ON LIUFETO
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR LONTAR (PocLon) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L) DAN PAKCOY (Brassica rapa L) Liufeto.O)* Ballo.A) ** Ledo.S.E.M) ** Pupuk Organik Cair (PocLon) merupakan jenis pupuk cair yang terbuat dari mesokarp buah lontar. POC adalah pupuk berwujud cair yang dibuat dari bahan-bahan organik melalui proses fermentasi. Bahan organik yang dapat digunakan adalah sabut lontar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk organik cair lontar terhadap pertumbuhan tanaman selada, pakcoy dan menentukan konsentrasi pemberian POC paling optimum dari setiap paramrter untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman selada dan pakcoy. Penelitian ini menggunakan Diagram / Grafik dan Tabel dengan 1 kontrol dan 3 perlakuan pupuk dan 3 ulangan diamati selama 4 kali pengamatan pada masing-masing tanaman. Parameter yang diamati adalah persentase perkecambahan (%), tinggi tanaman (cm) dan jumlah daun. Data yang diperoleh dari 3 parameter pengamatan selanjutnya akan dianalisis menggunakan Diagram / Grafik dan Tabel. Berdasarkan hasil uji Tabel / Grafik didapatkan Hasil penelitian perlakuan terbaik dalam pemberian PocLon pada parameter persentase perkecambahan, tinggi tanaman dan jumlah daun adalah dengan konsentrasi campuran EM4 5 ml + Gula air 5 ml + 6 liter larutan mesokarp buah lontar dengan persentase perkecambahan pada tanaman selada dan pakcoy adalah selada 100%. Sedangkan rata-rata untuk masing-masing tinggi tanaman selada adalah 15,75 cm, dan pakcoy 31,38 dan jumlah daun pada tanaman selada 30 dan pakcoy 53. Kata Kunci: Pupuk Organik Cair Lontar (PocLon), Perkecambahan, Tinggi tanaman, Jumlah daun. Keterangan: *) Peneliti **)Pembimbing ABSTRACT THE EFFECT OF APPLYING ORGANIC LIQUID LONTAR FERTILIZE (PocLon) ON THE GROWTH OF LETTUCE PLANTS (Lactuva sativa L) AND PAKCOY (Brassica rapa L) Liufeto.O)* Ballo.A) ** Ledo .S.E.M) ** Liquid Organic Fertilizer (PocLon) is a type of liquid fertilizer made from mesocarp of palm fruit, POC is a liquid fertilizer made from organic materrials through a fermenttation proces. Organic materials that can be used are palm fiber. This study aims to determine the effect of the concenration of liquid organic fertilizer of palm on the growth of lettuca, pakcoy plants and determine the most optimal concentration of POC administration to increasi the growth of lettuce and pakcoy plants. This study uses (CRD) using analysis of variance (Anova) with control and 3 fertilizer treatments and 3 replication observed for 4 observation on each plant. The parameters observed are the percentage of germinition (%), plant heigh (cm) and number of leaves . Data abtained from the 3 observation parametrrs wiil then be analyzed using analysis of variance (ANOVA) to detrmine whether the effect of the treatmen is real or very real and will be continued with the duncan test at the 5% level to determine the deferiences between the compared treatment pairs.The height of lettuce plants obtained F count 5.373, df = 3, and P value 0.00 0.05, The height of pakcoy plants obtained F count 7.060 df = 3 and P value 0.000,05, The number of lettuce leaves obtained Fa 4,14, df = 3 and P value 0,0020,005, The of pakcoy leavis Fhrung 10,220, df = 3 and P value 0,003 0,005. Based on the results the ANOVA test, the best treatment results in providing PocLon on the parameters of germination percentage , plant height and number of leaves was with a mixture concentration of EM4 5 ml + 5 ml of water sugar + 6 liters of pal fruits mesocarp solution with a germination percentage in lettuce and pakcoy plants of 100%. While the average foe each plant height was 15.75 cm,and pakcoy 31,38 and the number of leaves on the plant was 30,5 and pakcoy 53. Keywords: Lontar Liquid Organic Fertilizer (PocLon), Growth of lettuce dan pakcoy plants, germination, plantheight, number of leaves. Information: *) Researcher **) Adv
HARIYANTI ANANTA BIO KADJU
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK ETNOBOTANI TANAMAN OBAT YANG DIGUNAKAN MASYARAKAT DI DESA KOPIDIL KECAMATAN KABOLA KABUPATEN ALOR Kadju, H.)* Rafael, A.)** Ngginak, J.)** Tanaman obat adalah jenis-jenis tanaman yang memiliki fungsi dan berkhasiat sebagai obat yang digunakan untuk mencegah maupun menyembuhkan berbagai penyakit. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan obat, bagian-bagian tumbuhan obat yang dimanfaatkan, cara pengelolaan tumbuhan obat dan jenis penyakit yang dapat disembuhkan dengan menggunakan tanaman obat oleh masyarakat Desa Kopidil. Metode penelitian menggunakan metode Survey explorative. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 20 spesies yakni, kemiri, sambiloto, daun ende, mengkudu, pepaya, bawang merah, sirih, pisang, kelor, kapok, bawang putih, jarak merah, binahong, serei, kunyit, pinang, jambu biji, turi, jarak putih, jahe. Organ tumbuhan yang digunakan yaitu pucuk daun, buah, batang, rimpang dan umbi. Penyakit-penyakit yang disembuhkan dengan menggunakan tumbuhan obat yakni perut kembung, malaria, cacar air dan sermpah, menurunkan darah tinggi, bisul, obat lambung, struk dan rematik, bengkak, badan sakit, lidah putih bayi dan panu. Cara pengolahan yang dilakukan oleh masyarakat di yaitu direbus, ditumbuk/dihaluskan, dikunyah, diperas, diparut, dan digaruk. Kata Kunci: Etnobotani, Tanaman obat, Desa Kopidil. Keterangan: * Peneliti ** Pembimbing ABSTRACT ETHNOBOTARY OD MEDICINAL PLANTS USED BY THE COMMUNITY IN KOPIDIL VILLAGE, KABOLA DISTRICT, ALOR REGENCY Kadju, H.)* Rafael, A.)** Ngginak, J.)** Medicinal plants are types of plants that have functions and properties as medicines used to prevent and cure various diseases. The purpose of this study was to determine the types of medicinal plants, the parts of medicinal plants that are used, how medicinal plants are managed, and the types of diseases that can be cured using medicinal plants by the people of Kopidil Village. The research method used was exploratory survey. The data analysis technique used qualitative descriptive analysis. Based on the results of the study, 20 spesies of medicinal plants were obtained, namely candlenut, green chirreta, ende leaves, mengkudu, papaya, shallots, betel, bananas, moringa, kapok, garlic, red castor oil plant, binahong, lemongrass, turmeric, areca nut, guava, gala -gala, white castor oil plant, and ginger. The parts of the plants used were the leaf buds, fruit, stems, rhizomes, and tubers. The diseases cured using medicinal plants were flatulence, malaria, chickenpox and measles, high blood pressure, boils, stomach medicine, stroke and rheumatism, swelling, body aches, white tongue in babies, and tinea versicolor. The processing methods used by the community include boiling, pounding/grinding, chewing, squeezing, grating, scraped, and rubbed. Keywords: Ethnobotany, Medicinal plants, Kopidil Village. Information: * Researcher ** Supervisor
ASNI KASE
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA TOBU KECAMATAN TOBU KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN Kase A)* Ledo E.S M)** Ngginak J)** Desa Tobu merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Masyarakat di Desa Tobu memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang jenis-jenis tumbuhan obat yang tumbuh di pekarangan rumah, ladang maupun hutan, masyarakat memahami bahwa setiap tumbuhan memiliki khasiat tertentu yang mampu mengobati berbagai jenis penyakit seperti demam, batuk dan diare. Tujuan adalah mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan obat yang terdapat di Desa Tobu, mengetahui bagian-bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional dan mengetahui cara pengolahan tumbuhan obat oleh masyarakat Desa Tobu.Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2025 di Desa Tobu. Metode Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pemilihan responden dalam penelitian adalah purposive sampling. Berdasarkan tujuan penelitian hasil inventarisasi dan identifikasi 43 jenis tumbuhan yang berasal dari 25 familli tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai sumber obat. Familli dengan spesies terbanyak ditemukan adalah Asteraceae dan Euphorbiaceae. Organ tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional berbeda-beda tergantung dari jenis tumbuhan. Bagian organ tumbuhan yang sering digunakan antara lain akar, kulit batang, daun, buah, pucuk, umbi dan rimpang. Secara keseluruhan dari jenis tumbuhan yang sudah teridentifikasi, kulit batang merupakan organ yang paling sering digunakan yakni sebanyak 22%, akar 21%, daun 18%, buah 12% pucuk 11% dan yang paling sedikit umbi dan rimpang 8%. Cara pemanfaatan tumbuhan sebagai obat oleh masyarakat diantaranya menggunakan empat cara yaitu direbus, ditumbuk, langsung dimakan dan dipanggang diapi. Presntase cara pengolahan tumbuhan dengan cara ditumbuk sebesar 63%, direbus 23%, dipanggang diapi7% dan langsung dikonsumsi 7%. Kata Kunci : Etnobotani, Tumbuhan Obat, Desa Tobu Keterangan : *) : Peneliti **) : Pembimbing
DESI KRISTIANI MONE
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN MANGROVE DI WILAYAH PESISIR PANTAI DESA PARITI KECAMATAN SULAMU KABUPATEN KUPANG Mone, D. K)* Rafael, A)** Ngginak, J)** Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir. Desa Pariti Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki ekosistem mangrove, namun penebangan liar, alih fungsi lahan, dan pencemaran masih kerap dijumpai.tujuan adalah menginventarisasi jenis tumbuhan mangrove yang terdapat di wilayah pesisir Pantai Desa Pariti serta menganalisis kerapatan, dan dominansi. Metode yang digunakan adalah Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif atau metode campuran dengan cara melakukan observasi terlebih dahuluh kemudian peneliti menarik garis transek sejauh 50 M kemudian membuat plot pada kedua transek, kemudian peneliti melakukan penjelajahan di setiap plot untuk mengidentifikasi, mengamati dan mendeskripsikan spesies yang ditemukan di setiap plot. sedangkan teknik pengambilan sampelnya menggunakan line transek yang dimodifikasi berdasarkan metode garis pantai berpeta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 spesies mangrove di Pantai Pariti, yaitu Sonneratia alba, Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, dan Ceriops tagal. Spesies-spesies tersebut termasuk dalam tiga famili, yaitu Rhizophoraceae, Lythraceae, dan Acanthaceae. Dengan nilai tertinggi keanekaragaman pada tingkat semai terdapat pada transek 2 plot 3 dengan nilai H’=5,81 dan terendah terdapat pada transek 1, plot 1 dengan H’= 0, dengan spesies yang mendominasi yaitu Sonneratia alba dan Avicennia alba. Nilai tertinggi keanekaragaman tingkat pancang terdapat pada transek 2 plot 3 dengan H’=5,76 dan terendah terdapat pada transek 1 plot 1 dengan H’=0 dengan spesies yang mendominasi Sonneratia alba, Avicennia alba, Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa. Nilai tertinggi keanekaragaman tingkat pohon terdapat pada transek 2 plot 3 H’= 4,28 dan terendah H’=1,94 dengan jenis yang medominasi yaitu Sonneratia alba dan Avicennia alba. Kerapatan tertinggi pada tingkat semai sebesar 69 ind/ha (40,08%), pada tingkat pancang 2,8 ind/ha (1,62%) dan pada tingkat pohon 0,52 ind/ha (0,30%). Kata kunci : Inventarisasi, Mangrove, Pariti, Keanekaragaman, Kerapatan Keterangan : *) Peneliti **) Pembimbing ABSTRACT INVENTORY OF MANGROVE PLANT SPECIES IN THE COASTAL AREA OF PARITI VILLAGE, SULAMU DISTRICT, KUPANG REGENCY Mone, D. K)* Rafael, A)** Ngginak, J)** The mangrove ecosystem is one of the coastal ecosystems that has an important role in maintaining the balance of the coastal environment. Pariti Village, Sulamu District, Kupang Regency, is one of the coastal areas that has a mangrove ecosystem, but illegal logging, land conversion, and pollution are still often found. The aim is to inventory the types of mangrove plants found in the coastal area of Pariti Village Beach and analyze density and dominance. The method used is The method used in this study is qualitative and quantitative or mixed methods by conducting observations first then the researcher draws a transect line as far as 50 M then makes a plot on both transects, then the researcher explores each plot to identify, observe and describe the species found in each plot. while the sampling technique uses a modified line transect based on the mapped coastline method. The results showed that there are 6 mangrove species in Pariti Beach, namely Sonneratia alba, Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, and Ceriops tagal. These species belong to three families, namely Rhizophoraceae, Lythraceae, and Acanthaceae. With the highest value of diversity at the seedling level found in transect 2 plot 3 with a value of H’=5.81 and the lowest found in transect 1, plot 1 with H’=0, with the dominant species being Sonneratia alba and Avicennia alba. The highest value of diversity at the sapling level found in transect 2 plot 3 with H’=5.76 and the lowest found in transect 1 plot 1 with H’=0 with the dominant species being Sonneratia alba, Avicennia alba, Rhizophora mucronata and Rhizophora stylosa. The highest value of diversity at the tree level found in transect 2 plot 3 H’=4.28 and the lowest H’=1.94 with the dominant species being Sonneratia alba and Avicennia alba. The highest density at the seedling level was 69 ind/ha (40.08%), at the sapling level 2.8 ind/ha (1.62%) and at the tree level 0.52 ind/ha (0.30%). Keywords: Inventory, Mangrove, Pariti, Biodiversity, Density Information: *) Researcher **) Adviser
HELEN YOHANA TIMUNG
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ROTATING TRIO EXCHANGE(RTE) TERHADAP KEMAMPUAN METAKOGNITIF SISWA PADA MATERI IPA DI KELAS VIII Timung H. Y)* Manu T. S. N)** Meha A. M)** Salah satu masalah yang terdapat di kelas VIII SMPN 17 Kota Kupang adalah rendahnya kemampuan metakognitif dalam proses pembelajaran materi sistem pencernaan, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Rotating Trio Exchange terhadap kemampuan metakognitif siswa. Penelitian ini merupakan penelitian metode eksperimen dengan rancangan penelitian Quasi-experimental design. Dengan jumlah populasi sebanyak 52 dan jumlah sampel dua kelas yang terdiri dari siswa kelas VIII-A dan kelas VIII-B, di mana kelas VIII-A sebagai kelas eksperimen dengan jumlah siswa 15 orang dan kelas VIII-B sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa sebanyak 21 orang. Pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan tes kemampuan metakognitif. Data penelitian dianalisis menggunakan uji statistik parametrik, yaitu uji-t dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki perbedaan kemampuan metakognitif. Pada kelas eksperimen, peneliti menggunakan model pembelajaran Rotating Trio Exchange sehingga dapat meningkatkan kemampuan metakognitif siswa di kelas. Hal ini terlihat pada salah satu indikator, yaitu merencanakan, dengan persentase 82,30%. Pada saat guru menjelaskan menggunakan model pembelajaran Rotating Trio Exchange di dalam kelas, siswa terlihat tertarik dan adanya keinginan dalam proses pembelajaran sehingga mampu untuk menyajikan edukasi sistem pencernaan. Sedangkan pada kelas kontrol, peneliti menggunakan buku cetak sehingga siswa terlihat tidak aktif karena merasa jenuh dan bosan. Hal ini dilihat dari indikator yang sama, yaitu merencanakan, dengan persentase 48,30%. Hasil persentase kelas kontrol ini menunjukkan bahwa kemampuan metakognitif siswa dalam proses pembelajaran menggunakan buku cetak masih rendah. Fakta tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan pada penggunaan model pembelajaran Rotating Trio Exchange terhadap kemampuan metakognitif siswa di kelas VIII SMPN 17 Kota Kupang. Kata Kunci: Model Pembelajaran Rotating Trio Exchange dan Kemampuan Metakognitif. Keterangan:)* : Peneliti )** : Pembimbing ABSTRACT THE EFFECT OF THE ROTATING TRIO EXCHANGE (RTE) LEARNING MODEL ON STUDENTS' METACOGNITIVE ABILITIES IN SCIENCE MATERIAL IN GRADE VIII Timung H. Y)* Manu T. S. N)** Meha A. M)** One of the problems found in class VIII SMPN 17 Kupang City is the low metacognitive ability in the learning process of digestive system material, so the purpose of this study is to determine the effect of using the Rotating Trio Exchange learning model on students' metacognitive abilities. This study is an experimental method study with a Quasi-experimental design. With a population of 52 and a sample of two classes consisting of class VIII-A and class VIII-B students, where class VIII-A is the experimental class with 15 students and class VIII-B as the control class with 21 students. The sampling used is a purposive sampling technique. Data collection uses a metacognitive ability test. The research data were analyzed using parametric statistical tests, namely the t-test with the help of SPSS. The results of this study state that the control class and the experimental class have differences in metacognitive abilities. In the experimental class, researchers used the Rotating Trio Exchange learning model so that it can improve students' metacognitive abilities in the class. This can be seen in one of the indicators, namely planning, with a percentage of 82,30%.When the teacher explained using the Rotating Trio Exchange learning model in class, students appeared interested and eager in the learning process so they were able to present digestive system education. Meanwhile, in the control class, the researcher used printed books so that students appeared inactive because they felt bored and tired. This can be seen from the same indicator, namely planning, with a percentage of 48,30%. The results of the control class percentage indicate that students' metacognitive abilities in the learning process using printed books are still low. This fact indicates that there is a significant influence on the use of the Rotating Trio Exchange learning model on students' metacognitive abilities in class VIII of SMPN 17 Kota Kupang. Keywords: Rotating Trio Exchange Learning Model and Metacognitive Skills. Note: )*: Researcher )**: Supervisor
YOSUA UMBU ZOGARA WOLAGOLE
2026 · Thesis · Open Access
Skripsi berjudul: “TUAN AIR” dengan sub judul: “Suatu Kajian Ekoteologi Dalam Usaha Mentransformasikan Pemahaman Jemaat GMIT O’emathonis Tubu Mnanu Tentang Kesakralan dan Nilai Intrinsik Mata Air Sonbilo” yang ditulis oleh Yosua Umbu Zogara Wolagole. Hadirnya budaya dalam suatu kelompok masyarakat akan membawa dampak tersendiri tentang bagaimana memahami kehadiran setiap ciptaan yang ada di bumi ini baik secara ekologis maupun kontekstual. Masalah yang diangkat oleh penulis akan berfokus pada sikap dan pemahaman jemaat GMIT O'emathonis Tubu Mnanu tentang sikap dan pemahaman jemaat yang dualistik antroposentrik akan nilai intrinsic dan kesakralan dari air terkhususnya mata air Sonbilo. Jemaat GMIT O'emathonis Tubu Mnanu adalah jemaat yang telah menganut Kekristenan sejak lama, namun penulis melihat adanya permasalahan ekoteologis dalam pemahaman mereka berdasarkan perspektif budaya tentang kehadiran air itu sendiri. Dalam pemahaman budaya, jemaat ini memahami bahwa dalam keberlangsungan ekosistem air masih terdapat kuasa leluhur yang masih turut berpartisipasi dalam kelestarian mata air Sonbilo dan bisa kapan saja memberi peringatan akan perbuatan jemaat yang salah dalam bentuk hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan mengacu pada hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah agar jemaat GMIT O'emathonis Tubu Mnanu dapat mengoreksi kembali tentang pemahaman yang benar terhadap air yang bernilai intrinsik dalam perspketif ekoteologi yang melihat alam sebagai rumah (Yun.:oikos) yang diberikan Tuhan, air bernilai intrinsic bukan karena kuasa leluhur melainkan semata-mata hanya karena kuasa Allah. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan berdasar pada teori Emanuel Gerrit Singgih yaitu etika sakralitas air agar mendapatkan hasil kajian yang jelas tentang air yang bersifat sakral dan bernilai intrinsik. Penulis berharap tulisan ini dapat memberikan sumbangsih bagi pemahaman jemaat GMIT O'emathonis Tubu Mnanu dalam memaknai kesakralan air Sonbilo dan nilai-nilai intrinsik yang terkandung dalam air tersebut.
MARIA LOISA SAMOY
2026 · Thesis · Open Access
Pelayanan Anak, Remaja dan Taruna (PART) merupakan salah satu bentuk pelayanan gereja yang strategis dalam menanamkan iman dan membentuk karakter anak sebagai generasi penerus gereja. Namun, dalam realitas pelayanan PART di Jemaat GMIT Sebiji Sesawi Maipui, Klasis Alor Tengah Utara, masih dijumpai berbagai persoalan yang berkaitan dengan kapasitas pengajaran tenaga pengajar PART. Persoalan tersebut tampak dalam keterbatasan kompetensi pedagogis, penggunaan metode pengajaran yang kurang variatif, minimnya bahan ajar, serta rendahnya dukungan struktural gereja terhadap pembinaan pengajar PART. Kondisi ini berdampak pada rendahnya partisipasi, minat, dan pemahaman iman anak-anak dalam kegiatan PART.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan realitas kapasitas pengajaran tenaga pengajar PART di Jemaat GMIT Sebiji Sesawi Maipui serta meninjaunya dari perspektif teologi Kristen, khususnya dalam kerangka Pendidikan Agama Kristen (PAK). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan reflektif-teologis. Data diperoleh melalui studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara dengan pendeta, majelis jemaat, pengajar PART, serta orang tua anak PART.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas pengajaran tenaga pengajar PART masih berada pada tingkat yang terbatas, baik dari aspek pedagogis, metodologis, maupun dukungan kelembagaan gereja. Dalam tinjauan teologis, gereja dipahami memiliki tanggung jawab iman untuk membina dan memperlengkapi para pengajar PART sebagai pelayan pendidikan iman anak. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas pengajaran PART perlu dipahami sebagai panggilan teologis gereja dalam melaksanakan tugas mendidik generasi iman secara berkelanjutan.
MILKA ZEFRIANA TERESIA MANTOLAS
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini berangkat dari adanya ketegangan pemahaman di tengah jemaat
GMIT Ebenhaizer Haumolo mengenai tradisi mamat (makan sirih pinang).
Sebagian jemaat memandang mamat sebagai praktik budaya semata, sedangkan
sebagian lainnya mempertanyakan relevansinya bagi kehidupan iman Kristen.
Pokok persoalan inilah yang kemudian melahirkan kebutuhan untuk menelaah
tradisi mamat secara teologis, khususnya bagaimana tradisi tersebut dapat
dipahami an dimaknai dalam terang Injil serta kehidupan bergereja.
Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai-nilai teologis yang terkandung
dalam tradisi mamat serta menjelaskan bagaimana praktik budaya tersebut dapat
menjadi sarana membangun keramahtamahan, mempererat persekutuan,
memulihkan relasi, membentuk iman generasi muda, dan menghadirkan kesaksian
gereja di tengah masyarakat. Tujuan lainnya adalah membantu jemaat melihat
bahwa tradisi mamat tidak harus dipertentangkan dengan iman Kristen, melainkan
dapat menjadi bagian dari spiritualitas yang membumi dan relevan bagi kehidupan
umat.
Pendekatan yang digunakan adalah teologi kontekstual dengan metode
kualitatif, melalui analisis literatur, pengamatan terhadap praktik mamat dalam
kehidupan jemaat, serta refleksi teologis berdasarkan narasi Alkitab dan
pemikiran teolog Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menangkap
makna teologis tradisi mamat secara menyeluruh, tidak hanya sebagai adat
istiadat, tetapi sebagai ruang hidup yang mempengaruhi pembentukan relasi,
iman, dan identitas jemaat.
Temuan utama menunjukkan bahwa tradisi mamat mengandung nilai-nilai
kristiani yang kuat, seperti penerimaan, kesetaraan, keramahtamahan, rekonsiliasi,
pembinaan iman, dan kesaksian gereja. Tradisi ini mampu menjadi ruang
perjumpaan yang menghadirkan kasih Allah dan memperkaya spiritualitas jemaat.
Dengan demikian, mamat tidak hanya layak dipertahankan sebagai identitas
budaya, tetapi juga dapat diintegrasikan sebagai bagian dari praksis iman Kristen
yang kontekstual dan membangun kehidupan jemaat secara holistik.
INNE SINTYA LUSI
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Tradisi uri lii-langu merupakan salah satu bentuk warisan budaya dari para nenek
moyang masyarakat pulau Ndao yang berfungsi sebagai mekanisme penyelesaian
masalah dalam kehidupan sosial, keluarga dan komunitas. Tradisi ini menekankan
dialog, pengakuan kesalahan, tanggung jawab moral, serta pemulihan relasi
sebagai tujuan utama dalam menyelesaikan masalah. Akan tetapi, dalam konteks
kehidupan gereja, tradisi ini belum sepenuhnya dimaknai. Karena menganggap
bahwa tidak ada keadilan jika menyelesaikan masalah dengan tradisi ini. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tradisi uri lii-langu dalam
perspektif teologi kontekstual, khususnya menggunakan model antropologis
Stephen B. Bevans, guna menggali makna teologis yang terkandung di dalamnya
serta implikasinya bagi kehidupan gereja dan jemaat. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tradisi uri lii-langu mengandung nilai-nilai yang sejalan
dengan iman Kristen, seperti rekonsiliasi, pengampunan, keadilan dan pemulihan
relasi. Nilai-nilai ini dapat dipahami sebagai Injil yang menunjukkan bahwa Allah telah bekerja dalam kebudayaan. Perlu juga untuk ditafsir tradisi ini secara teologis agar tidak terjebak pada romantisasi budaya, tetapi tetap berorientasi pada
keadilan, kasih dan pertobatan yang sejati. Tradisi ini merupakan kekayaan
budaya yang memiliki nilai teologis untuk memperkaya pelayanan gereja dan
kehidupan jemaat. Melalui pendekatan teologi kontekstual, gereja dipanggil untuk
berdialog secara kritis dan kreatif terhadap tradisi ini sehingga nilai-nilai adat dan
iman Kristen dapat saling memperdalam dalam membangun kehidupan bersama
yang damai dan utuh.
JITRO ELIASAR MODOK
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Tradisi neto’u lima (jabat tangan) merupakan praktik budaya masyarakat Rote yang berfungsi sebagai sarana perdamaian. Tradisi ini tetap dilestarikan oleh Jemaat GMIT Imanuel Koli, Klasis Rote Barat Laut, bahkan setelah kekristenan hadir dan berkembang. Fokus penelitian ini adalah: bagaimana gambaran umum jemaat GMIT Imanuel Koli, bagaimana pemahaman jemaat terhadap tradisi neto’u lima, serta bagaimana refleksi teologis terhadap pemahaman jemaat tentang tradisi neto’u lima dan dapat mengimpilkasikannya bagi pelayanan gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konteks sosial, budaya, dan keagamaan jemaat GMIT Imanuel Koli, mengungkap pemahaman jemaat mengenai tradisi neto’u lima sebagai tanda perdamaian, dan merumuskan refleksi teologis yang menempatkan tradisi ini sebagai bagian dari pelayanan dalam gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan lapangan, melalui observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis-reflektif, sehingga data empiris dapat ditafsirkan dalam kerangka teologis. Temuan utama menunjukkan bahwa tradisi neto’u lima dipahami jemaat sebagai simbol perdamaian yang menyatukan nilai adat dan iman Kristen. Jabat tangan menjadi tanda niat baik, doa bersama menegaskan dimensi spiritual, dan keterlibatan tokoh adat serta gereja memperkuat legitimasi sosial. Tradisi ini sejalan dengan ajaran Kristus tentang perdamaian bagi semua umat, sehingga dapat dipandang sebagai modal sosial dan teologis yang dapat diimplikasikannya bagi pelayanan dalam gereja juga masyarakat. Tesis penelitian menegaskan bahwa neto’u lima bukan sekadar warisan budaya, melainkan praktik perdamaian yang memperkaya kehidupan jemaat dan memperkuat peran gereja dalam membangun kasih persaudaraan dan perdamaian.
GRESMELAN TRIKOBI ANIN
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini menelaah spiritualitas generasi sandwich di Jemaat GMIT Sesawi Oepura serta implikasinya bagi pelayanan gereja melalui tinjauan teologis. Generasi sandwich dipahami sebagai individu usia produktif yang memikul tanggung jawab ganda secara simultan dan berkelanjutan: menopang orang tua lanjut usia sekaligus anak/adik/kerabat yang belum mandiri, sehingga rentan mengalami tekanan ekonomi, kelelahan fisik, dan beban emosional yang dapat memengaruhi kehidupan iman. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana warga jemaat memaknai pergumulan tersebut sebagai pengalaman spiritual, bukan semata persoalan sosial-ekonomi. Penelitian menggunakan metode kualitatif lapangan dengan teknik wawancara semi-terstruktur dan studi dokumen. Partisipan dipilih secara purposive (usia 25–45 tahun, bekerja, memiliki tanggungan lintas generasi, dan merupakan anggota Jemaat GMIT Sesawi Oepura). Analisis menggunakan kerangka spiritualitas Sandra M. Schneiders yang menekankan integrasi dimensi personal-internal, relasional-komunal, praksis keseharian, dan hermeneutik pemaknaan pengalaman. Hasil menunjukkan bahwa spiritualitas generasi sandwich di jemaat ini cenderung berwujud sebagai “spiritualitas resiliensi”: iman yang bertahan di tengah keterbatasan, tampil dalam kesetiaan menjalankan tanggung jawab, doa yang lahir dari situasi krisis, serta pengharapan akan penyertaan Allah meski disertai keluhan, rasa bersalah, bahkan kemarahan kepada Tuhan. Gereja dipandang membantu melalui ibadah rumah tangga dan diakonia, namun dibutuhkan pendampingan pastoral yang lebih peka terhadap ritme kerja, beban psikospiritual, dan kebutuhan batasan diri. Penelitian ini merekomendasikan penguatan komunitas dukungan, konseling pastoral kontekstual, dan praksis gerejawi yang mengafirmasi pengalaman generasi sandwich sebagai ruang perjumpaan dengan Allah.
VIONA MONALISA SINLAELOE
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi konsep relasi dialogis Ich und Du Martin Buber terhadap konteks kekerasan dalam kehidupan jemaat GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) Imanuel Olalain. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dan konflik relasional masih terjadi dalam kehidupan jemaat, yang menunjukkan adanya krisis dalam kualitas relasi antarmanusia. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan wawancara dan refleksi teologis, penelitian ini menemukan bahwa banyak relasi suami-istri dalam jemaat masih dibangun dalam pola dominatif, hierarkis, dan minim dialog, sehingga lebih menyerupai pola relasi Ich-Es (Aku-Itu) daripada Ich-Du (Aku-Engkau). Selain faktor personal, kekerasan juga dipengaruhi oleh faktor kultural, struktural, dan pemahaman teologis yang belum sepenuhnya menekankan kesetaraan martabat manusia. Iman Kristen yang diakui jemaat sering kali belum terintegrasi dalam praktik relasi sehari-hari, sehingga relasi dengan Tuhan tidak selalu tercermin dalam relasi dengan pasangan. Dalam terang pemikiran Martin Buber, relasi yang sehat hanya mungkin terwujud melalui perjumpaan dialogis yang mengakui keutuhan dan martabat pribadi sebagai subjek, bukan objek. Penelitian ini juga menegaskan bahwa kekerasan merupakan pelanggaran terhadap martabat manusia sebagai gambar Allah (Imago Dei). Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk membangun spiritualitas relasional yang transformatif, memperbarui pola komunikasi, serta menghadirkan struktur persekutuan yang partisipatif dan adil. Konsep Ich-Du menjadi kerangka teologis yang relevan untuk pemulihan relasi, pencegahan kekerasan, dan pembentukan kehidupan jemaat yang lebih dialogis, manusiawi, dan mencerminkan kasih Allah.
MAXSOMANG ELIANBERD KARLSEVAN WAANG
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini berangkat dari persoalan rendahnya partisipasi jemaat dalam pelayanan di Jemaat GMIT Dale Sue Kenamoen, Klasis Rote Timur, yang berkaitan erat dengan pola relasi dalam struktur organisasi majelis jemaat serta iklim pelayanan yang terbentuk. Dalam konteks sosial pedesaan dengan karakter komunikasi yang terbuka dan keras, muncul dominasi pihak tertentu dalam kepemimpinan, sikap otoriter dalam komunikasi, serta kecenderungan jemaat untuk bersikap pasif dan enggan menyampaikan pendapat dalam forum gerejawi. Situasi ini bertentangan dengan tujuan pembangunan jemaat yang partisipatif dan prinsip penataan organisasi GMIT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konteks sosial-budaya dan organisatoris Jemaat GMIT Dale Sue Kenamoen, menganalisis struktur organisasi serta dampak relasi dalam majelis jemaat terhadap iklim pelayanan dan partisipasi warga jemaat, serta merumuskan refleksi teologis pembangunan jemaat terhadap realitas tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap sejumlah informan yang terdiri dari pendeta, majelis jemaat, dan anggota jemaat, serta didukung dengan dokumen gerejawi. Validitas data dibuktikan melalui triangulasi sumber dan analisis tematik berdasarkan tahapan dalam pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur organisasi yang secara formal bersifat partisipatif dalam praktiknya dipengaruhi oleh relasi yang timpang, komunikasi yang keras, serta pemutlakan tipe relasi tertentu sebagaimana dikritisi dalam teori Jan Hendriks. Kondisi ini membentuk iklim pelayanan yang kurang dialogis, menghambat keterlibatan jemaat, serta melemahkan vitalitas pelayanan gereja. Penelitian ini menegaskan bahwa pembangunan jemaat yang sehat menuntut penataan struktur dan iklim pelayanan yang menempatkan jemaat sebagai subjek, mengembangkan kepemimpinan yang kolaboratif, serta membuka ruang partisipasi sebagai wujud karya Allah dalam membangun gereja.
RAMBU MAGDALENA NATALIA NGGIKU
2026 · Thesis · Open Access
Pemuda merupakan kelompok strategis dalam kehidupan bergereja karena
memiliki potensi besar sebagai generasi penerus pelayanan. Namun, realitas
kepemimpinan pemuda di Jemaat GMIT Getsemani Sikumana menunjukkan
berbagai persoalan, seperti ketidakstabilan struktur kepemimpinan, lemahnya
pembinaan dan pendampingan, serta pemahaman kepemimpinan yang masih
bersifat struktural dan administratif, bukan sebagai panggilan iman dan pelayanan.
Kondisi tersebut berdampak pada minimnya koordinasi pelayanan, rendahnya
partisipasi aktif pemuda, serta melemahnya peran pemuda dalam dinamika
kehidupan jemaat. Berdasarkan realitas tersebut, penelitian ini bertujuan untuk
menelaah kepemimpinan orang muda dalam perspektif teologis serta menganalisis
realitas kepemimpinan pemuda di Jemaat GMIT Getsemani Sikumana dengan
menggunakan pendekatan servant leadership sebagaimana dikemukakan oleh
Robert K. Greenleaf. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan deskriptif, analitis, dan reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan
melalui studi kepustakaan serta penelitian lapangan berupa observasi, wawancara,
dan dokumen. Subjek penelitian meliputi majelis jemaat dan pemuda Jemaat
GMIT Getsemani Sikumana yang terlibat aktif dalam pelayanan. Data yang
diperoleh dianalisis untuk menggambarkan kondisi kepemimpinan orang muda,
mengidentifikasi persoalan yang terjadi, serta merefleksikannya secara teologis
berdasarkan nilai-nilai kepemimpinan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kepemimpinan orang muda di Jemaat GMIT Getsemani Sikumana belum
sepenuhnya dipahami sebagai panggilan pelayanan yang berakar pada iman,
melainkan masih dipandang sebagai beban struktural organisasi. Kurangnya
pembinaan dan formasi kepemimpinan berdampak pada lemahnya integritas,
tanggung jawab pelayanan, kepekaan sosial, serta visi kepemimpinan orang muda.
Melalui refleksi teologis dan pendekatan servant leadership Robert K. Greenleaf,
kepemimpinan orang muda dipahami sebagai kepemimpinan yang berangkat dari
sikap melayani, diwujudkan melalui keteladanan hidup, integritas karakter,
kerendahan hati, serta komitmen untuk memberdayakan dan membangun sesama.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teologis dan praktis bagi
gereja dalam merumuskan model pembinaan kepemimpinan pemuda yang
kontekstual, berkelanjutan, dan berakar pada nilai-nilai iman Kristen.
LITA ANJELINA LETIK
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Perkembangan teknologi digital pada era modern membawa pengaruh pada kehidupan anak-anak, khususnya dalam pembentukan karakter. Anak usia dini atau anak sekolah minggu, mereka sangat rentan terhadap pengaruh media digital yang tidak selamanya memiliki nilai-nilai Kristiani. Oleh karena itu, gereja memiliki tanggung jawab untuk untuk menghadirkan pendidikan iman yang kontekstual, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan dasar teologisnya. Melalui penelitian ini penulis mengkaji penggunaan tayangan superbook sebagai media pembelajaran dalam pembentukan karakter anak Sekolah Minggu kelas Indria A dan Indria B (usia 3-8 tahun) di Jemaat GMIT Horeb Perumnas, Klasis Kota Kupang, dengan tinjauan teologi Pendidikan Agama Kristen (PAK). Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan pendeta, guru Sekolah Minggu, dan orang tua, serta studi literatus yang relevan dengan penulisan ini. Dengan fokus penelitian dalam konteks jemaat, dampak tayangan superbook terhadap pembentukan karakter anak, serta relevansinya dalam perspektif teologi PAK. Kemudian hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan tayangan superbook memberi dampak positif dalam proses pembelajran Sekolah Minggu. Media audio-visual mampu meningkatkan minat perhatian, dan antusias anak dalam mengikuti ibadah Sekolah Minggu, serta menolong anak memahami dan mengingat cerita-cerita Alkitab dengan mudah. Nilai-nilai karakter Kristiani seperti ketaatan kepada Tuhan, kasih terhadap sesama, kejujuran, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai mulai terlihat dalam perilaku anak, baik di lingkungan gereja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari tinjauan teologi PAK, superbook dipandang relevan sebagai media pembelajaran yang mendukung pembentukan karakter anak secara holistik, karena mengintegrasikan aspek iman, moral, dan perkembangan kognitif anak. Namun penggunaan superbook perlu disertai pendampingan guru Sekolah Minggu dan keterlibatan orang tua agar pesan iman dapat dipahami secara benar dan berkelanjutan. Dengan demikian, superbook dapat menjadi salah satu alternative media pembelajaran yang efektif dalam pelayanan Sekolah Minggu.
OZNI ORLINCE BUAN
2026 · Thesis · Open Access
Kaderisasi pemuda-pemudi merupakan kebutuhan mendasar gereja dalam menjaga keberlanjutan pelayanan dan kehidupan bergereja. Di tengah tantangan sekularisme yang semakin memengaruhi cara pandang, minat, dan keterlibatan pemuda-pemudi dalam kehidupan bergereja, gereja dituntut untuk merefleksikan secara teologis upaya kaderisasi yang kontekstual dan berkelanjutan. Pemuda-pemudi dipahami bukan hanya sebagai penerima pelayanan, tetapi sebagai subjek yang memiliki potensi untuk dibina dalam iman, karakter, dan kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan mengkaji upaya kaderisasi pemuda-pemudi melalui program Aksi Paskah dan Natal di Jemaat GMIT Golgota Alak dalam perspektif pembangunan jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Appreciative Inquiry yang menekankan penggalian pengalaman positif dan potensi jemaat melalui tahapan Discover, Dream, Design, dan Destiny. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi dengan melibatkan pemuda-pemudi serta Majelis Jemaat. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan reflektif untuk memahami dinamika kaderisasi yang berlangsung dalam kehidupan jemaat. Kemudian, data disajikan dalam bentuk deskripsi naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Aksi Paskah dan Natal menjadi ruang pembelajaran yang penting bagi pemuda-pemudi dalam mengembangkan keterampilan pelayanan, kerja sama, serta rasa memiliki terhadap pelayanan gereja. Keterlibatan aktif dalam liturgi, pewartaan firman, dan pengelolaan kegiatan memberikan pengalaman konkret hidup bergereja. Namun, proses kaderisasi masih bersifat periodik dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam perencanaan pembangunan jemaat jangka panjang. Penelitian ini menegaskan bahwa refleksi teologis atas praktik kaderisasi diperlukan agar gereja mampu merespons tantangan sekularisme secara sadar, menata pembinaan pemuda-pemudi secara terarah, dan menghadirkan kaderisasi yang berkesinambungan demi keberlanjutan pelayanan gereja masa kini dan masa depan.
VICHA SUSANA MANANEL
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini mengkaji praktik panen padi di Jemaat GMIT Imanuel Manefu sebagai ruang
hidup teologis yang mengintegrasikan tradisi budaya lokal dengan iman Kristen. Praktik
panen padi tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas agraris, melainkan sebagai praktik
komunal dan spiritual yang berfungsi membentuk identitas, relasi sosial, serta penghayatan
iman jemaat secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
perkembangan praktik panen padi dari masa sebelum Kristen, masa sesudah Kristen, hingga
masa kini, sekaligus menganalisis nilai, makna, dan tema teologis yang terkandung di
dalamnya. Penelitian ini juga menelaah implikasi praktik tersebut bagi persekutuan Jemaat
GMIT Imanuel Manefu, terutama dalam menghadapi tantangan relasi persaudaraan akibat
konflik sosial, seperti perebutan tanah warisan. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif
dengan metode deskriptif-analitis, menggunakan wawancara mendalam dan studi pustaka
sebagai sumber data utama, kemudian dianalisis melalui kerangka Teologi Kontekstual
Model Sintesis karya Stephen B. Bevans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik panen
padi di Manefu mengalami transformasi dalam bentuk kerja dan teknis pelaksanaan akibat
pengaruh modernisasi yang bisa saja menggeser nilai-nilai inti Kristen yang terkandung
dalam praktik tersebut seperti nilai persekutuan, kasih, persaudaraan, gotong royong, dan
pemberian diri tanpa pamrih tetap terpelihara. Praktik panen padi dimaknai sebagai ritus
syukur kepada Tuhan, peneguh identitas budaya jemaat, sarana penguatan relasi sosial, dan
media pembentukan etos kerja yang bertanggung jawab. Refleksi teologis menegaskan bahwa
praktik panen padi merupakan wujud teologi hidup yang kontekstual, di mana kerja dipahami
sebagai bentuk ibadah, tanah sebagai anugerah Tuhan, dan tindakan berbagi sebagai
kesaksian iman. Dalam konteks konflik warisan yang mengancam persatuan jemaat, praktik
panen padi berpotensi menjadi ruang rekonsiliatif sekaligus pedagogi iman yang meneguhkan
persekutuan sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu, pemeliharaan dan pengembangan praktik
ini menjadi penting sebagai media pewartaan Injil dan pembentukan spiritualitas komunal
jemaat di tengah dinamika sosial dan perubahan zaman
SIFRA HALLA
2026 · Thesis · Open Access
Gereja dalam pelayanan pastoral memiliki panggilan untuk melaksanakan tugas penggembalaan dengan merawat, melindungi, memelihara, serta menolong umat sebagai domba-domba Allah. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, gereja tidak terlepas dari berbagai persoalan umat, salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga yang berdampak serius bagi anak-anak sebagai saksi. Pengalaman menyaksikan kekerasan seringkali meninggalkan trauma psikologis yang mengganggu rasa aman dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum lokasi penelitian di Jemaat GMIT Sono, mengkaji upaya gereja dalam penyembuhan trauma anak-anak usia 5–12 tahun yang menyaksikan kekerasan, serta menganalisis upaya tersebut dalam tinjauan teologi pastoral.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan dan studi literatur. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Mata Jemaat Sion Oepuah terdapat anak-anak usia 5–12 tahun yang mengalami trauma psikologis, ditandai dengan gejala ketakutan, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, dan keinginan untuk membalas dendam. Upaya gereja dalam pendampingan trauma masih bersifat umum dan belum menyentuh kebutuhan emosional anak secara khusus. Dalam tinjauan teologi pastoral, gereja dipahami sebagai komunitas penyembuhan (healing community) yang menghadirkan ruang aman bagi umat. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk berperan lebih aktif, terstruktur, dan berkelanjutan dalam pendampingan pastoral guna menolong anak-anak mengalami pemulihan dan keutuhan hidup.
KURNIAWAN OCTOVIANUS KASSE
2026 · Thesis · Open Access
Pembangunan jemaat merupakan bagian integral dari panggilan gereja untuk menumbuhkan kehidupan iman yang dewasa, partisipatif, dan kontekstual, namun dalam praktiknya sering kali masih berangkat dari pendekatan yang menekankan persoalan dan kekurangan sehingga potensi jemaat kurang dioptimalkan secara maksimal. Kondisi ini juga tampak dalam kehidupan Jemaat GMIT Hosana Hane yang sesungguhnya memiliki kekayaan potensi sosial, ekonomi, dan budaya, tetapi belum sepenuhnya dikembangkan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini berangkat dari persoalan mengenai bagaimana konteks sosial-ekonomi jemaat melatarbelakangi praktik kemitraan dengan komunitas Prosi, bagaimana praktik kemitraan tersebut dipahami dalam kerangka pembangunan jemaat berbasis Appreciative Inquiry, serta bagaimana kemitraan itu direfleksikan secara teologis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks kehidupan Jemaat GMIT Hosana Hane, menganalisis praktik kemitraan gereja dengan komunitas Prosi sebagai bagian dari pembangunan jemaat berbasis Appreciative Inquiry, serta merefleksikannya secara teologis dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen, yang dianalisis secara deskriptif-analitis dan refleksi teologis berdasarkan teori pembangunan jemaat Jan Hendriks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemitraan antara GMIT Hosana Hane dan komunitas Prosi menjadi sarana pembangunan jemaat yang bersifat partisipatif dan transformatif, di mana pendekatan Appreciative Inquiry menolong jemaat untuk mengenali serta mengembangkan potensi yang telah dimiliki sebagai aset pembangunan, sehingga jemaat semakin diposisikan sebagai subjek yang berdaya dalam membangun kehidupan iman, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
RISMA NURWATI BONES
2026 · Thesis · Open Access
Penulisan ini mengkaji praktik dansa kizomba yang dilakukan oleh pemuda-pemudi GMIT Siloam Oelbioin. Pokok persoalan penelitian ini adalah adanya keresahan karena praktik dansa kizomba dengan sentuhan fisik yang berlebihan dengan lawan jenis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat, menganalisis praktik dansa kizomba, serta memberikan refleksi etis teologis terhadap praktik tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analisis, data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan beberapa narasumber serta dianalisis menggunakan teori etika deontologi Immanuel Kant dan konsep kekudusan hidup dalam perspektif alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik dansa kizomba di kalangan pemuda-pemudi ditandai dengan kedekatan fisik yang sangat intim, sentuhan pada area tubuh privat dan perilaku seperti berciuman di depan umum sehingga praktik ini sering memicu terjadinya konflik dan dinilai melanggar prinsip kekudusan hidup kristen. Berdasarkan analisis deontologi, tindakan ini dinilai tidak bermoral karena melanggar kewajiban universal untuk menghormati martabat manusia dan kekudusan hidup.
Kata Kunci: Dansa kizomba, Etika deontologi Immanuel Kant, kekudusan hidup