasi data, dan interpretasi (penulisan hasil), menolong untuk dapat mengetahui sejarah Jemaat Efata yang pertumbuhannya disertai oleh Tuhan, Selama 66 tahun Jemaat Efata bertumbuh, yang terbagi menjadi tiga periode yakni: periode 1954-1974, periode 1975-2005, dan periode 2005-2020. Setiap periode memiliki cerita masing-masing, yang mempengaruhi perjalanan selanjutnya. Pemaknaan atas penyertan Tuhan dalam perjalanan kehidupan jemaat membuat jemaat semakin bertumbuh dalam iman dan juga mengalami perkembangan pembangunan yang lebih maju. Peristiwa-peristiwa masa lalu yang telah dilewati kini menjadi pembelajaran penting bagi generasi masa kini, untuk dapat menata masa depan gereja menjadi lebih baik dan syalom Allah benar-benar nyata dalam kehidupan jemaat. Kata kunci: Gereja, Sejarah, Pertumbuhan, Penyertaan Tuhan, Jemaat Efata.
MARLIN LITTO
2022 · Thesis · Open Access
Sejarah gereja merupakan kisah tentang perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang dialami oleh gereja selama di dunia ini. Sejarah gereja dapat memberikan gambaran tentang berdirinya gereja tersebut dan bagaimana perjalanan pelayanannya hingga saat ini. Sejarah itu juga penting bagi generasi masa kini dan yang akan datang untuk mengenal para pendahulu yang telah meletakan dasar bagi kehidupan berjemaat dengan suka dan dukanya, dan catatan sejarah juga dapat memotivasi jemaat untuk terus membangun persekutuan yang indah serta berperan aktif dalam pelayanan. Bertolak dari hal itu, penulis tertarik untuk meneliti sejarah terbentuk dan pertumbuhannya Jemaat GMIT Eklesia Oeteta. Penulis memberi judul Bertumbuh di Tengah Semak Duri karena melihat pergumulan Jemaat Eklesia Oeteta saat ini; Jemaat Eklesia Oeteta bergumul dengan Spritualitas Jemaat, hubungan antar anggota jemaat yang kurang baik, perselisihan antar anggota jemaat yang tidak terselesaikan terus berlanjut sehingga membuat persekutuan dalam jemaat menjadi terhimpit dan adanya oknum-oknum tertentu yang berambisi menjadi pemimpin dalam jemaat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memilih Jemaat GMIT Eklesia Oeteta menjadi lokus penelitian untuk mengkaji tentang sejarah terbentuk dan pertumbuhannya Jemaat Eklesia Oeteta. Dari penelitian tersebut penulis menemukan bahwa latar belakang berdirinya jemaat tersebut karena adanya konflik antar jemaat dan jemaat serta jemaat dan majelis jemaat yang mengakibatkan perpecahan. Gereja sebagai persekutuan orang percaya membentuk suatu perkumpulan atau perhimpunan yang kemudian dikenal dengan istilah jemaat. Ketika hubungan dalam sebuah Jemaat dilandaskan atas takut akan Tuhan dan membangun hubungan berlandaskan kasih Kristus, maka jemaat tersebut akan mengalami suatu pertumbuhan yang baik, baik itu dari segi kualitasnya maupun kuantitasnya. Akan tetapi jika jemaat tersebut masih hidup dengan melakukan hal-hal di luar dari kehendak Tuhan, maka jemaat tersebut akan terpecah belah. dari pandangan di atas dapat dikatakan bahwa yang menjadi faktor penyebab terjadinya perpecahan dalam gereja karena adanya ketidaksepahaman orang-orang yang ada dalam gereja yang ingin menang sendiri dan berkeinginan untuk menjadi pemimpin dalam gereja sehingga menyebabkan perpecahan. Untuk itu jemaat perlu memahami arti dari gereja itu sendiri yakni; gereja merupakan orang yang dipanggil keluar dari dalam kegelapan Menuju terang yang ajaib untuk mewartakan berita sukacita tentang Yesus Kristus Sang Juruselamat. Kata Kunci : Sejarah Jemaat GMIT Eklesia Oeteta, Konflik, Perpecahan, Pembentukan, Pertumbuhan.
PUTRI ARYANI LOGO BUKE
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Tradisi merupakan warisan budaya nenek moyang yang diteruskan dan diikuti oleh generasi-generasi selanjutnya. Salah satu tradisi yang masih dijalankan oleh jemaat GMIT Sion Loti, Naioni ialah tradisi saat terjadi kematian yang dikenal dengan sebutan Sofit. Sofit merupakan tradisi mengantarkan selimut, sarung, kain batik, hewan beras dan uang dari kerabat kepada keluarga yang berduka. Tradisi Sofit yang dilakukan oleh masyarakat Naioni sangatlah kental dengan budaya mereka sebagai suku Timor. Tradisi yang dijalankan oleh nenek moyang mereka masih dipegang erat karena memiliki nilai positif tetapi seiring dengan perkembangan jaman, terjadi pergeseran makna yang mendalam. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai tradisi Sofit sebelum dan sesudah mengenal kekristenan, untuk itu penulis melakukan penelitian dengan metode kualitatif karena dapat menolong dalam mencari pengertian yang mendalam tentang suatu gejala, fakta atau realita masalah, serta peristiwa yang dapat dipahami. Penulis menemukan bahwa Sofit yang dijalankan oleh nenek moyang sebelum mengenal kekristenan dianggap sebagai bentuk titipan kepada leluhur tetapi setelah mengenal kekristenan masyarakat mulai menambahkan nilai-nilai kekristenan saat mengenal Yesus, yaitu dengan menanamkan nilai kekeluargaan. Sofit yang diberikan sebagai pemberian yang diberikan dengan tulus dan iklas. Kata Kunci: Tradisi, Sofit, dan kekeluargaan.
OMEGA BIA
2022 · Thesis · Open Access
Hendrik Kraemer adalah seorang misiolog yang lahir pada 17 Mei 1888 di Amsterdam, Belanda dan meninggal dunia pada 11 November 1965. Kreamer adalah salah seorang pemikir Kristen yang paling berpengaruh pada zamannya, khususnya dalam hal hubungan antara agama Kristen dengan agama-agama lain serta berbagai budaya. Dia memiliki banyak kemampuan dan memberikan banyak kontribusi serta inspirasi dalam berbagai diskusi dunia tentang persoalan misiologis. Sebagai salah seorang teolog kaum awam yang menjadi guru besar Teologi dan mempersoalkan berbagai masalah teologis tentang kebudayaan modern manusia, Kraemer menjadi semakin menyadari kebutuhan untuk mendirikan gereja lokal yang independen di ladang misi karena misi mereka itu bukanlah menjadi seorang guru tetapi kehadiran mereka itu sebagai panggilan yang membuat benih gereja bertumbuh dan berkembang dalam pekabaran injil, itulah mengapa dia menganjurkan agar gereja-gereja Indonesia dibuat mandiri.
Berdasarkan konsep pemikiran Kraemer sebagai kaum awam penulis menganalisis Kraemer menggunakana data sekunder dan primer dengan melihat pentingnya peran kaum awam dalam pelayanan gereja. Bagi Kraemer pemberitaan Injil Yesus Kristus adalah misi gereja, karena itu harus diingat, bahwa satu-satunya motif untuk pekerjaan misi Pekabaran Injil ialah “Panggilan rasuli untuk bersaksi tentang Yesus Kristus, yang diutus oleh Allah ke dunia sebagai jalan, kebenaran dan hidup” dengan segala kekuatan yang ada pada kita, maka semua kita berkewajiban untuk melaksanakan tugas agung yang dipercayakan Allah kepada kita, yaitu untuk memberitakan Injil. Dalam menyampaikan misi Pekabaran Injil Kraemer menyarankan gereja-gereja lokal di Indonesia untuk mandiri. Salah satunya di Timor yaitu GMIT pada tahun 1947. Kemandirian gereja dalam bidang teologi, daya dan dana menjadi pusat dalam melaksanakan misi Allah yaitu pekabaran Injil yang dapat dikembangkan oleh kaum awam yang juga terlibat dalam kemandirian gereja melalui bimbingan pembacaan Alkitab, pemberdayan sumber daya yang dimiliki gereja serta pengelolan dana yang ada.
Penulis menemukan bahwa GMIT sendiri dapat mandiri karena GMIT memiliki dasar teologis yang sudah ada sepanjang masa dan menjadi titik acuan dalam misi pekabaran Injil. Pemandirian yang terjadi membuat GMIT terus berkembang menjadi lebih baik lagi baik itu dalam hal teologi, daya dan dana karena itu kelancaran pekabaran Injil haruslah didukung dengan pembagian tugas yang merata dan bertanggung jawab karena seluruh orang percaya (warga jemaat) dipanggil dan diutus untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan di dunia yaitu, mengabarkan Injil kepada seluruh bangsa. Selain itu dalam kemandirian, gereja perlu menyadari keberadaan kaum awam, karena gereja tidak terlepas dari peran kaum awam untuk membantu memberitakan Injil Kristus.
Kata Kunci : Hendrik Kraemer, Kaum Awam, Pekabaran Injil, Kemandirian
MARIA CH. T. RUMAGIT
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Anak yatim piatu adalah anak yang tidak lagi memiliki ayah dan ibu atau kedua orang tua telah meninggal dunia. Anak yatim piatu memiliki pergumulan kehidupan yang khas. Pergumulan mereka berkaitan erat dengan empat aspek penting dalam kehidupan manusia yaitu aspek fisik, aspek mental, aspek sosial dan aspek spiritualitas. Perhatian kepada kebutuhan anak yatim piatu tidak hanya datang dari negara tetapi juga harus datang dari pihak gereja sebagai bentuk nyata tindakan kasih yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Di Jemaat GMIT Imanuel Oepura terdapat sejumlah anak yatim piatu yang merupakan anggota jemaat tersebut. Kehadiran mereka dalam jemaat harus mendapat perhatian khusus dari gereja sebagaimana kelompok kategori lainnya. Hal itu harus diwujudkan dalam program pelayanan yang disusun secara berkala dan teratur. Menjadi masalah adalah jika kehadiran anak yatim piatu dalam gereja tidak terdata dengan baik. Tidak adanya data membuat pihak gereja mengalami kesulitan dalam menentukan bentuk pelayanan yang akan diberikan kepada anak - anak yatim piatu tersebut. Penelitian ini berfokus pada bagaimana peran gereja terhadapanak-anak yatim piatu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui realitas anak yatim piatu dalam konteks jemaat setempat dan bagaimana peran pastoral gereja terhadap kehadiran dan pergumulan yang dihadapi mereka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa peran gereja sangat penting bagi anak-anak yatim piatu. Gereja dapat membuat program pelayanan khusus dan membuat pendataan bagi anak-anak yatim piatu. Demikian pula peran pastoral holistik gereja bagi anak yatim piatu harus dijalankan dengan kesadaran bahwa gereja harus menjadi rumah dan orang tua bagi mereka.
Kata Kunci: Pastoral, Gereja, Anak-anak Yatim Piatu