ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan layang merupakan salah satu komponen perikanan pelagis yang sangat penting di Indonesia khususnya di Kota Kupang. Ikan yang tergolong famili Carangidae ini biasanya hidup bergerombol dan merupakan salah satu ikan yang banyak diminati oleh masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis biologi reproduksi ikan layang melalui hubungan panjang dan berat, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), Nisbah kelamin, dan faktor kondisi. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei dan observasi di lapangan. Metode pengambilan sampel adalah Random Sampling (Fachrul 2006). Analisis untuk menghitung biologi reproduksi ikan Decapterus russelli adalah hubungan panjang berat, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, nisbah kelamin dan faktor kondisi. Sampel ikan layang (Decapterus russelli) berasal dari TPI Oeba Kota Kupang. Sebanyak 420 sampel ikan yang diambil setiap minggu per bulan dari November-Desember 2022. Sampel ikan Decapterus russelli dikumpul sebanyak 20 individu per minggu. Ikan Decapterus russelli yang dikumpulkan selama penelitian sebanyak 420 sampel, yaitu jantan 189 ekor dan betina 231 ekor. Sebaran ukuran panjang total ikan Decapterus russelli antara 14,4-36,2 cm. Hubungan panjang berat Decapterus russelli pada bulan November dan Desember bersifat alometrik negatif. Tingkat kematangan gonad yang paling dominan adalah TKG 2. Indeks kematangan gonad yang paling dominan antara ikan betina lebih besar dari ikan jantan yaitu (jantan) berada pada nilai 3-4%. Secara keseluruhan nisbah kelamin ikan Decapterus russelli bervariasi antara 1:1 pada bulan November dan Desember. Nilai rata-rata faktor kondisi ikan layang (Decapterus russelli) yaitu 1,01 menunjukan bahwa badan ikan layang tersebut kurang pipih atau montok
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
FREDERICO GUSMAU (16381546) Aspek Reproduksi Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) di Perairan Atapupu dan Sekitarnya (di bawah bimbingan: Alfred G.O.Kase, M.Si, Ph.D dan Ir Yohanes Merryanto, M.Si, Ph.D sebagai pembimbing I dan II). Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Ikan tuna merupakan komoditi ekspor andalan bernilai ekonomis sangat tinggi dari sektor perikanan bersama tongkol dan cakalang sesudah udang. Jenis tuna yang tertangkap di perairan Indonesia, antara lain sirip kuning (Thunnus albacares), tuna mata besar (Thunus obesus), albakora (Thunnus alalunga) dan tuna sirip biru (Thunnus maccoyi). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2021. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi aspek reproduksi ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) yang tertangkap di perairan Atapupu dan sekitarnya Kabupaten Belu. Data ikan tuna sirip kuning sebanyak 77 individu, sampel ikan tuna di kumpul setiap hari selama (Juni – Juli). Metode yang di gunakan penelitian adalah berupa pengamata langsung di lapagan. Metode pengambilan sampel adalah Random sampling.
Aspek Reprodusi yang di analisis yaitu hubungan panjang berat, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, faktor kondisi, dan nisbah kelamin ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) yang di kumpul sebanyak 77 individu terdiri dari jantan 30 dan betina 47 dengan panjang tertinggi 160 cm dan terendah 84 cm. Sebaran panjang dibagi dalam 10 kelompok ukuran banyak di tangkap 138-147 cm jumlah 9 individu pada ikan betina dan untuk jantan 156-165 cm sejumlah 6 inividu. sebaran kelas ukuran berat ikan tuna jantan dan betina didominasi oleh kelas interval 29–38 Kg sebanyak 17-13 individu (betina dan jantan). Hubungan panjang berat ikan tuna memiliki tipe pertumbahan alomtrik negatif (b<3). Tingkat kematangan gonad yang paling dominan selama penelitian adalah TKG I baik janntan maupun betina. Indeks kematangan gonad ikan tuna memiliki perbedaan dimana nilai IKG pada ikan jantan sejumlah 0,8 dan ikan betina sebanyak 0,9 di bulan Juni. Setelah di bulan Juli IKG ikan betina dan jantan sama-sama mngalami peningkatan dengan nilai IKG yang sama yaitu (1,2),(1,2). Faktor kondisi ikan tuna jantan tergolong sangat tinggi nilai 1,359 dan terendah 0,224 pada ikan betina memiliki bentuk tubuh kurang pipih. Nilai nisbah kelamin 0,6 dan jumlah jantan 30 individu 47 individu yaitu ikan jantan lebih sedikit dari betina