2023 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak
Tenun ikat merupakan salah satu hasil kebudayaan yang harus dilestarikan oleh setiap
generasi. Dalam kehidupan bermasyarakat, tenunan dihargai dan diakui sebagai komoditas di
semua kalangan masyarakat, mulai dari penguasa hingga para petani dan dengan demikian
digunakan juga sebagai benda berharga penanda status sosial. Tenun ikat yang sangat
berpengaruh sebagai simbol status sosial seseorang merupakan hal yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan masyarakat dan karena itu, tenun ikat memiliki makna yang sangat
dalam bagi masyarakat Amarasi Barat, tak terkecuali di Desa Soba, khususnya dalam Jemaat
GMIT Elohim Soba. Motif-motif tenunan dibuat berdasarkan suatu peristiwa penting dan
diberi nama sesuai dengan bentuk serta ciri khas dari motif tenunan tersebut. Setiap motif
yang ditampilkan bercerita tentang keyakinan konsep makna dan nilai-nilai religius-sosial
yang dianut oleh masyarakat pemilik motif tersebut. Tenun ikat yang dibuat dengan
menampilkan motif tertentu memiliki arti tersendiri bagi para penenun, sehingga para
penenun di Jemaat GMIT Elohim Soba biasanya membuat motif-motif tenunan dengan motif
yang beragam dan sangat indah. Salah satu motif yang ditenun adalah motif Kaimanfafa.
Lalu apa arti dari motif Kaimanfafa? Motif Kaimanfafa dulunya dikhususkan untuk
digunakan oleh Raja, yang menunjukkan kedudukan dan status sosialnya yang tinggi dalam
masyarakat pada masa itu. Seiring berjalannya waktu, hal ini berubah, tidak ada batasan
untuk penggunaan motif tenun ikat tertentu dalam menentukan strata sosial dalam
masyarakat. Di masa kini penggunaan tenunan dengan berbagai motif, bebas digunakan oleh
siapa saja, dalam status sosial yang beragam. Biasanya hasil tenunan berupa selimut dan
sarung, digunakan pada acara-acara tertentu. Hal ini berubah karena Raja membutuhkan
kehadiran masyarakatnya untuk saling kerja sama, tanpa memandang kedudukan dan status
sosial. Melalui tulisan ini, penulis berusaha untuk memaparkan berbagai hal seputar motif
tenunan kaimanfafa. Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna dari matif tenunan
kaimanfafa dengan menggunakan salah satu teori dari Stephen B. Bevans yakni model
antropologis dengan menggunakan metodologi pendekatan kualitatif. Motif kaimanfafa
menekankan tentang pentingnya kerja sama dalam masyarakat dan gereja, sebab manusia
saling membutuhkan satu sama lain. Oleh sebab itu, sikap saling kerja sama tanpa
memandang status sosial, sangat diperlukan agar tercipta kerukunan dalam kehidupan
bermasyarakat, bahkan bergereja.
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Ruang lingkup dan definisi ilmu politik, sejarah dan perkembangan ilmu politik, hubungan ilmu politik dengan ilmu sosial, konsep politik, 5konstitusi dan dinamika undang-undang dasar negara republik indonesia, hak asasi manusia, komunikasi politik, partai politik. Teori-teori politik, sistem politik indonesia, badan eksekutif, legislatif, dan yudikatif dan politik hukum
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Dengan kemajuan perkembangan teknologi komputer pada masa sekarang, membuat teknologi informasi sangat maju pesat, adapun Seiring perkembangan zaman, komputer mengalami evolusi begitu pesat, dalam usaha penerapan komputer serta perkembangan teknologi, informasi dan telekomunikasi. Cakupan pembahasan buku ini adalah : Bab 1 Perkembangan Teknologi Komputer Bab 2 Hardware/Perangkat Keras Bab 3 Sistem Perangkat Lunak Bab 4 Sistem Operasi Komputer Bab 5 Sistem Jaringan Komputer Bab 6 Intranet dan Internet Bab 7 Komunikasi Data dan Telekomunikasi Bab 8 Manajemen Basis Data Bab 9 Bahasa Pemrograman Bab 10 Big Data dan Cloud Computing Bab 11 Keamanan Sistem Komputer Bab 12 Etika Teknologi Informasi Bab 13 Efek Sosial Teknologi Informasi
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Konsep kepemimpinan selalu berkembang dari waktu ke waktu. Seiring dengan berbagai tantangan global dewasa ini, kepemimpinan harus dinamis dan berorientasi jauh ke depan. Suatu organisasi akan “semakin tak berdaya” jika kepemimpinan yang diterapkan tidak adaptif. Era industry 4.0 semua pemimpin harus berpikir besar dan melakukan langkah besar, namun etika kepemimpinan tetap menjadi jiwa dalam praktik kepemimpinan apalagi dalam kepemimpinan pendidikan, tentu merupakan keniscayaan. Buku ”Manajemen Kepemimpinan Pendidikan Kontemporer” ini merupakan buku bunga rampai yang berisi 13 artikel. Buku ini sengaja disusun dengan mengundang para akademisi lintas perguruan tinggi, lintas budaya dan agama untuk mendapatkan perspektif yang beragam terkait bagaimana menjadi pemimpin ideal di era sekarang ini. Artikel pertama dalam buku ini mengupas "Konsep Dasar Manajemen Kepemimpinan." Artikel yang ditulis oleh Suhardi tersebut menjadi pijakan konseptual dalam buku ini. Penulis menghadirkan berbagai pendapat terkait dengan manajemen dan kepemimpinan dengan cukup mendalam. Artikel kedua "Kepemimpinan dalam Perspektif Agama Islam." Artikel yang ditulis oleh Muhammad Imanuddin . Penulis memberikan pemahaman bagaimana konsep kepemimpinan dalam Islam, mulai dari istilah konseptual ulil amri, imamah, khalifah, dengan merujuk pada sumber data otoritas umat Islam yaitu, Al-Qur'an. Penulis juga memberikan pemahaman asas apa saja yang harus dipegang dalam kepemimpinan Islam. Adapaun artikel ketiga berjudul "Kepemimpinan dalam Perspektif Agama Buddha." Artikel ini ditulis oleh Kunarso. Penulis menjelaskan bahwa dalam beberapa literatur Buddhis padanan kata pemimpin adalah raja. Seorang raja/pemimpin hendaknya memerintah dengan penuh kejujuran, keadilan, serta mengembangkan dasa raja dhamma. Dalam menulis wawasan perspektif agama Buddha, penulis juga menggunakan sumber-sumber otoritatif, sehingga ini dapat memberikan wawasan bagi pemeluk agama lain. Selanjutnya artikel keempat "Konsep Kepemimpinan Pendidikan Ideal." Artikel yang ditulis oleh Rofiq Hidayat. Penulis menguraikan konsep-konsep kepemimpinan ideal dan pemahaman pendidikan di era 5.0. Bagi seorang pemimpin pemahaman konseptual adalah yang tidak bisa ditinggalkan agar dapat mengambil keputusan, menentukan kebijakan. Artikel kelima berjudul "Kepemimpinan Berbasis Pendidikan Nilai dan Karakter." Artikel tersebut ditulis oleh Sulaiman. Dalam artikelnya penulis menawarkan praktik berkesadaran penuh (mindful leadership). Praktiksadar penuh menuntun seorang pemimpin memiliki nilai dan karakter yang kuat dalam konteks kepemimpinan. Praktik dasar yang dibawa dari dunia timur ke dunia modern ini diklaim mampu membentuk nilai dan karakter kepemimpinan yang stabil secara emosional. Kemudian artikel keenam yang berjudul "Kepemimpinan Pendidikan Transformasional." Artikel yang ditulis oleh Yohanes Umbu Lede. Penulis mengungkapkan beberapa perkembangan gaya kepemimpinan kepala sekolah. Menurut penulis gaya kepemimpinan seorang kepala lembaga pendidikan tentu sangat bervariasi tergantung pada setiap individu dan organisasi yang dipimpinnya.