Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

3.533 item publik

Publikasi

Halaman 130 dari 177

PENYALURAN AIR IRIGASI PADA SALURAN UTAMA (PRIMER DAN SEKUNDER) PADA DAERAH IRIGASI DI DESA MATA AIR KECAMATAN KUPANG TENGAH TENGAH KABUPATEN KUPANG

OFRIANUS RADJA
2021 · Book · Open Access

ABSTRAK EFISIENSI PENYALURAN AIR IRIGASI MUSIM TANAM II PADA SALURAN IRIGASI DI DAERAH IRIGASI MANIKIN DESA MATA AIR KECAMATAN KUPANG TENGAH KABUPATEN KUPANG Radja Ofrianus * Lano, Marten ** Makaborang Marthen *** Mahasiswa Program Studi Mekanisasi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang Penelitian ini dilaksanakan di Daerah Irigasi Manikin Desa Mata Air Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang pada bulan juni 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efesiensi Penyaluran Air Irigasi pada musim tanam II di daerah irigasi Manikin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode pengapung dengan bola pimpong dan stopwacht, dengan langkah menentukan laju aliran air irigasi. Sepanjang jarak 5 meter, kemudian menggunakan bola pimpong untuk mengukur kecepatan aliran, dengan mengunakan stopwacht untuk mengetahui kecepatan yang terjadi pada aliran air irigasi 5m/detik. Kata kunci : meteran, stopwacht, bola pimpong, irigasi.Keterangan : * .Peneliti ** Pembimbing I ** Pembimbing II

ANALISIS STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS PADA VEGETASI MANGROVE DI PERAIRAN OESAPA BARAT

NATALIA DEBYANTI MANO
2021 · Book · Open Access

RINGKASAN NATALIA DEBYANTI MANO (16383325). Analisis Struktur Komunitas Makrzoobentos pada Vegetasi Mangrove di Perairan Oesapa Barat. WILSON L. TISERA, S.PI, M.SI, PH.D, M.Si sebagai Pembimbing I dan DONNY M. BESSIE, S.Pi., M.Si sebagai Pembimbing II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana-Kupang. Ekosistem hutan mangrove adalah suatu sistem yang terdiri dari oragisme ( vegetasi, satwa dan mikroorganisme) yang berinteraksi dengan sistem lingkungannya pada suatu habitat hutan mangrove. Makrozoobentos adalah hewan invertebrate yang hidup di dasar perairan. Oleh karena itu, komposisi dan struktur komunitas makrozoobentos yang hidup dalam perubahankualitas air. Makrozoobentos sering dipakai untuk menduga ketidak seimbangan lingkungan fisik, kimia, dan biologi perairan. Penelitian in bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas makrozoobentos yang meliputi kelimpahan dan keanekaragaman, keseragaman dan dominansi pada vegetasi mangrove di Perairan Oesapa Barat. Penelitian ini telah dilaksanakn pada bulan November 2020 bertempat di Pantai Paradiso dan Ekowisata Mangrove. Data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis yaitu data primer dan sekunder. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Purposive Sampling yaitu pengambilan sampel yang berdasrkan atas suatu pertimbangan tertentu seperti sifat-sifat populasi ataupun ciri-ciri yang sudah diketahui. Pengambilan sampel mangrove menggunakan metode Garis Transek dan Plot sedangkan pengambilan sampel makrozoobentos menggunakan Garis Transek dan Kuadran pada 2 stasiun. Hasil penelitian menunjukkan komposisi mangrove pada Pantai Paradiso dengan jumlah tegakan 38 dan pada Ekowisata Mangrove dengan jumlah tegakan 48. Komposisi jenis makrozoobentos yang terdiri dari 96 spesies yang terbagi dalam 3 kelas yaitu, Gastropoda 73 spesies, 23 famili dan 43 genus dengan jumlah 68 individu, Bivalvia 11 spesies, 6 famili dan 6 genus dengan jumlah 6 individu sedangkan Crustacea 6 spesies, 7 famili dan 9 genus dengan jumlah 11 individu. Kelimpahan makrozoobentos dengan jumlah tertinggi adalah Gastropoda 2151 individu. Nilai Keanekaragaman yang diperoleh di Pantai Paradiso 0.45 dan Ekowisata Mangrove 0.47. Sesuai kriteria keanekaragaman makrozoobentos di Pantai Paradiso dan Ekowisata Mangrove tergolong keanekaragaman rendah. Kata Kunci : Mangrove, Makrozoobentos, Kelimpahan, Keanekaragaman, Oesapa Barat

Struktur komunitas mangrove di desa fahiluka kecamatan malaka tengah kabupaten malaka

WEDELTRUDIS UDUK
2021 · Book · Open Access

RINGKASAN WEDELTRUDIS UDUK (15380016). Struktur Komunitas Mangrove di Desa Fahiluka Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka. Donny M. Bessie, S.Pi,M.Si., Imanuel J. Emola, S.Pi, M.Si Sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem wilayah pesisir yang sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan hidup, namun sejalan dengan pertambahan pemukiman di wilayah pesisir memberikan dampak terhadap ekosistem mangrove yakni berkurangnya luasan hutan karena mengalih fungsian kawasan ekosistem mangrove menjadi lahan pertambakan dan pemukiman. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui Struktur Komunitas hutan mangrove di Desa Fahiluka, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, yaitu melakukan pengamatan secara langsung di lapangan, sedangkan pengambilan contoh menggunakan“metode petak contoh”, dimana unsur-unsur populasinya atau vegetasi mangrove digolongkan berdasarkan tingkat kerapatan atau ketebalan mangrove. Metode pengambilan contoh dilakukan mengikuti pendekatan petak contoh yang berada pada garis transek yang ditarik melewati wilayah ekosistem mangrove. Data yang di ambil jenis jenis mengrove antara pohon, anakan dan semai dengan substrat dan kondisi lingkungan. Data yang dianalisis menggunakan analisisi komunitas (kerapatan jenis, kerapatan relaif jenis, frekuensi jenis, frekuensi relatif jenis, penutupan jenis, penutupan relatif jenis dan indeks nilai penting). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 4 jenis mangrove pada lokasi pengamatan yaitu Rhizopora mucronata, Sonaratia alba, Avecenia alba, Bruguiera cylindrica. Dari ke empat jenis tersebut jenis Rhizopora mucronata yang memiliki nilai tertinggi dari tingkat kerapatan jenis, kerapatan relaif jenis, frekuensi jenis, frekuensi relatif jenis, penutupan jenis, penutupan relatif jenis dan indeks nila penting.

Analisis Jenis Parasit Pada Ikan Tembang (Sardinella fimbriata) di Perairan Teluk Kupang Yang diDaratkan di Tempat Pendaratan Ikan Oeba Kota Kupang

MARIA JOSEVA LEDA
2021 · Book · Open Access

ABSTRAK MARIA YOSEVA LEDA (14380056) Analisis Jenis Parasit Pada Ikan Tembang (Sardinella fimbriata) di Perairan Teluk Kupang Yang diDaratkan di Tempat Pendaratan Ikan Oeba Kota Kupang. WILSON L. TISERA, S.Pi, M.Si, Ph,D. dan DONNY M. BESSIE, S.Pi, M.Si sebagai pembimbing I dan pembimbing II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Indonesia merupakan Negara Maritim (Maritim state) karena 75% wilayah Indonesia merupakan lautan.Potensi ikan di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 1,4 triliun dan produktivitas ikan di Indonesia sebanyak 6,04 juta ton (KKP 2018). Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi sumber daya perikanan laut yang melimpah yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT) salah satunya adalah Kota Kupang. Ikan Tembang merupakan salah satu sumberdaya ikan ekonomis penting di perairan.Parasit merupakan agen infeksi yang banyak ditemui pada ikan. Parasit pada ikan laut ditentukan oleh distribusi geografis (Wisnu Nurcahyo, 2018). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis parasit pada tubuh ikan Tembang (Sardinella fimbriata) khususnya pada bagian kulit, darah, usus dan insang serta menghitung jumlah prevelensi, intensitas, dan dominasi dari parasit yang ditemukan. Penelitian ini telah dilaksanakan selama satu bulan (Januari-Februari) 2020 di Tempat Pendaratan Ikan Oeba dan Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, dari parasit yang ditemukan pada ikan Tembang (Sardinella fimbriata). Ikan sampel diambil dari nelayan yang berjualan di Tempat Pendaratan Ikan Oeba. Hasil penelitian menunjukan bahwa Ikan Tembang (Sardinella fimbriata) juga diserang oleh parasit. Pada ikan Tembang (Sardinella fimbriata) yang berasal dari TPI Oeba ditemukan tiga (3) jenis parasit yaitu Parasit Anisakis dan parsit Lopeoptherus ditemukan menempel pada usus ikan, sedangkan parasit Diclidophoridae ditemukan di insang ikan sampel. Pada umumnya parasit tidak berparasit pada tubuh ikan karena parasit membutuhkan inang spesifik atau inang pilihan untuk melangsungkan hidupnya karena pada kulit dan darah tidak terdapat inang spesifik yang disebabkan oelh perlakuan yang dilakuak nelayan dengan menyimpan dan mengawetkan ikan di dalam boks menyebabkan tidak ditemukan pada darah dan kulitPrevelensi menunjukan ikan yang terserang parasit lebih banyak dari pada ikan yang diperiksa dengan jumlah dari prevelensi yang di dapatkan dari hasil pengamatan yakni 52 %. Intensitas serangan dari parasit yang ditemukan yakni 1,95 jumlah yang di dapatkan maka dapat di lihat tingkat serangaannya adalah ringan.Di Perairan Teluk Kupang parasit yang mendominasi paling besar adalah parasit, Diclidophoridaedengan dominasi 87,80%.

Struktur Komunitas Makrozoobenthos Pada Ekosistem Mangrove Di Perairan Desa Dualaus Kecamatan Kakuluk Mesak Kabupaten Belu

MARIA KRISTINA IRMA YANTI BONE
2021 · Book · Open Access

MARIA KRISTINA IRMA YANTI BONE (16383414).Struktur Komunitas Makrozoobenthos Pada Ekosistem Mangrove di Perairan Desa Dualaus Kecamatan Kakuluk Mesak Kabupaten Belu. Wilson L.Tisera,S.Pi.M.Si.,Ph.D sebagai pembimbing I dan Rokcie R. L. Supit, S.Pi. M.Si sebagai pembimbing II, Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Struktur Komunitas Makrozoobenthos di Perairan Desa Dualaus Kecamatan Kakuluk Mesak Kabupaten Belu dapat dijadikan sebagai konsep dasar dalam pengelolaan sumberdaya berkelanjutan. Perairan di Desa Dualaus telah banyak mengalami kerusakan dan degradasi seiring dengan bertambahnya penduduk dan pesatnya pembangunan dikawsan pesisir untuk berbagau keperluan dalam segi ekonomi. Jika aktivitas tersebut terus berlanjut maka akan menyebabkan rusaknya ekosistem dan akan berdampak bagi kehidupan makrozoobenthos. Tujuan untuk mengetahui struktur komunitas makrozoobenthos yang meliputi kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dominansi. Penelitian telah dilaksanakan selama 2 bulan yakni dari bulan Oktober – November 2020 di Peraira Desa. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, dimana peneliti menentukan pengambilan data mangorove dan sampel dengan cara menetapkan ciri – ciri khusus dan menetapkan tiitk stasiun yang sesuai dengan tujuan penelitian. Penelitian ini dilakukan di tiga stasiun yakni stasiun I arah depan mangrove tepatnya berdapan dengan laut ± 30 m waktu air surut, stasiun II ekowisata, stasiun III berdekatan dengan tambak ± 4- m dari kawasan tambak. Pengukuran parameter kualitas perairan dilakukan secara langsung di lokasi yang meliputi Suhu, Salinitas, pH, dan Substrat. Hasil pengamatan jenis mangrove yang ditemukan di Perairan Desa Dualaus adalah Sonneratia alba, Rhizophora apiculata, Bruguira gimnorrhiza, Avicennia marina, Avicennia alba, Avicennia lanata. Analisis makrozoobenthos kelimpahan jenis berkisar antara 0- 175ind/m2 . Kelimpahan relative berkisar antara 0,06-97,26, keanekaragaman berkisar 0,96- 1,38, keseragaman berkisar 0,26-0,38 dan dominansi berkisar 0,996-1,04. Pengukuran kualitas perairan yang di dapat meliputi: Suhu 32-340C, salinitas 31-34‰, pH 7,6 - 7,8 serta substrat berpasir berlumpur, dimana substrat berpasir berlumpur terdapat pada staiun I dan III sedangkan untuk stasiun II dengan tipe substrat berlumpur. Berdasarkan hasil analisis menunjukan komunitas makrozoobenthos di perairan Desa Dualaus mempunyai keanekaragaman yang sedang yang mrnunjukan bahwa penyebaran individu tiap jenis cenderung hampir seimbang dan juga adanya spesies yang dominan.

“PELAYANAN BAGI KAUM DIFABEL DI JEMAAT” Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Realita Pelayanan Gereja Bagi Anak-anak yang Lumpuh Sejak Lahir dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Lahairoi Kuanheun

TRIFENA YULIA SAU
2021 · Book · Open Access

Warga Jemaat GMIT Lahairoi Kuanheun adalah salah satu jemaat yang berada di wilayah Klasisi Kupang Barat yang berlokasi di Desa Kuanheun, Kecamatan Kupang Barat. Jemaat di tempat ini melakukan banyak pelayanan dalam satu (1) tahun baik itu pelayanan Firman dan pelayanan diakonia untuk janda, duda, lansia, anak yatim-piatu. pelayanan diakonia untuk anak-anak disabilitas yang diambil oleh penulis untuk dikaji dalam penulisan karya ini. Topik permasalahan yang menjadi perhatian penulis adalah tentang anak-anak yang lumpuh sejak lahir dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Lahairoi Kuanheun. Apa yang penulis berusaha untuk mengalih realita anak-anak disabilitas di jemaat dan pandangan jemaat tentang anak-anak tersebut. Dalam penelitian bagi skripsi ini penulis memakai metode kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah. Dimana peneliti adalah instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive. Teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan). Analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna. Karena menggunakan metode kualitatif maka penulis memilih 21 orang sebagai sampel ini ditambah dengan 3 keluarga/orangtua dari anak-anak disabilitas yaitu keluarga ZS memiliki 3 orang anak, keluarga MT memiliki 3 orang anak dan AL memiliki 4 orang anak. Hasil penelitian penulis menemukan bahwa pelayanan yang dilakukan oleh gereja kepada anak-anak disabilitas yaitu pelayanan diakonia yang dilakukan satu tahun pelayanan adalah dua bulan sekali, pelayanan itu dilakukan bersamaan dengan pelayanan untuk janda, duda, lansia, anak yatim-piatu. Sehingga melihat hal ini bahwa pelayanan yang dilakukan oleh gereja kepada anak-anak disabilitas hanyalah sebatas pelayanan diakonia saja, tentu pelayanan yang diberikan itu tidaklah cukup tetapi harus adanya pelayanan yang membangun realita/relasi dalam jemaat dan gereja.

ANAK PANTI ASUHAN DAN PEMELIHARAAN ALLAH “Suatu Tinjauan Teologis Sosial Tentang Peran Sosial GMIT Ebenhaezer Oeba dalam Kehidupan Anak-Anak Panti Asuhan Kristen GMIT 221 Oeba dan Implikasinya bagi GMIT Masa Kini”

DEA ARINDA ARIESTA MBADO
2021 · Book · Open Access

Kemiskinan merupakan suatu standar hidup yang rendah yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah orang. Kemiskinan biasanya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok seperti pangan, pakaian, dan papan sebagai tempat berteduh. Nusa Tenggara Timur secara khusus Kota Kupang yang adalah ibu kota provinsi pun tidak luput dari persoalan kemiksinan tersebut. Oleh karena itu pemerintah memberikan perhatian kepada masyarakat yang terdampak kemiskinan secara khusus kepada anak-anak yang berpotensi terlantar dengan membangun panti asuhan. Menanggapi persoalan kemiskinan tersebut, maka Gereja juga turut terpanggil untuk menyatakan keprihatinannya melalui peran sosial Gereja. Dalam penulisan ini, penulis akan menggambarkan tentang peran sosial GMIT Ebenhaezer Oeba bagi pemeliharaan anak-anak Panti Asuhan Kristen ( PAK) GMIT 221 Oeba dipandang dari teori Teologi sosial. Tujuannya agar Gereja-gereja masa kini bisa dapat belajar dari peran sosial tersebut untuk lebih memfokuskan arah keterlibatannya dalam menanggapi persoalan sosial. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian lapangan dan penelitian pustaka. Penelitian pustaka yang digunakan adalah dengan menggunakan sejumlah literatur yang dapat menunjang penelitian ini. Penulis juga melakukan penelitian lapangan dengan lokus penelitian ialah Panti Asuhan Kristen(PAK) GMIT 221 Oeba. Untuk mengetahui mengenai peran sosial GMIT Ebenhaezer Oeba, maka penulis memilih beberapa orang seperti pendeta, penatua, diaken, pengurus panti dan juga anak-anak panti untuk memberikan informasi yang dibutuhkan. Berdasarkan hasil penelitian sesuai teori teologi sosial yang penulis gunukan untuk mengkaji peran sosial Gereja, maka hal yang penulis temukan ialah peran sosial yang dilakukan oleh GMIT Ebenhaezer Oeba didasari pada motifasi yang benar yaitu dengan melihat pada apa yang Yesus lakukan sehingga tindakan itu diteruskan kepada anak-anak Panti Asuhan Kristen GMIT 221 yang datang dari latar belakang kemiskinan. Peran sosial Gereja yang dilakukan oleh gereja juga memiliki ciri pembeda dengan peran sosial yang dilakukan oleh pemerintah. Peran sosial yang dilakukan oleh gereja juga turut menolong anak-anak tersebut untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak. Hal selanjutnya yang penulis temukan ialah melalui peran sosial ini, GMIT Ebenhaezer Oeba melakukan tindakan pemeliharaan yang ditunjukan melalui pengelolaan dan pendanaan bagi keberlangsungan hidup anak-anak di Panti Asuhan Kristen GMIT 221. Peran sosial yang dilakukan oleh GMIT Ebenhaezer Oeba merupakan bentuk pemeliharaan Allah bagi anak-anak Panti Asuhan Kristen GMIT 221.

STRUKTUR KOMUNITAS GASTROPODA DI EKOSISTEM MANGROVE PANTAI BAKAU TESABELA DESA TESABELA KECAMATAN KUPANG BARAT KABUPATEN KUPANG

LEWIN RICARD BUAN
2021 · Book · Open Access

LEWIN RICARD BUAN (16381220). Struktur Komunitas Gastropoda Di Ekosistem Mangrove Pantai Bakau Tesabela Desa Tesabela Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang. Wilson L. Tisera, S.Pi,. M.Si,. Ph.D dan Donny M. Bessie, S.Pi,. M.Si sebagai Pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Ekosistem mangrove merupakan habitat dari berbagai jenis biota laut, termasuk biota penempel. Salah satu biota adalah gastropoda. Desa Tesabela mempunyai potensi hutan mangrove yang cukup baik untuk kehidupan gastropoda, karena keadaan substratnya yang berpasir dan berlumpur, sangat mendukung kehidupan gastropoda. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur komunitas gastropoda meliputi Kerapatan, Kelimpahan, Indeks Keanekaragaman, dan Indeks Dominasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober – November 2020. Pengambilan data mangrove dilakukan dengan metode transek plot/petak dengan ukuran 10 m x 10 m. Pengambilan data gastropoda dilakukan dengan menempatkan plot 10 m × 10 m mangrove, dimana pada plot tersebut terdapat sub plot ukuran 1m×1m yang diletakkan untuk mengamati dan mengidentifikasi biota gastropoda. Pengukuran parameter secara langsung di lokasi. Parameter lingkungan yang diukur pada penelitian ini adalah suhu, salinitas, pH, DO dan substrat dilihat secara visual. Hasil penelitian menunjukan di daerah bakau 5 spesies mangrove yaitu Rhizophora mucronata, Soneratia alba, Rhizophora stylosa, Obsornia octodonta dan Scyphiphora hydrophyllaeae. Kerapatan jenis mangrove tertinggi adalah spesies Rhizophora mucronata dengan nilai kerapatan 0,11 ind/m² dan kerapatan jenis terendah adalah spesies Scyphiphora hydrophyllaeae dengan nilai 0.01 ind/m² sedangkan ditemukan 12 spesies gastropoda yaitu Nerita balteata,Nerita articulate, Terebralia palustris,Terebralia sulcata, Cerithium coralium, Clypeomorus pellucida, Nassarius olivaceus, Semiricinula muricoides, Monodonta sp, Nerita picea, Lataxiena blosvillei dan Littoraria scabra. Kelimpahan jenis tertinggi adalah spesies Terebralia sulcata dengan nilai kelimpahan sebesar 10.19 ind/m². Kelimpahan terendah adalah jenis Lataxiena blosvillei dan jenis Littoraria scabra dengan nilai kelimpahan sebesar 0.11 ind/m². kelimpahan relatif tertinggi adalah spesies Terebralia sulcata dengan nilai kelimpahan sebesar 35.85%. Kelimpahan terendah adalah jenis Lataxiena blosvillei dan jenis Littoraria scabra dengan nilai kelimpahan sebesar 0.39 %, Keanekaragaman Gastropoda tertinggi mencapai 0.7 pada transek I, keanekaragaman terendah 0.6 pada transek II dan transek II. Nilai indeks dominansi gastropoda mencapai 0,3 pada transek I dan II, serta sebesar 0.23 pada transek III. Nilai indeks dominansi termasuk dalam kategori yang rendah karena nilai mendekati kriteria 0 ( Nol ). Parameter kualitas perairan yang ukur yaitu suhu, DO, pH dan substrat

RITUS KEMATIAN DI JEMAAT KAMBAJAWA SuatuTinjauanTeologisTerhadapPemahamanAnggotaJemaatKambajawaTentangRitusKematian, Dan Implikasinyabagikehidupanberjemaat di GKS Kambajawa

APRIYANTO PANDULU LAMADUAN
2021 · Book · Open Access

Ritus kematian merupakan warisan budaya yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Sumba Timur di Jemaat Kambajawa, karena di dalamnya termuat nilai, norma atau aturan-aturan yang mengatur sistim kehidupan bersama, yang diwarisi dari generasi-ke-generasi. Tidak dapat dipungkiri praktik ritus kematian telah menimbulkan persoalan di kalangan Jemaat Kambajawa, karena dipandang telah menyalahi aturan dan ajaran gereja. Praktik ritus ini, sangat berkaitan erat dengan aliran kepercayaan Marapu, yang memiliki perbedaan konsep berpikir dengan ajaran iman Kristen. Akan tetapi, praktik ritus kematian masih tetap dilakukan oleh jemaat, dengan berbagai unsur pemahaman di dalamnya. Melihat fenomena ini, penulis merasa penting untuk mengkaji secara mendalam terkait dengan pelaksanaan ritus kematian dengan berbagai unsur pemahaman di dalamnya, dan pandangan GKS Jemaat Kambajawa terkait hal ini. Oleh karena itu, penulis menggunakan metode penilitian kualitatif untuk membantu penulis ketika melakukan penilitian lapangan dan penilitian pustaka untuk merefleksikan secara teologis terkait persoalan tersebut. Hasil analisis menunjukan bahwa pelaksaan ritus kematian dilakukan dengan pemahaman-pemahaman yang keliru dan bertentangan dengan ajaran gereja. Beberapa jemaat masih menganggap bahwa keselamatan dapat dicapai melalui usaha mereka ketika menjalankan ritus kematian dengan sebaik mungkin. Penyebab masih dilakukannya praktik ritus kematian di kalangan jemaat, karena dipengaruhi oleh faktor budaya, kekerabatan dan lingkungan sosial yang menuntut mereka untuk melakukan hal tersebut. Jemaat berada dalam keadaan dualisme. Pada satu sisi, jemaat masih menjalankan tradisi budaya mereka, dalam hal ini pelaksanaan ritus kematian, sedangkan di sisi yang lain mereka adalah orang Kriten yang telah mengaku percaya bahwa Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Gereja terus menggumuli persoalan ini untuk menolong jemaat agar dapat memahami, bahwa beberapa unsur dalam pelaksanaan ritus kematian, telah menyalahi aturan dan ajaran gereja. Kematian merupakan siklus hidup manusia, yang dapat terjadi kapan saja. Orang Kristen meyakini bahwa setelah kematian bukan akhir dari segala sesuatu, tetapi jalan menuju kepada kemuliaan Tuhan Allah. Yesus Kristus telah mati untuk keselamatan manusia dan inilah kabar baik bagi ciptaan-Nya. Oleh karena itu, kehidupan orang Kristen bukan lagi untuk mencari keselamatan melainkan untuk menghargai keselamatan yang sudah diterima. Dengan menyadari akan persoalan ini, maka penting sekali untuk memberikan pemahaman-pemahaman yang jelas kepada jemaat, dan bagaimana cara yang seharusnya dilakukan mereka ketika berhadapan dengan peristiwa kematian.

PROGRAM BUDI DAYA BABI Suatu Tinjauan Pembangunan Jemaat Terhadap Program Budi Daya BabiOleh Kaum Bapak GMIT Lanud El Tari Penfui dan Implikasinyabagi Jemaat GMIT Lanud El Tari Penfui

VICTOR IMANUEL HAIRMO
2021 · Book · Open Access

Kesenjangan ekonomi merupakan suatu realita kehidupan bermasyarakat maupun berjemaat yang sering terlihat dalam kehidupan setiap hari. Kesenjangan ekonomi sendiri timbul karena adanya kesenjangan pendapatan, kesenjangan kekayaan, dan jurang antara kaya dan miskin. Kesenjangan-kesenjangan ini mengacu pada persebaran ukuran ekonomi di antara individu dalam kelompok, kelompok dalam populasi, atau antar negara. Gereja dalam hal ini Jemaat GMIT Lanud El Tari Penfui berupaya untuk menghadapi masalah kesenjangan ekonomi di jemaat. Upaya gereja dalam mengatasi kesenjangan adalah dengan membuat sebuah program yang dikoordinir oleh UP Kaum Bapak, program ini bernama “budi daya babi bibit”. Penulis melakukan penelitian terhadap program ini untuk mengetahui sejauh mana program ini berdampak pada pembangunan ekonomi dalam jemaat. Melalui penelitian ini penulis melihat gambaran umum Jemaat GMIT Lanud El Tari Penfui, kemudian bagaimana kehadiran program budi daya babi, apakah program ini sesuai dengan aspek-aspek pembangunan jemaat, lalu penulis merefleksikan upaya pembangunan jemaat melalui program ini. Dari poin-poin ini penulis kemudian melakukan penelitian dengan metode penelitian kualitatif. Metode ini penulis pilih dengan tujuan untuk menjelaskan suatu fenomena dengan sedalam-dalamnya, dengan cara pengumpulan data yang sedalam-dalamnya pula, agar dapat menunjukan pentingnya kedalaman dan detail suatu data yang diteliti. Penulis menyajikan hasil penelitian dengan memakai metode penulisan deskripsi, analisis dan refleksi. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa di Jemaat GMIT Lanud El Tari Penfui juga tercipta kesenjangan ekonomi seperti; ada jemaat yang memiliki pendapatan yang tetap dan ada yang tidak, ada jemaat yang memiliki pendapatan sesuai upah minimum rupiah bahkan lebih, namun ada juga jemaat yang hidup dengan pendapatan yang tak pasti. Hal-hal ini membuat terciptanya kesenjangan ekonomi di dalam jemaat ini. Program budi daya babi yang diupayakan dalam gereja ini sesuai dengan aspek-aspek pembangunan jemaat. Penulis juga menggunakan analisis sosial yaitu analisis,Strength, Weaknesses, Oportunities, Threats(SWOT) untuk melihat seberapa besar dampak yang dimiliki program seperti kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada pada program. Melalui program ini penulis menemukan bahwa jemaat berhasil diberdayakan secara ekonomi. Secara perlahan kehidupan jemaat menjadi lebih baik dan kesejahteraan dalam jemaat perlahan mulai terpupuk. Kesenjangan secara perlahan mulai terkikis dan pembangunan jemaat terwujud dalam jemaat. Dengan demikian gereja berhasil mengupayakan tanda-tanda Kerajaan Allah, dengan memunculkan adanya Shalom Allah di tengah-tengah jemaat.

MAKNA NEHE TUAN DALAM URUSAN ADAT PERKAWINAN Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Makna Nehe Tuan Dalam Urusan Adat Dan Iimplikasinya Bagi Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot

KORNALIA ATAMAI
2021 · Book · Open Access

Pulau Semau adalah sebuah pulau yang terletak di antara teluk Kupang dan pulau Rote. Yang dikenal dengan sebutan Nusa Bungtilu yaitu pulau bunga tiga warna. Orang-orang Helong Bungtilu khususnya Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot begitu memelihara budaya mereka, sehingga mereka tidak membiarkan kebudayaan mereka memudar apalagi sampai punah. Semua tradisi sejak kelahiran hingga kematian bahkan aspek kehidupan mereka masih dipertahankan dan terus dilakukan hingga saat ini. Pergumulan yang dihadapi oleh Jemaat Sonaf Neka Huilelot tidak hanya menyangkut pertumbuhan rohani melainkan juga menyangkut hal-hal yang menyangkut jasmani. Gereja hadir dengan melihat potensi-potensi yang ada dan memperdayakannya menjadi kekuatan untuk terlepas dari lingkaran hambatan yang ada. Nehe tuan adalah sebuah tradisi yang dilakukan oleh suku Helong dalam urusan adat perkawinan yang di dalamnya dapat melibatkan keluarga laki-laki dan perempuan. Untuk seluruh urusan adat yang berlangsung di atas nehe tuan akan dipimpin oleh Kaka Ama. Jemaat juga mendukung adanya nehe tuan dalam suku Helong karena ada sejumlah nilai-nilai positif yang dapat mendukung pelayanan dalam jemaat. Oleh karena itu nehe tuan masih terus digunakan sampai saat ini karena memilki nilai persaudaraan, solidaritas dan rasa saling memiliki. Ada pula tema-tema dominan yang terdapat dalam tradisi nehe tuan yakni adanya identitas tentang asal-usul Suku Helong ,terjalinnya sebuah hubungan persaudaraan/peresekutuan dan adanya nilai kesetaraan yang terjalin dengan baik. Nehe tuan merupakan warisan budaya leluhur yang terus dipraktekkan dan dilaksanakan oleh masyrakat Helong Bungtilu di desa Huilelot sampai saat ini. Tradisi nehe tuan yang dimaksudkan untuk memperhatikan sesama dengan menjalin dan memperat hubungan persaudaraan/persekutuan serta kesetaraan diantara mereka. Tradisi ini juga memiliki nilai dan makna yang baik yaitu memberikan dukungan dan perhatian kepada sesama keluarga, sikap saling menghargai, menghormati serta mengasihi. Inilah yang membuat mereka mempertahankan tradisi ini. Untuk itu dalam upaya kontekstualisasi, penulis menggunakan pendekatan yang diajukan oleh Stephan Bevans, yaitu Model Antropologis. Karena dengan model ini menolong penulis dalam menanggapi makna dan isi dari budaya tersebut. Pembahasan mengenai persaudaraan/persekutuan, dan kesetaraan yang ada dalam tradisi nehe tuan, diharapkan memberikan sumbangsi yang baik bagi wilayah pelayanan Semau Tengah Utara, khususnya Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot.

Kasihilah musuhmu!

DEBORA SELAN
2021 · Book · Open Access

ABSTRAK Injil Lukas ditulis oleh Lukas sang tabib, teman seperjalanan Paulus. Injil ini diperkirakan ditulis pada tahun 60an M-80 M, di wilayah Hellenis. Tujuan dari Injil Lukas ditulis yaitu ingin menjawab pergumulan yang ada dalam jemaat yang mengalami penganiayaan, penindasan, penderitaan dan selalu dipandang hina. Surat ini ditulis kepada Teofilus, tetapi nama itu hanya simbol bagi jemaat pembaca Injil ini secara luas. Jemaat dimaksud berada dalam kondisi yang menegangkan di berbagai bidang kehidupan. Di bidang politik, kaisar-kaisar Romawi, misalnya Nero, memerintah dan berkuasa dengan cara yang menindas dan menyengsarakan rakyat. Orang Kristen kerap menjadi kambing hitam dan mengalami berbagai penderitaan. Di bidang ekonomi, masyarakat terbagi dalam kelas-kelas, yakni kelas atas, menengah dan bawah. Keadaan ini membuat mereka yang pada kelas atas menindas kelas bawah. Demikianpun pada konteks keagamaan terdapat agama Yunani-Romawi, dewa-dewa Yunani, agama misteri, penyembahan kepada kaisar, dan agama Yahudi yang tidak sejalan dengan ajaran Kristen. Dalam perkembangan agama Kristen mengalami berbagai penganiayaan baik dari para bangsawan Romawi maupun dari komunitas agama Yahudi sendiri yang menganggap mereka menyebarkan ajaran yang memfitnah ajaran Yahudi. Sehingga pada saat itu orang-orang Kristen dimusuhi oleh bangsawan Romawi maupun komunitas agama Yahudi. Dalam konteks ini, Lukas 6:27-36 mencatat tentang “mengasihi musuh” yang merupakan landasan bagi orang Kristen dalam bagimana seharusnya mereka merespon setiap ketidak-adilan, penindasan dan penganiayaan. Yesus, dalam pengajaran-Nya, ingin agar para murid dan orang yang mendengarkanNya dapat mengasihi musuh mereka dengan kasih agape. Kata agape ini menunjuk pada kebajikan yang tak kenal akhir, kebaikan hati yang tak kenal batas dan kehendak baik yang tak kenal menyerah. Pengajaran ini merupakan pengajaran yang secara radikal menghapuskan segala batas sehingga musuh pun tercakup sebagai orang yang harus dikasihi. Selanjutnya, pengajaran ini bukan hanya sebatas mengasihi di dalam hati saja tetapi diwujudnyatakan dalam tindakan konkret, yaitu berbuat baik dan memberi. Penindasan dan ketidakadilan juga dialami oleh Jemaat GMIT Sebiji Sesawi Tuadale. Sebanyak 13 keluarga digusur pada tanggal 28 Mei 2018, tujuh (7) rumah diantaranya adalah milik anggota Jemaat GMIT Sebiji Sesawi Tuadale. Penggusuran 13 keluarga ini berdasarkan tuduhan penarikan hiba dan dalam keputusan pengadilan 13 keluarga kalah dalam kasus sengketa tanah di desa Lifuleo-Tuadale. Tetapi setelah keputusan pengadilan keluar 13 keluarga tersebut mengajukan naik banding dan dari keputusan Mahkamah Agung mereka dinyatakan menang pada tahun 2020 bulan juli. Akibat pengusuran ini korban penggusuran trauma, marah sakit hati, bahkan membenci penggugat. Malam setelah terjadi penggusuran, rumah milik penggugat dibakar oleh orang yang tidak dikenal. Tindakan ini jelas tidak sejalan dengan pengajaran Yesus tentang kasih sebagaimana dicatat Lukas 6:27-26. Kasih agape patut diwujudkan dalam tindakan nyata orang-orang Kristen kepada siapa pun tanpa kecuali. Mengasihi orang yang tidak mengasihi atau membenci bukanlah sesuatu yang mudah. Tetapi inilah yang dikehendaki Yesus dan hanya orang Kristen yang dipenuhi oleh Roh Kudus yang dapat menunjukan kasih agape yang sejati itu.

RITUS PEMMAU DO MADE

ARTININGTIAS LAKE PALI
2021 · Book · Open Access

ABSTRAK Kebudayaan merupakan hasil karya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya agar mampu bertahan dalam lingkungan sosial atau lingkungan alam di mana ia hidup. Salah satu warisan kebudayaan itu adalah ritus Pemmau Do Made. Ritus ini adalah ritus yang dilakukan keluarga duka setelah penguburan orang mati dengan tujuan-tujuan tertentu. Namun, kebutuhan hidup masyarakat yang sudah semakin berkembang, menyebabkan banyaknya masyarakat yang memilih untuk tidak lagi melakukan ritus Pemmau Do Made. Pihak gereja (presbiter) dan pemerintah desa pun turut memberi himbauan kepada masyarakat untuk tidak lagi melakukan ritus ini, dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Penulis melihat tindakan gereja (presbiter) dan pemerintah desa merupakan suatu bahaya akan hilangnya warisan budaya. Padahal, ritus ini memiliki nilai baik yang harusnya dilestarikan dalam kehidupan masyarakat. Dalam kajian ini, penulis menawarkan satu metode dialog yakni metode dialog liberal – mencari kebenaran sebagai metode penulisan. Metode ini digunakan sebagai solusi bagi gereja dalam upaya pemberitaan Injil yang kontekstual dan pada saat yang sama tidak menghilangkan warisan-warisan kebudayaan. Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dipakai penulis yaitu teknik triangulasi, yaitu observasi partisipasi dan wawancara. Dalam penelitian, diketahui bahwa ritus Pemmau Do Made memiliki nilai-nilai yang baik. Nilai yang pertama adalah penghargaan kepada leluhur. Kenyataan bahwa leluhur mereka telah banyak mewariskan hal baik untuk tetap menjaga relasi emosional mereka dengan para leluhur (aspek mistik). Nilai yang kedua, berkaitan dengan relasi sosial mereka sebagai upaya untuk menjaga relasi dengan sesama (aspek sosial). Kemudian, nilai-nilai ini dilihat sebagai hal baik yang penting untuk tetap dilestarikan dan juga menjadi perhatian masyarakat, pemerintah dan gereja. Gereja khususnya, sebagai suatu persekutuan (Koinonia), yang tumbuh di tengah masyarakat yang berbudaya dengan konteks seperti ini, gereja bisa belajar dari budaya. Gereja seharusnya mampu melihat hal yang baik dari budaya dan memperkaya teologi. Namun, sikap toleransi ini berlaku sejauh tidak bertentangan dengan ajaran gereja.

MARI BERSAAT TEDUH

EBIT GILBERD BULE LOGO
2021 · Book · Open Access

Dalam kehidupan umat Kristen, beribadah kepada Allah melalui Yesus Kristus merupakan salah satu bentuk ucapan syukur atas karya penyelamatan yang dilakukan bagi umat manusia dan dunia ini. Selain itu, beribadah juga dapat membantu umat Kristen agar dapat membangun hubungan yang erat dengan sang pencipta. Salah satu hal yang dapat membantu umat kristen membangun hubungan yang erat dengan sang pencipta ialah saat teduh dalam liturgi kebaktian. Namun dalam realitas yang terjadi, saat teduh masih sering diabaikan dalam liturgi kebaktian. Contohnya ialah pada pelaksanaan saat teduh di Jemaat GMIT Lahairoi Tuaksabu Lasiana. Melihat masalah yang terjadi diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih dalam untuk mengetahui gambaran umum jemaat, pemahaman jemaat terhadap saat teduh, realita pelaksanaan saat teduh jemaat, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman dan pelaksanaan saat teduh tersebut. Dari point-point di atas, penulis melakukan penelitian dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode ini dipilih dengan tujuan agar dapat menolong dalam mencari pengertian yang mendalam tentang suatu gejala, fakta atau realita masalah, serta peristiwa yang dapat dipahami. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan observasi langsung dan wawancara mendalam dengan narasumber kunci. Dalam penyajian hasil penelitian, penulis menggunakan metode penulisan deskripsi, analisis, dan reflektif. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa Jemaat GMIT Lahairoi Tuaksabu Lasiana memiliki pemahaman mengenai saat teduh yang beragam. Pemahaman yang beragam itu kemudian mempengaruhi pelaksanaan saat teduh di jemaat tersebut. Bahkan ada jemaat yang mengakui dirinya sering melalaikan pelaksanaan saat teduh tersebut. Alkitab yang diyakini sebagai sentral dalam ibadah, juga diyakini menjadi dasar refleksi teologis dalam berbagai aspek. Salah satunya ialah untuk merefleksikan saat teduh di dalam pelaksanaan kebaktian jemaat. Selain melihat pendasaran Alkitab, pemahaman teologis tentang saat teduh juga dapat dilihat dari buku-buku dan narasumber ahli berkaitan saat teduh. Dengan demikian dapat membantu jemaat memahami pentingnya saat teduh untuk mengingat penyertaan Tuhan dalam kehidupan jemaat, serta menyadari kerapuhan dalam diri tiap jemaat yang membutuhkan Allah merengkuh kerapuhan tersebut.

MAKNA MIMBAR “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Makna Mimbar Cawan di Jemaat GMIT Bet’el Oesapa Tengah, Klasis Kota Kupang Timur.”

RUT PUTRI DETHAN
2021 · Book · Open Access

Jemaat GMIT Bet’elOesapa Tengah merupakan salah satugerejatertua di Kupang.Gerejainimemilikimimbarberbentukcawanperjamuan kudus denganmaknateologiskhusus.Secarade factojemaatinisudahadasejakTahun 1825 haliniditandaidenganberdirinyaSekolah Rakyat (SR) 3 tahun dan Pos PekabaranInjil (PI). Sejaktahun 1875 pelayananSakramenBaptisan Kudus yang pertamadijalankan di jemaatini. Penelitianiniberfokus pada presepsiJemaatBet’elOesapa Tengah, Klasis Kota Kupang Timur, terhadappemaknaanMimbardalamIbadah Kristen. MenelitipandanganJemaatmengenaimimbarmenjadipentingkarenapemahamantentangmimbarinisudahmulaiberkembangdalamJemaat Betel Oesapa Tengah dan adapemahaman yang berbeda-beda. Hal initurutmempengaruhipemahamanJemaat Betel Oesapa Tengah terhadapmimbarberbentukcawan. Ada yang memahamimimbarsebagaialatuntukpemberitaanfirmansaja, namunada juga yang mengkultuskanmimbar. Denganmengetahuipemahamanteologismerekagerejabisamerawat, memelihara dan melestarikanpemahamanteologis yang ada. BerdasarkantradisiCalvinistik,ibadah Kristen berpusat pada pemberitaanFirmanatauKhotbah dan perayaanPerjamuan Kudus.Kristus juga "hadirdalamfirman-Nya, karenaDiasendirilah yang berbicaraketika Kitab Suciitudibacakan di dalamgereja.Pemberitaanfirman Allah juga dipahamisebagaiteofanibarudalambentukkesaksianfisik.Lokasimimbar yang berada di tengah-tengahjemaatmemilikikepentinganpraktis dan simbolis.Lokasimimbar juga menunjukkankeyakinanteologis para reformistentangpersamaan spiritual esensialdari para pelayan dan orangawam.PewartaanAlkitabmenyimbolkan Sang Sabda yang hidup, terusberbicara dan berdiam di antaraumat-Nya.UntukmengetahuipemahamanteologisJemaat GMIT Bet'elOesapa Tengah tentangmaknamimbar dan maknamimbarcawan, denganmetodepenelitiankualitatif dan metodepenulisandeskriptif-analisis-reflektif. PenelitimenemukanbahwapemahamanteologisJemaatBet’elOesapa Tengah terhadapmimbarberbentukcawandipahamisebagaisimbolpengorbananKristus di ataskayusalib demi penebusandosaumatmanusia; TercurahnyaDarahAnakDomba (Yesus); PergumulanYesussaatberdoa di tamanGetsemani; Merefleksikankasih dan anugerahdari Allah lewatperistiwapaskah; TempatpemberitaanFirman Allah. Namunada juga yang mengkultuskanmimbar. Keberadaanmimbardalamibadah Kristen memilikisimbolkehadiran Allah.pusatdalamibadah Kristen ialahpemberitaanfirman. DalampemberitaanFirmanadasuaraTuhan, pengampunan, pemeliharaan, tuntunan, kehidupan dan kabarbaik yang diberitakanmelaluimimbar.Karena sejakdahulumimbardipergunakandalamibadah Kristen, makamimbartidakbisadilepaskandaripemberitaanFirman.MimbarJemaatBet’elOesapa juga menjadisimbolgambaranimanJemaatOesapa yang terdahulu. Memeliharatradisi juga berartimemeliharapersekutuan dan nilai-nilaiteologiskristiani.Dari uraiantersebut, kiranyadengankerendahhatigerejasalingmembukadiriuntukmemberikanpemahamanteologis yang benartentangmimbar.

Misi Gereja Terhadap Lingkungan Hidup

SIMSON TEFBANA
2021 · Book · Open Access

Jemaat GMIT Talenalain Manulai I merupakan salah satu persekutuan Jemaat Tuhan yang berada di wilayah Klasis Kupang Barat, dan berdomisili di Desa Manulai I. Kehadiran pertambangan membawa dampak bagi perubahan lingkungan hidup di wilayah pelayanan Jemaat Talenalain. Demi kelancaran pertambangan hutan sebagai tempat hidup flora dan fauna, serta sebagai penghasil oksigen menjadi rusak. Aktivitas pertambangan menghasilkan abu yang bertebaran di udara dan mengakibatkan jemaat setempat mengalami gangguan kesehatan. Aktivitas pertambangan juga menghadirkan ancaman longsor bagi anggota jemaat. Kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di wilayah pelayanan Jemaat GMIT Talenalain Manulai I disebabkan oleh budaya antroposentris. Budaya antroposentris membuat masyarakat setempat melihat alam dan kehidupan lainnya sebagai barang kepemilikan pada kenyataanya mengutamakan subyektivitas untuk kepentingan hidup manusia. Dari paham tersebut menjadikan lingkungan hidup digarap yang kemudian menjadi rusak, dan sekaligus membawa dampak buruk bagi kehidupan. Konteks kemiskinan juga merupan wajah dari budaya antroposentris yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan hidup. Anggota jemaat yang rata-rata adalah petani yang penghasilan sehari-hari tidak menentu. Tidak terpenuhinya tuntukan akan kebutuhan hidup, pada akhirnya mengijinkan pertambangan menjadi solusi agar kebutuhan ekonomi tertolong. Pandang Alkitab serta pendekatan yang diberikan terhadap lingkungan hidup ternyata teosentris dan bukan antroposentris. Lingkungan hidup adalah ciptaan Allah yang sejak permulaan dipelihara dan ditata-Nya, Dia memelihara dan menata alam maka Gereja turut mendapat peran istimewa itu dalam penataan lingkungan hidup ciptaan Allah. Gereja harus lebih menyadari keterpanggilannya. Gereja harus menjadi tempat yang paling aman untuk seluruh ciptaan. Praktik gereja dapat disertakan penanaman paham dari antroposentris ke teosentris, dengan begitu jemaat dan masyarakat dapat bertumbuh dengan pemaham teseontris yang lebih menata alam. Pelayanan gereja bagi kemiskinan bisa dimulai dengan ekonomi hijau. Keadaan anggota jemaat yang rata-rata adalah petani menjadi peluang gereja untuk meningkatkan pendapatkan ekonomi. Lahan-lahan yang ada tidak perlu lagi diperuntukan untuk pertambangan, tetapi lahan itu bisa dijadikan area pertanian yang hasilnya dapat membantu meningkatkan ekonomi jemaat dan sekaligus selaras alam.

EFEKTIVITAS PEMBINAAN “Pendekatan Komunitas Iman Terkait Peran Fasilitator Dalam Jemaat GMIT YegarSahadutaOsmo Dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Yegar Sahaduta Osmo, Klasis Kota Kupang”

PRITA OLIVIA NDOEN
2021 · Book · Open Access

Jemaat GMIT YegarSahadutaOsmo merupakan salah satu persekutuan jemaat Tuhan yang berada di wilayah Klasis Kota Kupang. Ketika penulis diundang untuk mengikuti Sidang Majelis Jemaat GMIT Yegar Sahaduta, ada keluhan dari anggota jemaat terkait pelayanan pembinaan jemaat yang dijalankan oleh gereja atau pelayan. Dalam penelitian penulis menemukan bahwa pemimpin atau pelayan yang ada dalam Jemaat GMIT YegarSahadutaOsmo, belum secara penuh memberdayakan anggota jemaatnya atau anggota komunitasnya dalam hal mendampingi dan saling mendukung di dalam upaya untuk menemukan makna hidup mereka. Terlihat dari perkunjungan yang dilakukan tidak secara rutin dan dikemas dalam bentuk ibadah oleh gereja serta peran pemimpin dalam mendampingi UPP dan BP untuk menjalankan program-program yang direncanakan masih kurang terlihat. Pemimpin atau pelayan memberi tugas dan membiarkan setiap UPP dan BP untuk menjalankan tugas atau programnya tanpa adanya pendampingan. Pelayan akan mengevaluasi program yang telah dijalankan ketika UPP atau BP memasukkan laporan pertanggung jawabannya. Pemimpin harus menyadari akan keterpanggilannya untuk menjalankan perintah dari Yesus. Dalam Matius 28:19-20, Yesus memerintahkan para murid untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid-Nya. Perintah ini juga ditujukan bagi pemimpin yang melayani di dalam jemaat. Pemimpin harus memaknai akan keterpanggilannya dalam melakukan pembinaan di jemaat. Pimpin harus mampu menjadikan semua anggota jemaat menjadi murid Yesus. Cara yang digunakan untuk menjadikan anggota jemaat murid Yesus ialah membaptis dan mengajar. Kedua cara ini harus dijalankan secara maksimal oleh gereja sehingga adanya perubahan di dalam diri anggota jemaat untuk mengikuti apa dikehendaki oleh Allah. Selain dari itu, untuk menjawab akan permasalahan jemaat, penulis menawarkan model PWG pendekatan komunitas iman. Pendekatan komunitas iman memiliki tujuan untuk membangun komunitas yang mendorong perkembangan autentik manusia dan menolong orang-orang untuk menjadi bagian dari komunitas. Disinilah dibutuhkan peran seorang pemimpin, dalam pendekatan komunitas iman, pemimpin atau pelayan memiliki peran sebagai fasilitator bagi kehidupan anggota jemaat atau warga gereja agar dapat mencapai misi gereja.

SANGGAR ANAK NEKAMESE

JOHNY RONI OTPAH
2021 · Book · Open Access

Pembangunan jemaat, pada dasarnya adalah membangun orang menuju proses perubahan ke arah yang baik, misalnya melalui upaya pemberdayaan jemaat. Selanjutnya, upaya ini dilakukan agar jemaat mampu menjadi sarana dan tanda keselamatan dari Allah kepada dunia. Artinya, Gereja membangun kemampuan masyarakat, dengan mendorong, memotivasi, membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki dan berupaya untuk mengembangkan potensi itu menjadi tindakan nyata. Inilah yang dilakukan oleh Jemaat GMIT Nekamese dalam program Sanggar Anak Nekamese. Sanggar ini lahir dari pergumulan panjang jemaat dengan kemiskinan. Sebenarnya, sumber daya alam di jemaat cukup melimpah hanya saja tidak didukung dengan sumber daya manusianya. Cukup lama, karena kebutuhan ekonomi tidak tercukupi mendorong sejumlah anggota jemaat untuk meninggalkan desa dan pergi mencari perkerjaan di luar daerah tanpa pendidikan formal ataupun ketrampilan yang memadai. Apakah program ini memenuhi kriteria/syarat/standar pembangunan jemaat? Pertanyaan ini mendorong Penulis untuk meneliti secara lebih mendalam. Metode Penelitian Kualitatif yang dipilih dengan tujuan untuk mendapatkan pengertian yang mendalam tentang suatu gejala, fakta atau realita, masalah, serta peristiwa yang dapat dipahami. Penulis melakukan observasi langsung dan wawancara mendalam dengan sejumlah informan kunci. Untuk menyelesaikan tulisan ini, penulis menggunakan metode penulisan, deskriptif, analisis dan reflektif. Berdasarkan hasil penelitian, Program Sanggar Anak Nekamese menjadi upaya pemberdayaan jemaat yang berjalan sesuai dengan tahapan dalam proses pembangunan jemaat. Pemberdayaan jemaat ini menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry, untuk melihat potensi baik yang ada pada jemaat Nekamese dan mengembangkannya untuk pengembangan komunitas jemaat Nekamese. Kehadiran Program Sanggar Anak Nekamese telah menjawab persoalan yang dialami oleh jemaat GMIT Nekamese, dan membawa jemaat keluar dari persoalan kemiskinan. Program ini menjadi bagian dari pembangunan jemaat, sebab jemaat yang terlibat di dalamnya diberdayakan dan turut serta dalam membangun gereja sebagai komunitas orang percaya, yang menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Sebagaimana Yesus Kristus kepala gereja memberdayakan orang-orang miskin, Jemaat Nekamese juga meneladaninya sebagai gereja yang peduli terhadap persoalan kemiskinan.

Kajian pemanfaatan irigasi tersier oleh petani di Daerah Irigasi Pumang terhadap kebutuhan air di area persawahan Desa Tanglapui Kec.Alor Timur Kab.Alor

YUNUS SAPUTRA MOKONI
2021 · Book · Open Access

ABSTRAK KAJIAN KINERJA KELEMBAGAAN P3A DI DAERA IRIGASI PUMANG DESA TANGLAPUI KECAMATAN ALOR TIMUR KABUPATEN ALOR Mokoni S. Y *) N.P.P.E. Nainiti **) Makaborang M***) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja kelembagaan P3A daerah Irigasi Pumang, Desa Tanglapui, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bertujuan untuk pemecahan masalah dengan cara mengumpulkan data pada daerah irigasi Pumang Desa Tanglapui. Hasil pengamatan kinerja kelembagaan P3A dengan adanya Organisasi Perkumpulan Petani Pemakai Air dapat Terorganisir dengan baik dalam upaya Memenuhi Kebutuhan Air ke Lahan. Menjaga Saluran Irigasi pelaksanaan Pemeliharaan Saluran Irigasi dan Organisasi Personalia di P3A di Derah Irigasi Pumang. Sehingga terdapat 6 responden yang menyatakan Sangat Baik dengan presentase 30 %, sedangkan petani yang menyatakan Baik terdapat 9 responden dengan presentase 45% dan petani yang menyatakan Kurang Baik terdapat 5 responden dengan presentase 25 %. Maka dari itu penulis menyimpulkan bahwa Kinerja Kelembagaan P3A di Daerah Irigasi Pumang tergolong Baik. Sementara untuk struktur organisasi menunjukan bahwa ada pula aset organisasi belum dimaksimalkan dengan baik. Kata kunci: Kinerja, Kelembagaan P3A Daerah Irigasi Pumang. *) Peneliti **) Pembimbing I ***) Pembimbing II

Menjadi Gereja Yang Hidup Suatu Tinjauan Teologis Pembanguan Jemaat Terhadap Pemahaman dan Praktik Ibadah di Pos pelayanan GMIT Silo Fetomone Mata Jemaat Pniel Noelaku, Klasis Mollo Barat

MARLIANTI CORLINE TAKESAN
2021 · Book · Open Access

Partisipasi jemaat GMIT Pos Pelayanan Silo Fetomone dalam beribadah masih sangat kurang. Kehadiran warga jemaat dalam ibadah-ibadah terkadang diwakilkan oleh salah satu atau dua anggota keluarga. Ibadah terkadang tidak berjalan oleh karena jemaat ataupun majelis jemaat lebih mementingkan pekerjaan dan kesibukan pribadi mereka dibandingkan dengan melibatkan diri dalam beribadah. Penulis mengangkat topik ini menjadi bahan penelitian dengan tujuan untuk menganalisa sejauh mana pemahaman jemaat tentang makna ibadah dan menghayati makna tersebut melalui tindakan nyata. Dengan demikian, ibadah yang seringkali dilakukan oleh jemaat tidak hanya dianggap sebagai sebuah rutinitas belaka yang menjadi sebuah kewajiban untuk dilakukan, tetapi jemaat dapat mengetahui makna ibadah yang sesungguhnya. Ibadah merupakan suatu tanggapan manusia atas kasih Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Artinya, jika kita melakukan ibadah entah berdoa, entah bertindak karitatif (berbuat kasih) kepada sesama. Ibadah menekankan dimensi vertikal pelaksanaan misi gereja. Gereja yang mengabaikan kehidupan spiritualnya akan kehilangan daya dalam melaksanakan misinya. Misi adalah aksi kontemplatif dan kontemplasi yang aktif pada saat yang bersamaan. GMIT melaksanakan ibadah sebagai akta iman dan penyembahan kepada Allah dalam roh dan kebenaran di segala tempat dan waktu. Ibadah merupakan perwujudan relasi yang benar dengan Allah Tritunggal dan tanda syukur atas pimpinan, pemeliharaan, dan perlindungan-Nya. Penelitian ini berfokus pada persepsi warga jemaat Pos Pelayanan Silo Fetomone terhadap pemahaman dan pratik ibadah yang dilakukan. Meneliti pandangan mereka tentang ibadah menjadi penting karena dalam kenyataan, warga jemaat lebih mementingkan kesibukan pribadi dari pada menghadiri ibadah. Dengan mengetahui alasan-alasan ketidakaktifan mereka di kebaktian Minggu, gereja bisa mengatur strategi pelayanan yang tepat bagi mereka. Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dan praktik ibadah dalam Pos Pelayanan Silofetomone, digunakan metode penelitian kualitatif dan metode penulisan berupa deskripsi, analisis, dan reflektif. Kata kunci: Ibadah, Warga Jemaat, Partisipasi, Pemahaman dan Praktik Ibadah, GMIT