ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Fokus utama penulis dalam penelitian ini menyoroti tentang penggunaan nyanyian jemaat sebagai media kesaksian di GKS Jemaat Payeti. Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan gabungan yakni kualitatif dan kuantitatif dengan metode studi lapangan, studi pustaka dan survei. Sampel penelitian ini terdiri dari 110 orang yang mana 10 di antaranya menggunakan teknik purposive sampling sedangakan 100 lainnya menggunakan teknik formula Slovin. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh keresahan jemaat berkaitan dengan penggunaan nyanyian rohani kontemporer yang sama sekali bukan nyanyian yang biasanya dinyanyikan dalam ibadah karena kurangnya pemahaman terhadap nyanyian rohani kontemporer. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa jemaat memahami nyanyian sebagai media kesaksian, namun dalam praktik terjadi pergeseran dalam penggunaan nyanyian. Kini terdapat nyanyian rohani kontemporer yang mana dalam model nyanyian ini terdapat juga banyak nyanyian yang memiliki teologi yang keliru, hal ini juga tidak sesuai dengan buku nyanyian yang telah ditetapkan oleh Sinode GKS. Selain itu, terdapat juga nyanyian bukan rohani yang dinyanyikan oleh paduan suara. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus dan Kolose terbuka terhadap nyanyian-nyanyian lain, namun berkaitan dengan isi nyanyian pengajaran yang benar tentang Kristus menjadi tolok ukur terhadap nyanyian tersebut. Raja Daud memberikan teladan dalam mempersiapkan segala sesuatu secara serius berkaitan dengan pelayanan musik dalam Bait Suci. Demikian juga dengan gereja masa kini harus memberi perhatian yang penuh dalam nyanyian oleh karena nyanyian merupakan media yang Allah sediakan bagi umatNya untuk bersaksi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Fokus utama penulis adalah melihat spiritualitas kehidupan para perempuan penenun di GKS Jemaat Payeti. Kain tenun Sumba Timur adalah salah satu karya seni yang sangat indah dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, ada makna yang terdapat dalam setiap lembar kain tenun Sumba Timur melalui motif-motif yang digambar oleh para perempuan penenun. Namun dalam kenyataannya, ada berbagai pergumulan dan tantangan yang dihadapi oleh para perempuan penenun, tetapi mereka tetap berjuang untuk tidak meninggalkan pekerjaan menenun yang menjadi warisan budaya nenek moyang. Perjuangan para perempuan penenun inilah yang penulis temukan bahwa ada nilai-nilai spiritualitas dalam diri mereka. Terkait dengan spiritualitas perempuan penenun, penulis memakai pemahaman spiritualitas dari Jacob Daan Engel yaitu 6 tahapan spiritualitas diri seseorang di antaranya kesadaran diri, penerimaan diri, ketegasan diri, tujuan hidup, tanggung jawab diri, dan integritas diri. Adapun metode yang digunakan penulis yaitu studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan yaitu penulis melakukan wawancara kepada beberapa narasumber terkait masalah yang didalami, sedangkan studi pustaka yang di mana penulis menggunakan berbagai sumber buku dan jurnal yang dapat membantu penulisan ini. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, para perempuan penenun GKS Jemaat Payeti memberi diri bahkan mengorbankan diri mereka. Dalam proses menenun, ada pengorbanan, perjuangan, dan kerja keras perempuan demi harapan mereka untuk kebutuhan keluarga. Hal ini menunjukkan nilai-nilai spiritualitas diri mereka. Salah satu tokoh perempuan dalam Alkitab bernama Rut yang terus bertahan dan berjuang di tengah kesulitan dan pada akhirnya Allah menyatakan kuasa-Nya. Begitu halnya dengan perempuan penenun, Allah mengijinkan berbagai situasi sulit terjadi dalam kehidupan para perempuan penenun yang sesungguhnya membuat spiritualitas mereka semakin bertambah.