MARTHINO SESARIKO RADJA
2025 · Thesis · Open Access
Penderitaan dan luka batin dirasakan oleh semua manusia. Pendeta sebagai pelayan juga tidak luput dari luka. Pendeta harus tampil sebagai sosok yang kuat dalam keadaan terluka. Henri Nouwen menawarkan suatu pemikiran tentang penyembuh yang terluka. Penderitaan dan luka tidak boleh dipandang sebagai kelemahan. Henri Nouwen merupakan seorang imam Katolik Belanda yang mempunyai pengaruh dalam bidang spiritualitas Kristen dengan banyak karya selama hidupnya. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui secara detail pemikiran Henri Nouwen tentang Penyembuh yang Terluka. Konsep ini kemudian diimplikasikan bagi pelayanan Pendeta di GMIT Pniel Sikumana. Dalam penelitian ini Penulis menggunakan metode kepustakaan dengan mengumpulkan, membaca, menganalisis dokumen, buku dan karya yang berkaitan dengan konsep penyembuh yang terluka. Penulis juga melakukan penelitian lapangan guna melihat relevansinya dengan konsep penyembuh yang terluka. Penulis menemukan beberapa hal yang dapat menjadi sumbangsi bagi kehidupan pelayanan seorang pendeta berdasar dari Lukas 22:47-53. Bahwa seorang pelayan perlu meneladani Yesus. Pertama, Yesus adalah penyembuh sejati yang merujuk pada pribadi Yesus yang dapat memberikan kedamaian di tengah kekacauan. Kedua, Penderitaan Yesus sebagai sumber penyembuhan yakni bicara soal penderitaan Yesus untuk menebus umat manusia. Ketiga, Kehadiran Yesus yang menyembuhkan melalui kehadirannya dapat memberikan kedamaian. Keempat, Kerentanan Yesus sebagai teladan bahwa Yesus tidak pernah menyembunyikan kelemahan dan sisi manusiawinya.
ANITA KURNIAWTI UMBU PINGGE
2025 · Thesis · Open Access
Kekerasan seksual merupakan permasalahan serius yang berkaitan dengan harkat dan martabat seseorang yang dilakukan tanpa persetujuan. Terkhususnya di Sumba kekerasan sering terjadi bagi anak-anak dan perempuan. Gereja dan PPA selalu mengupayakan untuk mendukung dan mencegah permasalah kekerasan seksual. Meski demikian tidak serta merta masalah kekerasan seksual dapat menghilang begitu saja. Banyak hal yang menyebabkan permasalahan ini semakin meningkat. Kekerasan seksual berdampak pada tubuh, mental dan sosial dari korban. Seringkali muncul stigma negatif bagi para korban bahwa mereka adalah pembawa aib. Skripsi ini mengkaji tentang peranan pusat pengembangan anak (PPA) dalam pencegahan kekerasan seksual dari perspektif Teologi. Tujuan tulisan ini adalah untuk memberikan sumbangsih pemikiran bagi PPA dan GKS untuk membantu permasalahan kekerasan seksual yang semakin tinggi. Penulis melakukan penelitian lapangan di jemaat GKS Umamapu dengan mengobservasi secara langsung dan melakukan wawancara. Penulis menggunakan teori dari Allbert J. Reiss tentang Kontrol Sosial bahwa ikatan sosial yang kuat dapat berfungsi sebagai penghalang terhadap perilaku menyimpang. Individu cenderung mematuhi norma ketika memiliki ikatan yang kuat dengan keluarga, teman dan masyarakat. Karena itu, perlu didorongnya proses penegakan hukum yang lebih tegas. Berdasarkan konteks permasalahan maka penulis mengambil refleksi teologis dari Injil Markus 10:13-16. Hasil refleksi teologi antara lain: pertama, anak-anak sangat berharga di mata Tuhan. Yesus menyatakan kasih tanpa syarat serta memperlakukan anak-anak dengan berharga dan memberikan harapan bagi yang terluka. Kedua, Yesus sangat mencekam tindakan kekerasan terhadap anak.
MARTHA HENDERINA DJAHIBOLING
2025 · Thesis · Open Access
Teladan adalah contoh atau panutan yang dapat dijadikan acuan dalam bersikap, bertindak, dan mengambil keputusan. Seseorang yang menjadi teladan biasanya memiliki karakter, moral, atau keterampilan yang baik, sehingga layak untuk ditiru oleh orang lain.Dalam konteks kepemimpinan, teladan sangat penting karena seorang pemimpin yang baik harus mampu menunjukkan perilaku yang positif agar diikuti oleh bawahannya. Berkaitan dengan pengertian tersebut, penatua di Jemaat GMIT Maranatha Limarahing tidak menjadi teladan yang baik bagi jemaatny. Penatua yang mabuk saat memimpin ibadah jemaat. Penatua akan meminum sopi terlebih dahulu sebelum memimpin ibadah. Ini dilakukan untuk memuaskan atau menenangkan hati dan pikiran mereka, sehingga ibadah yang dilakukan tidak memenuhi standar pelayanan. Hal ini dilakukan oleh Penatua-penatua di Jemaat GMIT Maranatha Limarahing, bukan sekali saja mereka lakukan ini, tetapi sudah terus-menerus mereka lakukan. Jemaat terus-menerus mengeluh tentang pelayanan yang mereka lakukan seperti ini, sehingga mereka melakukan pelayanan tidak lagi sesuai dengan Firman Tuhan. Mabuk adalah salah satu hal yang sudah menjadi kewajiban utama bagi Jemaat Maranatha Limarahing sebelum melakukan sesuatu. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mencari tahu keteladanan penatua di Jemaat tersebut yang terus-menerus melakukan pelayanan dalam keadaan mabuk. Sehingga Tujuan dari penulisan untuk melengkapi bahkan menjadi salah satu acuan untuk bisa menjadi sebuah pedoman bagi jemaat tersebut untuk merubah akan tindakan mereka yang telah melanggar aturan dalam melakukan pelayanan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis, yang menyoroti elemen-elemen tafsir historis kritis seperti tempat nas dalam konteks, kritik sastra, bidang kehidupan, kritik nas, tafsiran ayat per ayat dan kerygma teologis. Hasil kajian yang ditemukan yaitu; 1). Pemimpin Jemaat yang menjadi Teladan yang baik; 2). Pemimpin Jemaat menjadi harus memiliki karakter yang Baik, terpuji serta Berintegritas. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan studi teologi tentang keteladanan Penatua serta manfaat praktis bagi para pemimpin gereja untuk meneladani syarat-syarat penatua yang ditunjukkan oleh Titus.
YONATAN ADIPAPA TEPA
2025 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Skripsi berjudul “Tarian Dalam Ibadah” dengan sub judul “Suatu Tinjauan Teologis terhadap Pemahaman Jemaat mengenai Tarian dalam Ibadah di Jemaat GMIT Imanuel Beumopu dan Implikasinya bagi Pelayanan GMIT” ditulis oleh Yonatan Adipapa Tepa. Penulis bertolak dari penggunaan gerakan tari dalam ibadah sangat heboh dan sebagai sarana hiburan bagi jemaat yang dianggap sebagai gerakan sensual yang akan mengundang hawa nafsu jemaat dan membuat jemaat masuk dalam keberdosaan. Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis pemahaman jemaat GMIT Imanuel Beumopu tentang penggunaan tarian dalam ibadah. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif yaitu proses penelitian yang dilakukan pada kondisi alamiah sehingga data yang terkumpul dan analisanya bersifat kualitatif. Metode yang dipakai memberi hasil pada penelitian yaitu adanya pro dan kontra terkait pemahaman jemaat tentang tarian dalam ibadah. Ada jemaat yang mengatakan bahwa tarian yang ditampilkan dalam ibadah sebagai media hiburan karena gerakan yang kelihatannya heboh dan sensual. Ada juga yang menerima tarian dengan gerakan heboh dengan alasan pelayanan. Selain itu ada juga jemaat yang memahami secara positif tentang tarian dalam ibadah yaitu tarian dipandang sebagai doa dan penyembahan kepada Allah. Berkaitan dengan pro dan kontra yang terjadi penulis menganalisis bahwa tarian dalam ibadah merupakan pelayanan kepada Allah yang memiliki makna penyembahan, kesaksian dan syukur atas karya Allah. Hasil pembahasan penulis terkait penggunaan tarian dalam ibadah sebagai media penyembahan kepada Allah menjadi implikasi bagi pelayanan GMIT. GMIT Imanuel Beumopu perlu memperhatikan penggunaan tarian agar tarian memiliki makna teologis, sehingga tarian bukan saja ditampilkan dalam ibadah tapi memberi dampak yang positif kepada jemaat dan gereja dalam pelayanan. Bukan saja itu, GMIT secara umum juga perlu memberi arahan pagi para penari agar gerakan-gerakan tari yang ditampilkan dalam ibadah perlu berdasarkan Alkitab artinya gerakan yang beretika, bermoral, dan memiliki makna teologis yang tujuannya untuk penyembahan kepada Allah.
FANDI FOES
2025 · Thesis · Open Access
Skripsi berjudul “Semakin Lemah Semakin Sadari Kuasa Kristus” dengan sub judul “Kajian Eksegetis Terhadap Teks Surat 2 Korintus 12:7-10 dan Implikasinya Bagi Pemahaman Jemaat GMIT Gloria Kayu Putih Mengenai Kelemahan Hidup” ditulis oleh Fandi Foes. Realita pergumulan jemaat GMIT Gloria Kayu Putih, terdapat 1 orang IDD, 3 orang anak yatim piatu, 2 orang anak broken home, 2 orang majelis yang masih melayani dalam keadaan sakit, terkait kelemahan yang dialami dalam hidup mereka ini memberi dampak pada pemahaman akan kelemahan dalam hidup, ini menimbulkan adanya permasalahan hubungan antara kelemahan manusia dengan kuasa Kristus dalam Surat 2 Korintus12:7-10, yang berbicara mengenai kelemahan yang dihadapinya justru membuka jalan bagi penyataan akan kuasa Kristus. Dan dalam kelemahanlah kuasa Kristus semakin sempurna. Juga ini memberi pertanyaan bahwa apa maksud perkataan Paulus mengenai jika aku lemah, maka aku kuat. Penelitian ini menggunakan metode Historis Kritik. Tujuannya agar Surat 2 Korintus memperlihatkan kelemahan yang dimiliki Paulus dimana ia diberi duri dalam daging untuk menggocohnya agar tetap rendah hati, dan memperlihatkan apa maksud Paulus dengan perkataan suka dan rela dalam kelemahan, juga pembahasan ini memiliki tujuan untuk menyadari kelemahan paulus sebagai respon Tuhan bahwa kuasa Tuhan menjadi sempurna atas kelemahannya.
YOSI NAHAK
2025 · Thesis · Open Access
Kesalehan merupakan ketaatan atau kepatuhan dalam menjalankan ibadah, serta kesungguhan dalam menunaikan ajaran agama. Kesalehan mengacu pada sifat atau keadaan seseorang yang menunjukkan ketaatan kepada Tuhan, kejujuran, dan kebaikan moral dalam hidup sehari-hari. Jemaat GMIT Sion Oepura sedang bergumul dengan banyak kemerosotan moral dan berbagai pengaruh modernisme, hal ini menjadi pergumulan gereja untuk mempertahankan eksistensinya. Oleh karena itu, praktik kesalehan sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan gereja masa kini. Tulisan ini memaparkan tentang pentingnya memelihara kesalehan hidup. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui dampak kesalehan hidup yang dilakukan oleh Anggota Persekutuan Doa, kemudian penulis juga hendak mengetahui model kesalehan seperti apa yang dihidupi oleh anggota Persekutuan Doa. Penelitian di Jemaat GMIT Sion Oepura menggunakan metode penelitian kualitatif dan dokumentasi dengan teknik observasi partisipatif, wawancara dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisannya yakni deskriptif, analisis dan reflekif. Berdasarkan hasil analisis menurut teori Calvin, Penulis menemukan bahwa anggota Persekutuan Doa di Jemaat GMIT Sion Oepura lebih menekankan pada model kesalehan pribadi. Hal ini disebabkan oleh ciri-ciri kesalehan yang dihidupi memiliki kesamaan dengan ciri pietisme yang menekankan spiritualitas pribadi. Selain itu, terdapat faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pemahaman anggota Persekutuan Doa. Pemahaman kesalehan yang benar adalah bagaimana memiliki kesalehan sejati, pembaharuan hidup dan penerapan kesalehan sosial. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan teologi tentang pemahaman makna kesalehan hidup serta memberi sumbangsih praktis kepada gereja dan masyarakat mengenai pentingnya praktik kesalehan hidup.
ZICHRI SIZERA BAOK
2025 · Thesis · Open Access
Penelitian ini berfokus pada pentingnya pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen (PAK) bagi anak usia dini dalam keluarga Kristen, dengan studi kasus pada Jemaat GMIT Glorya Tuatuka. Masalah utama yang ditemukan adalah rendahnya penerapan nilai-nilai Kristiani dalam keluarga akibat keterbatasan waktu orang tua, kurangnya pemahaman tanggung jawab pendidikan iman, dan pengaruh teknologi modern. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis-reflektif, dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Penelitian ini mengacu pada teori Horace Bushnell tentang Christian Nurture, yang menekankan peran utama keluarga dalam menanamkan iman Kristen sejak dini melalui keteladanan dan interaksi alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga di Jemaat GMIT Glorya Tuatuka masih menyerahkan pendidikan agama kepada sekolah dan gereja. Namun, teori Bushnell relevan sebagai solusi untuk mengatasi tantangan tersebut, dengan mendorong orang tua mengambil tanggung jawab langsung dalam membentuk iman anak. Kesimpulannya, pendidikan agama Kristen dalam keluarga perlu ditingkatkan melalui keterlibatan aktif orang tua untuk menciptakan generasi Kristen yang berkarakter dan mampu menghadapi tantangan zaman.
FIRINYO SEKO
2025 · Thesis · Open Access
Kasus kekerasan seksual semakin meningkat setiap tahunnya. Negara Indonesia dijuluki sebagai negara darurat kekerasan seksual karena krisisnya angka kekerasan seksual yang terus meningkat, salah satu bentuk kekerasan seksual adalah pemerkosaan. Kasus pemerkosaan kian memprihatinkan karena semakin meningkat setiap tahun. Kasus ini juga terjadi dalam jemaat GMIT Elim Kie. Setiap tahunnya akan ada kasus pemerkosaan dan yang menjadi korban adalah warga gereja. Oleh karena itu dalam tulisan ini menganalisa peran pendampingan gereja dalam mendampingi dan memberi dukungan emosional dan spiritual serta keadilan bagikorban pemerkosaan. Dengan menggunakan metode kualitatif, data diperoleh melalui wawancara, dengan gereja dan korban. Melalui penelitian ini, penulis menemukan bahwa gereja belum memberanikan diri untuk mendampingi para korban pemerkosaan secara langsung karena dianggap sebagai hal yang sensitive dan pribadi. Gereja menyadari akan keberadaan para korban dan dampak yang dialami, namun belum mendampingi para korban. Pendampingan gereja adalah proses konseling pastoral yang harus gereja laksanakan dalam program pelayanan. Gereja harus memberanikan diri untuk mendampingi korban pemerkosaan dan berani untuk menyuarakan keadilan bagi perempuan dan anak-anak. Gereja adalah wujud kehadiran Allah dalam dunia dengan suatu tanggung jawab dan panggilan untuk bisa terlibat secara aktif dalam mendampingi, memulihkan dan mendukung mereka yang menjadi korban pemerkosaan. Melalui pendampingan pastoral yang efektif untuk membimbing, menyembuhkan, meneguhkan, membebaskan dan memulihkan, menunjukan bahwa gereja dapat menjadi ruang pemulihan bagi warga gereja terkhususnya bagi korban pemerkosaan.
MARIA TAMU INYA
2025 · Thesis · Open Access
Dalam peraturan Tata Gereja GKS di BAB VI pasal 16 tentang Sakramen Baptisan Kudus ayat 3, poin 3 yang berbunyi: “Baptisan dewasa asal Marapu bagi yang telah berumah tangga dengan sendirinya tidak dilakukan lagi pemberkatan nikah.” Tetapi dalam praktik atau realita yang terjadi GKS jemaat Waikadada melayani pemberkataan nikah bagi orang marapu yang telah berumah tangga. Metode yang penulis gunakan adalah metode penelitian lapangan dengan menggunakan teknik wawancara pihak gereja, dengan mengunakan landasan teori Jhon Calvin tentang pernikahan. Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis penerapan peraturan pernikahan di GKS Jemaat Waikadada, serta beberapa faktor yang mempengaruhi. Dalam hasil penelitian, ditemukan bahwa pernikahan menurut pandangan Kristiani dan Marapu itu berbeda, bagi Marapu pernikahan berorientasi pada Dewa yang mereka percayai dan bagi orang Kristen pernikahan berorientasi pada Allah dan Kristus sebagai Kepala Gereja. Hal ini menjadi alat ikut gereja terkhususnya GKS harus melaksanakan pemberkatan nikah bagi suam-istri berasal Marapu yang telah dibaptis menjadi anggota gereja.
INANDRY ADOLFI SEO
2025 · Thesis · Open Access
Kebudayaan merupakan hasil dari ekspresi sekelompok orang yang diwujudkan dalam nilai-nilai dan kepercayaan yang terus diyakini dari generasi ke generasi. Salah satu unsur kebudayaan adalah bahasa yang merupakan alat komunikasi. Oleh karena banyaknya budaya yang ada, maka bahasa yang adapun berbeda-beda. Seiring berjalannya waktu, Injil pun hadir di tengah-tengah masyarakat yang plural. Oleh karena itu dibutuhkan metode atau cara yang tepat dalam mengkomunikasikan Injil di tengah-tengah kebudayaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kebudayaan dalam pemberitaan firman dan bagaimana langkah yang tepat untuk menyampaikan Injil di tengah kebudayaan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Sampel yang digunakan sebagai objek dalam penelitian berjumlah 20 orang di antaranya adalah Majelis (Pendeta, Penatua, Diaken, dan Pengajar) dan anggota Jemaat. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini ialah purposive sampling. Dari hasil penelitian yang dilakukan di Jemaat GMIT Kefas Nasi, menunjukkan bahwa kebudayaan juga berpengaruh dalam pemberitaan Injil, hingga berpengaruh juga terhadap spiritualitas pendengar. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa budaya tidak dapat dipisahkan dari Injil. Melakukan penginjilan di tengah-tengah kebudayaan tidak akan mengurangi kekuatan Injil tersebut melainkan dapat membawa Injil untuk merangkul orang-orang yang hidup dalam kebudayaan. Untuk menghubungkan Injil dan kebudayaan diperlukan misi yang kontekstual dalam pemberitaan Injil, karena apabila tidak diperhatikan maka pendengar tidak dapat memahami maksud pemberitaan tersebut. Dengan demikian, spiritualitas mereka juga ikut terkikis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada kepekaan para pemberita dalam menyampaikan firman dengan tidak mengabaikan salah satu unsur kebudayaan.
FRANSIUS FERNANDO MAU
2025 · Thesis · Open Access
Misi yang inklusif sangat penting untuk mengatasi kesenjangan dan masalah yang ada. Misi ini mencakup orang miskin dan orang kaya, orang yang tertindas dan yang menindas, orang berdosa dan orang benar. Peran gereja tidak hanya berfokus pada kebutuhan rohani, tetapi juga pada kebutuhan jasmani, seperti kemiskinan, kekurangan gizi, dan kurangnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Konsep pemberdayaan melibatkan adanya pemberian kekuatan dan otoritas kepada mereka untuk mengembangkan potensi mereka dan menjadi mandiri. Peran gereja adalah memberdayakan mereka yang lemah, miskin, dan tertindas, dan bukan membiarkan sistem patriarki membuat mereka termarjinalkan. Metode yang akan dipakai oleh penulis adalah pendekatan kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang konteks Jemaat Nekamese dan pelaksanaan program Skol Bife serta perspektif misiologi tentang pemberdayaan, dan merumuskan refleksi teologis misiologis berdasarkan perspektif misiologi tentang pemberdayaan berdasarkan pelaksanaan program Skol Bife di jemaat Nekamese Imanuel Postenu, Klasis Amanuban Tengah Utara; Program Skol Bife yang diprakarsai oleh Jemaat Imanuel Postenu Nekamese telah memberikan kontribusi signifikan dalam mentransformasi pemahaman dan peran gereja dalam budaya patriarki. Program ini telah memberdayakan perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan, mempromosikan kesetaraan gender, dan menangani masalah sosial seperti kekerasan dalam rumah tangga dan diskriminasi. Melalui program ini, gereja telah menjadi katalisator perubahan sosial, mempromosikan nilai-nilai keluarga, dan tanggung jawab sosial. Program ini telah menunjukkan bahwa gereja dapat memainkan peran penting dalam mengatasi masalah sosial keadilan, dan kesetaraan. Pada akhirnya, program Skol Bife adalah bukti kekuatan misi inklusif dalam mengubah individu, komunitas, dan masyarakat secara keseluruhan.
LILI DIANA HENUKH
2025 · Thesis · Open Access
Tugas dan panggilan gereja terwujud dalam panca pelayanan yakni koinonia, marturia, diakonia, liturgia dan oikonomia. Hakikat gereja, ada pada pelayanan diakonia. Dalam GMIT, dikenal dengan diakonia karitatif, reformatif, dan transformatif. Tiga jenis diakonia ini memiliki peran yang saling melengkapi dan perlu dijalankan secara seimbang sehingga mewujudkan kasih Allah secara menyeluruh dalam kehidupan setiap jemaat. Namun kenyataan untuk menjalankan ketiga jenis diakonia ini belum sepenuhnya dijalankan. Salah satu diakonia yang selalu dilakukan oleh GMIT adalah diakonia karitatif. Di jemaat GMIT Betania teubaun Rabe jenis diakonia karitatif ini selalu dijalankan secara rutin pada akhir tahun. Sedangka untuk jenis diakonia reformatif dan transformatif, belum sepenuhnya jalankan, terutama jenis diakonia Transformatif. Oleh Karena itu, melalui tulisan ini penulis ingin mengusulkan dan memperkenalakn model diakonia baru tentang “Diakonia Alam” model diakonia ini, penulis berangkat dari jenis diakonia transformatif. Diakonia alam merupakan konsep pelayanan yang berfokus kepada kemitraan antara manusia dan alam sebagai ciptaan Tuhan. Prinsip dasar dari diakonia alam adalah merawat dan menjaga alam ciptaan sebagai wujud syukur dari Anugerah Allah serta menggunakan dan menikmati sumber daya alam dengan bijak tanpa mengeksploitasi alam ciptaan Tuhan secara berlebihan. Dengan metode penelitian kualitatif, hasil yang didapatkan adalah Pembangunan jemaat perlu dilakukan untuk memahami tugas dan peran mereka sebagai jemaat Allah. Salah satu pelayanan yang perlu dilakukan oleh Gereja kepada jemaat adalah pelayanan Diakonia. Diakonia alam tidak hanya berfokus pada pelayanan sosial tetapi juga mencakup tanggung jawab umat untuk menjaga alam sebagai sarana membangun hubungan dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. Bukit Doa To'ef menjadi contoh nyata di mana alam dipadukan dengan nilai-nilai spiritual, tempat yang mempertemukan iman dan alam, bukit ini memberikan dampak positif pada pertumbuhan rohani dan kebersamaan jemaat melalui doa, ibadah, dan kegiatan pelayanan yang berfokus pada lingkungan.
MARIAM ETRI KAMORE
2025 · Thesis · Open Access
Menegur adalah sebuah ucapan mengajak, bercakap-cakap, memperingatkan atau menasihati seseorang. Teguran akan dilakukan apabila ada saudara yang berbuat dosa. Jemaat Warabu Harilolong selalu melakukan dosa/kesalahan yang menyimpang dari hukum Allah, seperti; suanggi, berzinah, mencuri, membunuh, berselingkuh dan dosa lainnya. Berdasarkan hal-hal ini, maka mereka diberi teguran namun karena teguran yang diberikan tidak tepat, maka berpengaruh pada ketidaksetiaan jemaat dalam beribadah bahkan relasi persaudaraan yang dibangun tidak harmonis. Oleh karena itu, tulisam ini bertujuan untuk melihat konteks yang melatarbelakangi teks Injil Matius 18:15-20 dan menemukan makna teologis serta implikasi bagi Jemaat Warabu Harilolong. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode historis kritis. Berdasarkan teks Matius 18:15-20, Yesus dengan penuh kasih memberi pengajaran bagi murid-murid dan semua bangsa, agar mereka dapat menegur saudara yang berdosa berdasarkan tahapan-tahapan yang termuat dalam teks, yakni menegur secara pribadi, mendatangkan saksi, depan jemaat dan memandang secara berbeda. Selain itu, mendoakan dan menggunakan otoritas yang Kristus berikan dengan baik, dalam mengambil keputusan. Implikasi bagi jemaat Warabu Harilolong ialah; gereja hadir menjadi sosok yang menegur saudara yang berdosa dengan penuh kasih, mendoakan saudara yang berdosa dalam kasih dan memakai otoritas yang diberikan Kristus dengan baik untuk bersepakat dalam mengambil keputusan terhadap saudara yang berbuat dosa, khususnya di Jemaat Warabu Harilolong, namun tidak boleh di luar dari kehendak Kristus. Agar mereka bisa kembali bersatu dan memberi diri untuk beribadah sembari meninggalkan setiap dosa mereka, sebab Allah adalah sosok yang Maha Kasih, Maha Pengampun dan Maha Hadir dalam segala dinamika kehidupan manusia.
ELSA NOVELMI MESAH
2025 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Kerenggangan relasi antar umat beragama seringkali terjadi karena faktor politik, kesenjangan ekonomi dan sentiment etnis. Konflik ini dapat mengganggu toleransi dan keributan antar umat beragama dan sulit untuk diselesaikan. Meskipun pemerintah, masyarakat, dan gereja secara konsisten berusaha mengurangi kerenggangan hubungan ini, hasilnya tidak memuaskan. Tulisan ini ditulis untuk menambah diskusi tentang masalah ini dan menunjukkan sejauh mana pemikiran Moderchai Martin Buber tentang hubungan Aku dan Engkau dapat membantu upaya masyarakat Oenay untuk memperkuat hubungan antar umat beragama. Oleh karena itu, tulisan ini menggunakan metode deskriptif-analitis dengan memeriksa sumber pustaka terlebih dahulu, baik karya tulis maupun berita di media sosial. Berdasarkan hasil penelusuran literatur tersebut, maka relasi I and Thou dimaknai sebagai hubungan yang mendalam dan autentik dalam kehidupan manusia, baik dalam konteks sosial maupun spiritual. Konsep ini relevan untuk hubungan antar umat beragama di Oenay, di mana ada kerenggangan dalam hubungan. Beragam cara sudah dilakukan oleh pihak pemerintah maupun gereja, namun hasilnya tetap tidak memuaskan. Karena itu, disamping gereja, pemerintah dan masyarakat bekerja untuk mempererat relasi, makan tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu tawaran untuk dipertimbangkan guna diterapkan dalam konteks di Oenay. Melalui tulisan ini, pada akhirnya diharapkan agar penerapan konsep relasi I and Thou dalam konteks relasi di Oenay harus dilihat secara positif dan kristis. Masyarakat sudah saatnya menyadari bahwa sangat penting untuk menciptakan keharmonisan sosial, di mana saling menghormati, memaknai perbedaan dan bekerja sama dapat memperkuat persatuan dalam kerangaman. Kata Kunci: Martin Buber, I and Thou, Relasi Islam-Kristen, Gereja.
LINDA NONI FAY
2025 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Ritus diyakini sebagai suatu tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat pada suatu tempat tertentu untuk tetap menjaga identitas dirinya. Pelaksanaan ritus juga diyakini sebagai suatu upaya manusia untuk menjaga hubungannya dengan leluhur atau pendahulunya. Pelaksanaan ritual semacam ini juga masih tetap dilaksanakan oleh Masyarakat Bimate, khususnya anggota Mata Jemaat Imanuel Bimate. Di tempat ini, jemaat masih memelihara ritual hanik ume atau secara harafiah diartikan sebagai mendinginkan rumah. Ritus ini masih tetap dihidupi dengan maksud melibatkan secara penuh eksistensi dari para leluhur dalam rencana kehidupan keturanannya untuk kehidupan yang akan datang. Ritus ini kemudian dianggap menjadi suatu problem iman ketika jemaat yang ada masih tetap mempertahankan budaya ini. Ada dualisme yang muncul dalam praktik budaya ini yakni apakah Kristus masih menjadi pusat iman atau sebaliknya leluhur mengambil alih peran ini. Atas dasar itu maka tulisan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kesenjangan ini dan sejauh mana iman Kristen merespons ritus yang sudah berurat akar dalam kehidupan masyarakat Bimate. Untuk mencapai tujuan ini maka tulisan ini menggunakan metode penelitian lapangan dan diimbangi dengan studi Pustaka. Data yang didapat dari wawancara diolah dan kemudian dielaborasikan dengan teori yang mendukung atau juga mengkritisi budaya yang ada. Tujuan dari hal ini yakni memperlihatkan kesenjangan budaya dan iman dan bagaimana keduanya ada di dalam pertemuan dan ketegangan di waktu pelaksanaan ritual hanik ume di Bimate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan ritual hanik ume pada satu pihak memiliki nilai-nilai positif dan perlu dilestarikan tetapi di pihak lain mengandung unsur sinkretisme yang mengarah kepada penyembahan kepada leluhur sehingga gereja perlu mendidik anggotanya untuk tetap menjadikan Kristus sebagai titik sentral iman Kristen.
GRACELLA YOHANA NADYA JUNITA RAWIS
2025 · Thesis · Open Access
Penelitian ini berfokus pada tinjauan teologis terhadap Pendidikan Agama Kristen bagi pemuda menggunakan metode Shared Christian Praxis di Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba. Metode SCP yang diperkenalkan oleh Thomas H. Groome menawarkan pendekatan yang partisipatif dengan mengintegrasikan pengalaman hidup peserta ke dalam refleksi teologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Pendidikan Agama Kristen yang ada dan bagaimana metode SCP dapat memberikan relevansinya dalam menghadapi tantangan Pendidikan Agama Kristen di era modern. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap 20 narasumber yang terdiri atas Pemuda, Pendeta, Pengajar Katekisasi, dan Pengurus Pemuda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode SCP belum diterapkan di Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba, namun terdapat potensi besar untuk dikembangkan. Para narasumber menyatakan bahwa metode Pendidikan Agama Kristen yang ada di Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba terlalu monoton dan satu arah. Secara teologis, metode SCP sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan Iman yang berfokus pada dialog antara Firman Tuhan dan pengalaman hidup. Penelitian ini merekomendasikan penerapan metode SCP dengan strategi yang kontekstual, melibatkan pelatihan bagi pelayan dan pemuda untuk memahami tahapan pelaksanaannya. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Ulangan 6:6-7 sebagai Refleksi Teologis. Dengan demikian, SCP diharapkan dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam membangun iman pemuda secara holistik dan transformatif.
JONATHAN RUDOLOF MESSAKH
2025 · Thesis · Open Access
Persekutuan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan gereja, karena merupakan inti dari gereja itu. Namun dalam kehidupan gereja saat ini sering kali persekutuan dalam gereja diperhadapkan pada persoalan baik itu antar anggota gereja dan pengaruh tantangan globalisasi yang membuat gereja benar-benar harus menemukan pemahaman yang benar tentang dirinya. Jemaat GMIT Syalom Tunggaoen sendiri sedang diperhadapkan pada persoalan persekutuan dalam gereja di mana adanya gereja marga sangat kuat dan mempengaruhi persekutuan jemaat. Gambaran ini menunjukkan bahwa persekutuan yang ada di jemaat Syalom Tunggaoen ini sedang diperhadapkan pada persoalan. Jemaat sendiri membangun gedung gereja model kapal yang tentunya mempunyai sebuah makna teologis yang kemudian akan membuat jemaat memahami dan menemukan pemahaman gereja yang benar dalam persekutuan jemaat. Tujuan penelitian ini yakni untuk menemukan makna teologis dari gereja model kapal kemudian dikaji secara eklesiologis berdasarkan pendekatan model gereja sebagai tubuh Kristus yang dikemukakan oleh Yohanes Calvin dan implikasinya bagi persekutuan jemaat dan gereja masa kini. Penelitian di jemaat GMIT Syalom Tunggaoen menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi partisipatif, wawancara dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisan yang digunakan yakni deskriptif, analisis dan reflektif. Berdasarkan analisis, menurut teori Yohanes Calvin penulis menemukan bahwa makna gereja model kapal di jemaat GMIT Syalom Tunggaoen dengan tiga poin penting yang menjadi refleksi yakni Kristus Sebagai Nakhoda, terdiri dari jemaat yang sedang dalam pelayaran, dan orang-orang percaya yang diselamatkan.
RIFKI H PELLO
2025 · Thesis · Open Access
Skripsi ini berjudul “Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Perubahan Fungsi Bukit Liman dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan.” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan fungsi Bukit Liman dalam perspektif ekoteologi, dengan fokus pada perspektif Sallie McFague tentang alam sebagai tubuh Allah. Bukit Liman, yang memiliki nilai ekologis, budaya, dan spiritual yang mendalam bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, mengalami perubahan fungsi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan ini berdampak pada keberlanjutan lingkungan dan kehidupan spiritual jemaat, mengingat hubungan erat mereka dengan alam sebagai bagian dari persekutuan dengan Tuhan dan ciptaan-Nya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan studi kasus yang fokus pada perubahan penggunaan lahan di sekitar Bukit Liman dan dampaknya terhadap jemaat serta lingkungan sekitar. Penelitian ini juga mengkaji relevansi pemikiran Sallie McFague dalam konteks perubahan fungsi Bukit Liman, terutama konsepnya mengenai alam sebagai tubuh Allah yang menyiratkan perlunya keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Selain itu, penelitian ini menggali bagaimana pandangan ekoteologi ini dapat menjadi dasar bagi tindakan teologis jemaat dalam menjaga dan melestarikan alam sebagai bagian dari panggilan iman mereka untuk menjadi penjaga ciptaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi Bukit Liman membawa tantangan bagi jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, namun juga membuka peluang untuk mengintegrasikan pemikiran ekoteologi dalam kehidupan spiritual dan sosial mereka. Jemaat dihadapkan pada pilihan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memahami perubahan fungsi Bukit Liman sebagai bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan visi gereja yang berbasis pada tanggung jawab ekologis dan spiritual. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemahaman yang lebih dalam tentang ekoteologi dalam konteks gereja lokal dan masyarakat adat, serta menekankan pentingnya pengelolaan alam yang berkelanjutan berdasarkan perspektif teologis yang menekankan hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari ciptaan Allah yang harus dijaga.
ABRAHAM NDUN
2025 · Thesis · Open Access
Penelitian ini berfokus pada pemahaman jemaat GMIT Galed Mbadokai tentang Lamatuak. Lamatuak dalam pemahaman jemaat masa kini merupakan bagian integral dari kehidupan spiritual setiap jemaat yang dipercaya sebagai Allah yang memberikan kehidupan bagi setiap jemaat bahkan semua manusia yang hidup di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman jemaat secara teologi feminis tentang Lamatuak untuk menemukan dan menggali pemahaman jemaat mengenai Lamatuak serta memberikan implikasinya bagi persekutuan Jemaat GMIT Galed Mbadokai. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan lapangan dan kepustakaan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan studi literatur dengan 23 informan yang terdiri dari pendeta, majelis jemaat, anggota jemaat dan tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jemaat GMIT Galed Mbadokai mengakui Lamatuak sebagai Allah yang sama di dalam kekristenan, gambaran jemaat tentang Lamatuak dalam budaya dan keagamaan adalah seorang laki-laki dan bukan perempuan, namun jemaat tidak menyadari bahwa dalam pengungkapan mereka ada sisi-sisi feminin Allah yang diungkapkan dalam konsep mereka terhadap Lamatuak. Penilitian ini menunjukkan bahwa ada kesenjangan antara konsep yang dianut oleh jemaat dan praktik mereka tentang paham konsep terhadap Lamatuak. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan refleksi teologi feminis tentang bagaimana Lamatuak dapat dipandang sebagai Allah yang setara, juga mengungkapkan bahwa sifat Lamatuak sebagai Allah yang merangkul semua gender dan yang terakhir Lamatuak sebagai konsep Allah yang setara. Implikasi dari temuan ini diharapkan dapat memberi wawasan baru terhadap pemahaman jemaat tentang Lamatuak yang tidak terbatas gender serta memperjuangkan kesetaraan perempuan dalam budaya yang dimunculkan dari konsep kepercayaan yang dianut oleh jemaat yang disebut sebagai Lamatuak.
MARLINDA TESSALONIKA UDJU
2025 · Thesis · Open Access
Ketika seseorang diutus untuk menjalankan suatu tugas atau kewajiban, kerap kali seseorang cenderung merasa ragu dan rendah diri yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri melainkan juga datang dari luar, sehingga bertolak dari faktor yang mempengaruhi orang tersebut dapat membuat dirinya tidak dapat menjalankan tugas tanggung jawab sebagai perutusan yang diberikan dengan maksimal. Dalam upaya mengatasi masalah terhadap upaya melaksanakan tanggung jawab yang diemban oleh seorang utusan, khususnya sebagai utusan Tuhan dibutuhkan iman yang teguh, kesetiaan dan kedisiplinan yang baik. Penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan tersebut secara lebih mendalam melalui karya ilmiah menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tafsir naratif untuk menganalisis teks Keluaran 4:1-17. Tulisan ini berupaya untuk memahami konteks pengutusan Tuhan kepada Musa, bagaimana sikap dan respon Musa terhadap pengutusan Tuhan kepadanya, sehingga dapat dipelajari dari sikap dan respon Musa serta tindakan Tuhan dalam menolong Musa untuk menjalankan tugas tanggung jawabnya sebagai utusan Tuhan. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukkan karakteristik dari Musa, yang walaupun awalnya memiliki keraguan, namun pada akhirnya ia tetap dengan setia menjalankan tugas tanggung jawab perutusan yang diberikan Allah kepadanya. Sikap tanggung jawab inilah yang kemudian penulis kaitkan dengan bagaimana Penatua, Diaken dan Pengajar dalam menjalankan tugas perutusannya dengan bertanggung jawab dan bagaimana GMIT Kemah Ibadat Airnona dapat menjadi wadah yang baik dalam mempersiapkan para utusan Tuhan, yakni Penatua, Diaken dan Pengajar. Agar sebagai utusan Tuhan tidak usah ragu dalam menjalankan tugas tanggung jawab pelayanan melainkan harus memiliki iman, kesetiaan serta kedisiplinan yang baik agar pesan Tuhan dapat tersampaikan kepada umat ciptaan-Nya.