Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: Upacara
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB JEMAAT TIDAK MENGKONSUMSI MAKANAN PADA UPACARA ADAT KEMATIAN (STUDI DI JEMAAT BET’EL SAMBET KLASIS AMANATUN UTARA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN TAHUN 2022

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Yetri N. Nabuasa,2017. Judul skripsi “Faktor-faktor Penyebab Jemaat Tidak Mengkonsumsi Makanan Pada Upacara Adat Kematian (Studi di Jemaat Bet’el Sambet Klasis Amanatun Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2022)”. Skripsi Program Studi Ilmu Pendidikan Teologi(IPTH) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang. Nabuasa.N.Y (*) Pellu L.H. (**) Pabala.P.P (**) Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Faktor-faktor apakah yang menyebabkan jemaat tidak mengkonsumsi makanan pada upacara adat kematian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Faktor-faktor Penyebab Jemaat Tidak Mengkonsumsi Makanan Pada Upacara Adat Kematian (Studi di Jemaat Bet’el Sambet Klasis Amanatun Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deduktif kualitatif. Penelitian bersifat kualitatif karena berupa penelitian yang prosedurnya menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis/lisan. Lokasi penelitian ini dilakukan di jemaat Bet’el Sambet Klasis Amanatun Utara. Yang menjadi informasi dalam penelitian ini adalah seluruh warga jemaat Bet’el Sambet secara keseluruhan berjumlah 1001 orang, maka mengingat keterbatasan banyaknya informasi maka responden yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 20 orang jemaat. Untuk pengumpulan data penulis menggunakan wawancara dan angket. Dari hasil pengolahan data dan analisis, penulis menarik kesimpulan bahwa Agama tidak mengajarkan bahwa jemaat tidak boleh mengkonsumsi makanan pada saat upacara adat kematian, akan tetapi jemaat mempunyai kepercayaan terhadap mitos yang menyebabkan jemaat tidak mengkonsumsi makanan pada upacara kematian karena arwah orang yang meninggal memegang atau mencelupkan tangan pada makanan yang disajikan di atas meja dan arwah orang yang meninggal berbicara dengan jemaat. Dalam dunia kesehatan orang yang meninggal pasti mengeluarkan aroma tidak sedap jika orang tersebut sebelum meninggal mengidap suatu penyakit tertentu. Saran (1) Gereja perlu memberikan pastoral kepada jemaat yang tidak mengkonsumsi makanan pada saat upacara kematian agar jemaat dapat mengkonsumsi makanan pada upacara kematian. (2) Jemaat harus diberi pemahaman bahwa kesehatan tidak akan terganggu bila mengkonsumsi makanan pada upacara kematian dan jemaat tidak akan mengidap suatu penyakit apapun. (3) Kepercayaan jemaat untuk tidak dapat mengkonsumsi makanan pada upacara kematian perlu dihilangkan sehingga jemaat bisa mengkonsumsi makanan pada upacara kematian. Kata Kunci : Mengkonsumsi Makanan Pada Upacara Adat Kematian. Keterangan: Penulis(*) Pembimbing

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS REGISTER DALAM UPACARA WULLA PODDU DI KECAMATAN LOLI.

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berjudul " Analisis Register dalam Upacara Wulla Poddu di Kecamatan Loli" Penelitian ini didukung oleh pertanyaan yaitu (1) apa register dalam Upacara Wulla Poddu di Kecamatan Loli? dan (2) apa tipe-tipe register dalam Upacara Wulla Poddu di Kecamatan Loli? Dan tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui register dalam Upacara Wulla Poddu di Kecamatan Loli dan (2) untuk mengetahui tipe-tipe register dalam Upacara Wulla Poddu di Kecamatan Loli. Penelitian ini didukung oleh teori dari Halliday dan Hasan (1985) bahwa analisis wacana adalah istilah untuk sebuah studi tentang cara-cara dimana bahasa digunakan antara orang-orang, baik dalam teks tertulis dan konteks lisan. Deskriptif kualitatif digunakan sebagai metode dalam penelitian ini. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa upacara Wulla Poddu di Kecamatan Loli, terdapat 21 register dan tipe-tipe register yang terdapat beberapa tahapan seperti ambil dompet sakral, buang rumput, berdoa untuk leluhur, pengumuman, potong pohon pelidung, makan ubi, membersihkan kampung adat, makan bersama, perayaan hari gila, menanam padi, ucapan syukur, pengumuman acara telah selesai. Masyarakat yang ikut serta dalam upacara Wulla Poddu adalah para pemimpin adat, ibu dan bapak, Kodalaiya (penyambut tamu), penduduk asli, sembilan suku. Bahasa yang digunakan dalam upacara Wulla Poddu adalah bahasa Loli. Bagi penduduk Kecamatan Loli sangat penting dan harus diadakan setiap tahun. Oleh karena itu penelitian tentang masalah ini sangat penting, yang berarti untuk memperkenalkan kembali atau melestarikannya sehingga tetap hidup dan dipahami oleh generasi masa depan dan kebanggaan pada masyarakat Kecamatan Loli itu sendiri dan masyarakat pada umumnya di wilayah Nggiala Koko, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UPACARA KOWA SOISI Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Upacara Kowa Soisi (Minta Barang) dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Sion Alemba Klasis Alor Tengah Utara

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Upacara Kowa Soisi adalah upacara minta barang yang dilakukan oleh anak laki-laki sulung dalam keluarga kepada Pohon Pelepas (saudara laki-laki dari ibu). “Kowa” artinya barang dan “Soisi” artinya minta, sehingga secara harafiah Kowa Soisi adalah minta barang. Barang yang diminta dalam upacara ini adalah barang yang digunakan dalam kedukaan, seperti selimut atau sarung, ada juga padi dan hewan (berupa babi), beserta benda adat berupa moko. Barang yang diminta dalam dalam upacara ini pada akhirnya akan dihitung sebagai hutang yang harus dibayar. Hal ini yang menimbulkan konflik dan terjadi kerenggangan didalam keluarga. Penulis melakukan penelitin di Jemaat GMIT Sion Alemba, Klasis Alor Tengah Utara dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penulis menggunakan teori Richard Niebuhr yakni, Kristus, Transformator Budaya (Christ the Transformer of Culture) untuk menganalisis masalah yang ada dan memberi arah baru sehingga menghasilkan sesuatu yang baru yang sesuai dengan iman Kristen. Berdasarkan hasil analisis didapati bahwa cara meminta pertolongan, cara membangun dan mempertahankan persekutuan yang ada dapat memberatkan pihak yang pergi meminta barang serta pihak Pohon Pelepas dan tidak relevan dengan keadaan saat ini karena jika dipaksakan malah akan menimbulkan konflik. Sehingga dengan demikian perlu adanya transformasi atau pembaharuan dalam upacara ini. Dalam surat II Korintus, Paulus memberitahukan kepada jemaat di Korintus bahwa, sebagai persekutuan orang percaya, tetap saling menolong walau dalam keadaan susah. Hal ini menekankan pada ketulusan hati saat memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail