Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

None

377 karya publik ditemukan.

2023: 122022: 72021: 3062020: 51

PENGARUH LAMA PELUMURAN BUMBU TERHADAP KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK IKAN TIBU TONGKOL KHAS KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

2021 · Book · Koleksi Perpustakaan

Ikan tibu yang diolah melalui proses lama pelumuran bumbu yang berbeda yang diolah melalui proses pembumbuhan, pembungkusan menggunakan bambu merupakan salah salah satu produk lokal yang sering dilakukan oleh masyarakat Desa Pocolia, Kabupaten Manggari Timur pada saat musim penangkapan melimpah. Produk ini memberikan cita rasa tersendiri yang lezat, gurih dengan aroma khas disebabkan oleh adanya kombinasi aroma dari bambu dan daun serai sebagai pembungkus bagian dalam serta bumbu-bumbu tambahan yang sebelum diolah dilakukan pelumuran selama 5 menit, 10 menit dan 15 menit sehingga menghasilkan aroma dan rasa, tekstur daging yang empuk serta warna kuning keemasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama pelumuran bumbu yang berbeda terhadap organoleptik ikan tibu tongkol. Ikan tongkol yang sudah dibersihkan dilumuri bumbu dan didiamkan selama 5 menit, 10 menit dan 15 menit, kemudian dilakukan pemanggangan diatas bara api. Parameter yang diamati meliputi parameter sensori (warna, aroma, rasa dan tekstur) dan kadar air. Data organoleptik dan kadar air dianalisi dengan analisis variansi Rancangan Acak Lengkap 3x3 dengan tiga kali ulangan, metode lama pelumuran bumbu yang berbeda berpengaruh sangat nyata (p>0,05) terhadap uji organoleptik dan kadar air ikan tibu. Berdasarkan diagram pengujian, uji organoleptik meliputi parameter warna dengan kategori suka, rasa menunjukan suka, aroma menunjukan suka dan tekstur menunjukan suka. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat penerimaan panelis terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur dengan nilai 4-5 karena adanya perpaduan antara daging ikan dengan bumbu-bumbu tambahan dan daun serai sebagai pembungkus dibagian dalam serta aroma dari bambu. Kadar air berkisar 64,73-67,30%.

STUDI PROFIL RENDEMEN DAN ORGANOLEPTIK PADA PRODUK SAMBAL JULUNG-JULUNG ASAP YANG DIPROSES DENGAN SUHU DAN LAMA PENGASAPAN YANG BERBEDA

2021 · Book · Koleksi Perpustakaan

Maria Febiani Seran (16392933). Studi profil rendemen dan organoleptic paa produk sambal julung-julung asap yang diproses dengan suhu dan lama pengasapan yang berbeda: Dr. Ir. Ayub U.I. Meko, M.Si Pembimbing I dan Mada M. Lakapu S.Si, M.Si Pembimbing II). Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Produk sambal di Kota Kupang satu diantara produk yang sudah dikenal adalah sambal julung-julung asap adalah salah satu produk ikan yang dibuat cara di asap menggunakan bara api kayu kesambi lalu digoreng. Pengasapan ikan julung-julung mengalami perubahan karakteristik fisik berupa ukuran, berat, kenampakan, warna dan tekstur. Sifat bahan pangan erat kaitanya dengan analisis-analisis yang melibatkan prinsip-prinsip fisik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui nilai rendemen, organoleptik (warna, aroma, rasa dan tekstur) dan kadar air pada produk sambal julung-julung asap. Penelitian ini telah dilaksanakan dari bulan Agustus sampai bulan September 2020 dimana masa pendemi covid 19 sehingga penelitian ini dilaksanakan secara terbatas pada lingkup fakultas Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif, dengan perlakuan Suhu dan lama pengasapan yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rendemen dengan nilai 296-149 gram, tingkat penerimaan panelis masih menyukai organoleptik dari semua perlakuan dengan suhu 50-70⁰C, 70-90⁰C dan 90-110⁰C denga lama pengasapan 60 menit, 120 menit dan 180 menit. Kadar air juga pada kisaran nilai 403- 7,08 %.

STUDI KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA, DAN ORGANOLEPTIK FILLET IKAN ASIN BARONANG DENGAN LAMA PENGERINGAN BERBEDA MENGGUNAKAN RUMAH PENGERING

2021 · Book · Koleksi Perpustakaan

Ikan asin baronang atau ikan cara merupakan ikan yang banyak dikonsumsi masyarakat Manggarai juga merupakan oleh-oleh khas Kabupaten Manggarai Barat, serta proses pengolahanya masih sederhana dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber panas untuk pengeringan. Namun cara ini masih mempunyai kelemahan. Oleh karena itu dibutuhkan suatu alat yang bisa menjadi alternatif bagi para nelayan atau pedagang ikan asin untuk meningkatkan kualitas ikan asin seperti pengering dengan tenaga surya menggunakan tipe rumah pengering. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh waktu pengeringan berbeda menggunakan rumah pengering terhadap karakteristik fisik, kimia, dan organoleptik fillet ikan asin baronang. Penelitian ini telah dilaksanakan dari bulan September sampai bulan Oktober 2020 di Laboratorium Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang untuk pembuatan produk dan pengujian kadar air, pH, dan pengujian organoleptik. Metode penelitian yang digunakan didesain menurut pola Rancangan Acak Lengkap (RAL). Ada satu faktor yang diuji yaitu faktor lama pengeringan terdiri atas 3 taraf perlakuan yaitu A1= pengeringan selama 20 jam, A2= pengeringan selama 28 jam, A3= pengeringan selama 36 jam. Setiap kombinasi perlakuan diulang 2 sebanyak kali. Variabel yang diuji secara fisik yaitu susut berat dan penampakan produk, pengujian secara kimiawi yaitu kadar air dan pH, pengujian secara organoleptik meliputi kenampakan, aroma, tekstur, dan rasa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa susut berat 66,9-71,8%, kadar air 15,92-30,12%, nilai pH dengan nilai 6,5-,6,7 dan tingkat penerimaan panelis berkisar antara netral hingga suka. Kesimpulan dari hasil penelitian ini menghasilkan nilai susut berat 66,9% – 71,8%, kadar air 15,9% – 30,1%, pH 6,5 – 6,7, dan hasil uji organoleptik untuk nilai kenampakan yaitu utuh, bersih, kurang rapi, mengkilap menurut jenis, aroma yaitu kurang harum tanpa bau tambahan, tekstur yaitu padat, kompak, lentur, cukup kering, sedangkan rasa yaitu sangat enak, spesifik jenis, tanpa rasa tambahan.

Kajian organoleptik produk se’i tuna yang diproses dengan suhu pengasapan yang berbeda:

2021 · Book · Koleksi Perpustakaan

YOHANIS HEMO. (15390051). Kajian organoleptik produk se’i tuna yang diproses dengan suhu pengasapan yang berbeda: Umbu P.L. Dawa S..Pi, M.Sc sebagai Pembimbing I dan Yunialdi H. Teffu S.Pi, M.Si sebagai Pembimbing II. Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Se’i tuna adalah salah satu produk hasil pengolahan yang menggunakan metode pengasapan secara tradisional menggunakan tempurung kelapa sebagai bahan utama pengahasil asap dan daun kesambi sebagai penutup saat proses pengasapan. Produk se’i tuna memiliki ciri khas yang membedakannya dari produk pengasapan yang lain yaitu jenis potongan yang memanjang dan cita rasa yang khas yang disebabkan oleh penggunaan daun kesambi. Pengolahan se’i tuna yang menggunakan metode pengasapan tradisional sering kali menghasilkan produk yang secara organoleptik sangat bervariasi yang disebabkan karena belum adanya standar prosedur pengasapan untuk menghasilkan se’i tuna yang berkualitas. Oleh karena itu tujuan penelitian ini yaitu melakukan modifikasi prosedur pengasapan menggunakan suhu pengasapan yang terkontrol untuk menghasilkan nilai organoleptik yang baik dan susut berat yang ideal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui nilai susut berat dan organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa) pada produk se’i tuna. Penelitian ini akan dilaksakan selama dua bulan dari bulan April sampai Mei 2020 bertempat di Unit Pengolahan Ikan (UPI) skala mikro kecil / rumah tangga. UPI ini merupakan rumah pengasapan untuk proses produksi tuna se’i di Kelurahan Nunhila, Kecamatan Alak Kota Kupang. Uji organoleptik dilakukan di Laboratorium Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana Kupang (UKAW). Penelitian ini menggunakan Metode Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan perlakuan suhu pengasapan yang berbeda dan menggunakan daun kesambi dan tanpa penutup daun kesambi. Hasil penelitian dan kesipulan menunjukkan bahwa nilai uji mutu hedonik parameter warna, aroma, tekstur dan rasa pada taraf suka sehingga tingkat penerimaan panelis masih menyukai organoleptik selama proses pengasapan dengan suhu yang berbeda, dan suhu pengasapan terbaik pada suhu 65-70oC menggunakan daun kesambi. Hasil analisis susut berat produk se’i tuna berkisar antara 37,5-67,5%.

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN YANG BERBEDA TERHADAP KARAKTERISTIK PRODUK SAMBAL JULUNG-JULUNG ASAP YANG DISIMPAN PADA TEMPERATUR DINGIN

2021 · Book · Koleksi Perpustakaan

ANSGERIUS OULOBANG (15390036). Pengaruh jenis Kemasan dan Lama Penyimpanan yang Berbeda Terhadap Krakteristik Sambal Juling Julung Asap Yang simpan Pada Temperatur Dingin: Dr.Ir. Ayub U.I. Meko,M. Si Pembimbing I dan Yunialdi H. Teffu, S. Pi, M. Si Pembimbing II). Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Sambal julung-julung asap merupakan produk olahan siap saji yang terbuat dari ikan julung-julung asap dan dimasak menggunakan bumbu dan minyak. Pengasapan ikan merupakan teknik pengawetan ikan yang dilakukan dengan memberikan senyawa asap ke dalam daging ikan melalui proses pembakaran bahan bakar kayu sehingga dihasilkan produk ikan asap dengan rasa dan aroma yang khas. Sambal julung-julung asap juga merupakan produk semi basa dan memiliki keterbatasan dalam masa simpannya dan menjadi media yang cocok untuk pertumbuhan mikroba sehingga dibutuhkan upaya untuk memperhambat terjadinya kerusakan produk olahan selama penyimpanan pada temperatur dingin yaitu dengan dua cara pengemasan. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu: Untuk mengetahui pH dan tingkat penerimaan panelis terhadap sambal julung-julung asap yang dikemas dengan kemasan yang berbeda dan disimpan pada temperatur dingin. Penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana Kupang-Nusa Tenggara Timur pada bulan Februari sampai Juli 2020. Metode yang digunakan yaitu metode Rancangan Acak Lengkap Faktorial, dengan perlakuan kemasan dan lama penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH ikan julung-julung asap dengan kombinasi perlakuan jenis kemasan dan lama penyimpanan yang berbeda berkisar antara 5,35-5,80, hasil uji organoleptik menunjukan perlakuan kemasan polyethlene dan botol kaca dengan lama penyimpanan 9 hari, 12 hari dan 15 hari mempengaruhi nilai organoleptik sambal ikan julung-julung asap.

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP MODUS OPERANDI TINDAK PIDANA PENCURIAN HEWAN TERNAK DI WILAYAH KABUPATEN KUPANG

2021 · Book · Koleksi Perpustakaan

Penulisan hukum dengan judul “Tinjauan Yuridis Terhadap Modus Operandi Tindak Pidana Pencurian Hewan Ternak di Wilayah Kabupaten Kupang” bertujuan untuk mengetahui Modus Operandi terjadinya pencurian hewan ternak di wilayah Kabupaten Kupang. Rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah Bagaimana Bagaimana Modus Operandi Pencurian Hewan Ternak di Kabupaten Kupang”? Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Modus terjadinya pencurian hewan ternak di wilayah Kabupaten Kupang. Penelitian ini bersifat dekskriptif yaitu dalam hal ini penulis ingin mendeskripsikan atau menggambarkan, menguraikan, dan menjelaskan tentang modus operandi yang digunakan oleh pelaku tindak pidana Pencurian Hewan Ternak. Jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah Penelitian Hukum Normatif. Menurut Soerjono Soekanto penelitian hukum ini terdiri dari penelitian terhadap asas-asas hukum; penelitian terhadap sistematika hukum; dan penelitian terhadap taraf sinkronisasi hukum. Variabel bebas (independent variable) adalah variabel yang dipandang sebagai penyebab munculya variabel terikat yang diduga sebagai akibatnya. Variable bebas dalam penelitian ini adalah Tindak pidana pencurian hewan ternak di wilayah Kabupaten Kupang. Variabel terikat (dependent variable) adalah variabel (akibat) yang dipradugakan, yang bervariasi mengikuti perubahan dari variabel-variabel bebas. Variable terikat dalam penelitian ini adalah Putusan Hakim terhadap tindak pidana pencurian hewan ternak di wilayah Kabupatan Kupang. Hasil penelitian: 1.Komunikasi dan Alat Transportasi Pendukung. Modus pelaku tindak pidana pencurian hewan berbeda-beda tergantung pada situasi dan kondisi lingkungan dimana akan melakukan aksi pencuriannya salah satunya di lakukan secara berkelompok yang melibatkan dua orang atau lebih dan menggunakan alat bantu seperti Surat Keterangan kepelikan hewan dari Desa, Alat komunikasi, dan mobil pickup. 2.Melakukan Opservasi Situasi. Modus pelaku tindak pidana pencurian hewan bervariasi tergantung pada lokasi dimana akan melakukan aksi pencuriannya salah satu adalah sebelum melakukan aksi pencurian mereka terlebih dahulu melakukan survey lokasi dengan cara mencari jejak kaki sapi, lalu mereka memasang perangkap/ jerat. 3.Menggunakan Cara atau Umpan. Salah satu modus para pelaku tindak pidana pencurian hewan ternak dalam melakukan aksi pencuriannya dengan cara memotong daun sebagai makanan sapi atau sebagai umban dalam melakukan aksi pencurian. 4.Menjerat, Mengikat dan Menjual Salah satu Modus yang dipakai pelaku tindak pidana pencurian hewan adalah sebelum melakukan aksi pencurian mereka terlebih dahulu mencari jejak kaki sapi, lalu mereka memasang perangkap/ jerat, mengikat sapi hasil dari perangkap lalu menjualnya.