YUNITA ANA KODA
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini mengkaji ritual Mate Penne Langit sebagai praktik adat kematian tidak wajar dalam budaya masyarakat Loli dan implikasinya bagi pemahaman iman jemaat Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Sobawawi. Pokok persoalan penelitian ini adalah adanya pergumulan iman dan dualisme pemahaman jemaat, di mana ritual adat masih dijalankan dan dipercaya sebagai sarana keselamatan, meskipun jemaat telah beriman kepada Kristus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks budaya dan kehidupan jemaat, menganalisis pemahaman jemaat terhadap ritual Mate Penne Langit, serta merefleksikannya secara teologis kontekstual guna merumuskan implikasinya bagi kehidupan bergereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, serta dianalisis menggunakan pendekatan teologi kontekstual dengan tipologi Kristus melawan budaya menurut H. Richard Niebuhr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Mate Penne Langit masih dipahami sebagai sarana perlindungan dan keselamatan, namun melalui refleksi teologi kontekstual, ritual ini dapat ditransformasi dengan mempertahankan nilai-nilai budaya yang positif dan mengarahkan pemahaman keselamatan sepenuhnya kepada Kristus sebagai sumber keselamatan sejati.
DOMINGGUS BOLE LAWE
2026 · Thesis · Open Access
Skripsi ini berjudul: Sumpah Adat dengan sub Judul: Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemahaman Jemaat dan Implikasinya bagi Pelayanan Gereja di Jemaat GMIT Betel Gelanalalu, Klasis Sabu Barat-Raijua yang ditulis oleh Dominggus Bole Lawe, mengarahkan perhatian pada praktik sumpah adat di Hawu Mehara serta bagaimana pemahaman jamaat GMIT Betel Gelanalalu sebagai salah satu basis berteologi dan pelayanan gereja. Penelitian ini bertujuan mendefinisikan, menganalisis dari perspektif teologis, serta memfokuskan pada pemahaman jemaat tentang sumpah adat dan bagaimana pengaruh sumpah adat, yang berdampak pada relasi manusia dalam komunitas masyarakat Hawu Mehara. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologis dari Lesslie Newbigin untuk menganalisis bagaimana praktik sumpah adat mempengaruhi kehidupan dan berdampak negatif terhadap konsep kebersamaan dalam struktur masyarakat, khususnya Jemaat GMIT Betel Gelanalalu. Hasil penilitian membuktikan bahwa sumpah adat memiliki dampak teologis: terjadi krisis iman dan relasi dengan Allah, dampak psikologis: hidup dalam ketakutan dan kecemasan, dampak sosial: ketegangan dan putusnya relasi, dampak keluarga: retaknya ikatan kekeluargaan dan trauma lintas generasi, dampak eklesiologi: melemahnya persekutuan gereja. Berdasarkan beberapa dampak dari sumpah adat ini, perlu memberikan pemahaman baru, serta penegasan bagi anggota jemaat agar tetap dalam iman yang benar kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya otoritas yang berkuasa, bukan terjebak di bawah kuasa kutuk dan ikatan sumpah adat. Alasannya adalah kuasa kutuk, kecemaran segenap umat manusia, termasuk praktik-praktik dalam kebudayaan mana pun Kristus sudah merengkuh, memurnikan lewat pengorbanan-Nya. Dengan demikian, transfomasi secara pemikiran, dan netralisasikan pemahaman yang keliru dalam masyarakat adat perlu diberikan seturut iman Kristen.
CWIEVA BERDTSYEMA DEFANA TINYTA JESVAIGLAN LAZCHESTER FANGIDAE
2026 · Thesis · Open Access
Kehidupan bergereja di konteks perkotaan kerap dipahami secara sempit sebagai aktivitas yang berpusat pada gedung gereja, liturgi, dan struktur kelembagaan. Cara pandang ini sering kali menutupi realitas sosial yang lebih dalam, khususnya pengalaman kemiskinan struktural yang dialami sebagian anggota jemaat. Penelitian ini berangkat dari persoalan tersebut dengan memfokuskan kajian pada konsep Gereja Diaspora yang dikemukakan oleh Y. B. Mangunwijaya dan implikasinya bagi kehidupan Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua sebagai gereja perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk merefleksikan secara teologis realitas kemiskinan struktural dalam kehidupan jemaat serta menelaah bagaimana pemikiran Gereja Diaspora dapat menjadi kerangka teologis bagi pembaruan pelayanan gereja. Penelitian ini juga bertujuan menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk hadir bukan semata sebagai organisasi religius, melainkan sebagai organisme iman yang hidup, bertumbuh, dan berpihak pada kehidupan umat yang rentan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis dan refleksi teologis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya Y. B. Mangunwijaya, kajian Alkitab, serta analisis kontekstual berdasarkan data sosial dan pekerjaan Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan kritis atas realitas jemaat sebagai “tanda-tanda zaman” yang menantang gereja untuk merefleksikan kembali identitas dan panggilannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan yang dialami sebagian jemaat GMIT Kaisarea merupakan bentuk kemiskinan struktural yang tidak dapat direduksi sebagai persoalan individual. Dalam terang pemikiran Mangunwijaya, kemiskinan tersebut menjadi locus teologis yang menguji kesetiaan iman dan kesaksian gereja. Konsep Gereja Diaspora menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk bergerak dari pemusatan pada gedung menuju kehadiran nyata dalam kehidupan umat. Dengan demikian, GMIT Kaisarea dipahami sebagai “Kebun Anggur Tuhan yang Berbunga,” yakni komunitas iman yang merawat keberagaman, memperjuangkan martabat manusia, dan menghadirkan Injil sebagai daya yang membebaskan di tengah realitas perkotaan yang timpang.
ERNIWATI MANDALA
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Tradisi Molebingga adalah warisan kebudayaan masyarakat Rote Dengka yang mempunyai makna mengenai kehidupan sosial. Tradisi Molebingga dipahami sebagai ritual mendinginkan keadaan pasca kematian, yang sering kali membuat jemaat ada dalam kondisi ketegangan identitas yaitu antara patuh terhadap adat dan iman Kristen. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana praktik Molebingga yang terkandung nilai-nilai dan makna dapat dialogkan secara kritis dengan teks Alkitab. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai dan makna dari praktik Molebingga sehingga tidak menimbulkan dualisme iman, tetapi sebuah teologi yang kontekstual bagi jemaat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini memakai analisis yang mendalam sebab lebih mengutamakan situasi yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, pendekatan teologi yang digunakan adalah model dialektis yang dikembangkan oleh Emanuel Gerrit Singgih. Informasi yang didapatkan melalui observasi, studi literatur, dan wawancara dengan tokoh adat dan pemimpin jemaat di GMIT Getsemani Longgo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Molebingga terkandung nilai-nilai dikorelasikan kritis maka ada nilai positif dan nilai negatif. Terdapat nilai luhur dari tradisi Molebingga yaitu upaya memanusiakan manusia dan psikologis melalui simbolisme (mendinginkan). Oleh karena itu, melalui proses dialektika, ditemukan bahwa praktik Molebingga memberikan pemahaman jemaat tentang rasa syukur kepada Tuhan sebagai kesejukan di tengah duka dan perlindungan serta perdamaian hanya dari-Nya. Lalu, teks Alkitab sangat berperan penting dalam memberikan kritik profetis untuk mentransformasikan pemaknaan ritual yang awalnya bersifat legalistik dan penuh ketakutan akan kematian menjadi sebuah perayaan kasih Allah. Penelitian ini, dengan refleksi teologis kritis maka menyimpulkan bahwa tradisi Molebingga di lakukan pemaknaan kembali dalam budaya sebagai peneguhan iman dan solidaritas berupa diakonia penghiburan di Jemaat GMIT Getsemani Longgo, di mana Allah bekerja melalui struktur kekeluargaan suku Rote (Dengka) yaitu To’o yang menyatakan kasih dan keadilan bagi keluarga duka.
DELILA PUTRI LIMA
2026 · Thesis · Open Access
Kehidupan perkotaan ditandai oleh dinamika sosial yang kompleks,
keberagaman latar belakang manusia, serta tekanan ekonomi dan budaya yang
kuat. Realitas ini tidak hanya memengaruhi kehidupan sosial, tetapi juga dapat
membentuk spiritualitas umat beriman yang hidup di dalamnya. Skripsi ini
mengkaji pemikiran spiritualitas kota menurut Philip Sheldrake dan penulis
merefleksikan relevansinya bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara
yang hidup dalam konteks perkotaan di Kota Waingapu. Permasalahan utama
penelitian ini adalah bagaimana kota dapat dipahami sebagai ruang teologis dan
spiritual, serta bagaimana pemikiran Sheldrake dapat menolong gereja
membangun spiritualitas jemaat di tengah tantangan kehidupan kota.Tujuan
penelitian ini adalah untuk memahami pemikiran Philip Sheldrake mengenai
spiritualitas kota, untuk menganalisis kota sebagai ruang relasional dan ruang
publik teologis, serta untuk menemukan relevansi nilai-nilai spiritualitas kota
tersebut bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara yang didominasi oleh
jemaat pendatang dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam. Metode
penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif dengan
pendekatan studi tokoh dan kajian kepustakaan, yang dilengkapi dengan
penelitian lapangan melalui wawancara. Kajian kepustakaan digunakan untuk
menelaah pemikiran Sheldrake, sementara data lapangan digunakan untuk
memahami realitas konkret kehidupan jemaat Manubara dalam konteks perkotaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Philip Sheldrake, kota bukan
sekadar ruang geografis atau material, melainkan ruang relasional yang
membentuk identitas, iman, dan spiritualitas manusia. Kota memiliki potensi
besar sebagai ruang pembentukan komunitas iman yang inklusif, tetapi juga
mengandung risiko individualisme dan keterasingan. Dalam konteks GKS Jemaat
Manubara, tekanan ekonomi, kesibukan kerja, dan perbedaan latar belakang
sering kali melemahkan relasi antarjemaat yang menjadi bentuk dari praktik
spiritualitas. Oleh karena itu, pemikiran Sheldrake relevan untuk menolong gereja
memaknai kota sebagai ruang panggilan iman, tempat spiritualitas jemaat
bertumbuh melalui relasi, solidaritas, dan kesaksian hidup di tengah kehidupan
kota.
INGE PAULIN TEFU
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian mengenai tanggung jawab keluarga dalam kehidupan anak-cucu
berdasarkan tafsir historis kritis terhadap Keluaran 18:1-9 dan relevansinya bagi
kehidupan keluarga di Jemaat GMIT Karmel Fatululi yang ditulis oleh Inge
Paulin Tefu, dilatar belakangi oleh realitas sosial-ekonomi kontemporer di mana
peran pengasuhan anak sering kali beralih dari orang tua kandung kepada keluarga
besar (kakek, nenek, atau kerabat) akibat tuntutan pekerjaan, yang jika tidak
dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan pengabaian emosional maupun
spiritual anak-cucu. Dampak ini tidak saja membawa pengaruh bagi keluarga itu
sendiri melainkan juga bagi tatanan sosial yang lebih luas. Situasi demikian perlu
diatasi sejak dini. Untuk itu, kajian ini bertujuan untuk melihat konteks historis
serta menemukan pesan teologis dari Keluaran 18:1-9, dan mengkaji relevansinya
bagi kehidupan keluarga Kristen khususnya bagi keluarga di Jemaat GMIT
Karmel Fatululi. Metode yang digunakan ialah metode studi pustaka dan
pendekatan tafsir historis kritis. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa
Keluaran 18:1-9 mengandung pesan teologis yang relevan bagi keluarga Kristen
di Jemaat GMIT Karmel Fatululi, melalui relasi keluarga yang dibangun oleh
Musa dan Yitro memeprlihatkan bahwa keluarga memiliki tanggung jawab
penting dalam kehidupan seorang anak-cucu. Pertama, keluarga sebagai ruang
pemulihan bagi anak. Kedua, Keluarga menjadi tempat yang aman bagi anak.
Ketiga, keluarga sebagai lokus pertama pertumbuhan iman anak. Untuk itu, kajian
ini diharapkan dapat mendorong keluarga Kristen di GMIT, khusunya di Jemaat
Karmel Fatululi untuk kembali menyadari tanggung jawab mereka dalam
kehidupan anak, dan kembali membangun kehidupan keluarga yang harmonis,
aman, dan nayaman.
DANI AZMAWED SNAE
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Penelitian ini berangkat dari realitas budaya masyarakat Putun, khususnya jemaat Pos Pelayanan Getsemani Oekani yang memaknai jagung sebagai pemberi kehidupan dan simbol penting dalam keberlangsungan hidup. Pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana dampak dari pemaknaan terhadap filosofi jagung. Ketika jagung diposisikan sebagai penentu keselamatan, maka iman jemaat mengalami pergeseran. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat filosofi jagung melalui pendekatan teologi kontekstual berdasarkan teori dari Richard Niebuhr dengan tipologi (Kristus memperbaharui budaya) dan membuat refleksi teologi kontekstual dari perspektif Alkitab dan iman Kristen, serta merumuskan implikasinya bagi kehidupan iman jemaat dan peran gereja. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan penelitian berjumlah sebelas orang. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa jagung dapat dimaknai sebagai tanda pemeliharaan Allah yang menopang kehidupan jasmani, tetapi bukan sebagai sumber keselamatan. Yesus Kristus sebagai Roti Hidup adalah pusat iman dan sumber kehidupan sejati. Pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib menegaskan bahwa karya keselamatan Allah telah diselesaikan secara sempurna dan final. Sehingga praktik pengorbanan dalam budaya filosofi jagung perlu ditafsirkan kembali secara kritis dan teologis. Pengorbanan budaya pada jagung yang menuntut kurban sebagai syarat ketaatan pada leluhur untuk memperoleh kehidupan atau keselamatan tidak lagi dapat dipahami sebagai keharusan religius yang menentukan relasi manusia dengan Allah untuk memperoleh keselamatan. Sebab, dalam iman Kristen, relasi tersebut telah dipulihkan sepenuhnya melalui pengorbanan Kristus. Oleh karena itu budaya filosofi jagung tidak dihapus, melainkan diperbaharui nilai dan maknanya dalam terang injil sehingga dapat memmbangun iman jemaat yang kontekstual dan berakar pada Kristus.
BULAN DWI AYUNI MESAH
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini membahas tradisi Tutus sebagai salah satu praktik budaya yang masih dijalankan oleh jemaat GMIT Imanuel Oebitina di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi Tutus tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga diyakini memiliki makna religius yang berkaitan dengan harapan akan berkat, perlindungan, dan kesejahteraan hidup. Dalam praktiknya, tradisi ini kerap menimbulkan ketegangan teologis karena berpotensi melahirkan dualisme iman, yaitu pengakuan kepada Kristus sebagai sumber berkat, namun di saat yang sama masih bergantung pada praktik adat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat GMIT Imanuel Oebitina, menganalisis makna dan pelaksanaan tradisi Tutus dalam perspektif teologi kontekstual, serta merumuskan refleksi teologis, pastoral, dan implikasinya bagi pelayanan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologi kontekstual model sintesis Stephen B. Bevans. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, dengan melibatkan anggota jemaat, majelis jemaat, serta tokoh adat. Data dianalisis secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tutus mengandung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, solidaritas sosial, serta penguatan relasi kekeluargaan. Namun, di sisi lain, terdapat kecenderungan pemaknaan religius yang dapat mengaburkan pengakuan iman kepada Allah sebagai satu-satunya sumber berkat. Melalui pendekatan sintesis, Injil dan budaya dipahami sebagai dua realitas yang dapat berdialog secara kritis dan konstruktif. Penelitian ini merekomendasikan agar gereja mengembangkan pendampingan pastoral dan pendidikan iman yang kontekstual, sehingga jemaat mampu memaknai tradisi Tutus secara bijaksana, tetap menghargai budaya lokal, serta setia pada ajaran iman Kristen.
GLEEN YEDIJA DIMA
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna tarian Li N’gae sebagai ekspresi budaya masyarakat suku Helong di Pulau Semau serta merefleksikannya secara teologis dalam kerangka teologi kontekstual. Tarian Li N’gae merupakan tradisi agraris yang lahir dari pengalaman historis masyarakat Helong, khususnya dalam menghadapi keterbatasan hidup, kerja keras, dan ketergantungan pada hasil panen jagung sebagai sumber penghidupan utama. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis, penelitian ini memanfaatkan data hasil observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, pelayan gereja, dan jemaat, serta studi pustaka teologis. Kerangka analisis dalam penelitian ini menggunakan teori teologi lokal dari Robert J. Schreiter, yang menekankan dialog antara Injil, budaya, dan tradisi gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian Li N’gae tidak hanya berfungsi sebagai praktik pengawetan jagung atau hiburan masyarakat, melainkan sebagai teks budaya yang memuat nilai-nilai religius, sosial, dan teologis, seperti syukur atas kehidupan, solidaritas komunal, kerja kolektif, dan relasi harmonis dengan alam. Nilai-nilai tersebut telah membentuk identitas dan kebersamaan masyarakat Helong secara turun-temurun. Dalam konteks kehidupan berjemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot, tarian Li N’gae dipahami sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan sebagai simbol kebersamaan, meskipun kehadirannya masih ditempatkan di luar liturgi resmi gereja. Analisis menunjukkan bahwa terdapat potensi besar bagi Li N’gae untuk dikembangkan sebagai bagian dari teologi lokal yang memperkaya pemahaman persekutuan jemaat, tanpa harus mengubah struktur ibadah gerejawi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tarian Li N’gae dapat menjadi medium teologi lokal yang kontekstual dan transformatif, baik bagi gereja maupun budaya. Dengan pendekatan teologi kontekstual, gereja didorong untuk membaca dan memaknai tradisi budaya sebagai ruang karya Allah, sehingga iman Kristen dapat dihayati secara lebih kontekstual dan relevan dalam kehidupan Masyarakat Helong
SHINTA DANGGA DEWA
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini berangkat dari realitas pelayanan pendampingan iman bagi generasi Alfa di Jemaat GMIT Efata Belo yang menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaan program-program pelayanannya. Program pelayanan berbasis anak dan remaja yang dimaksudkan untuk membentuk iman generasi muda dalam praktiknya belum sepenuhnya menjawab kebutuhan generasi Alfa yang hidup dalam dunia digital dengan kreativitas dan pola relasi yang khas. Tantangan ini semakin diperkuat oleh minimnya pemahaman dari generasi sebelumnya dan pengajar mengenai konteks hidup generasi Alfa, yang turut membentuk karakteristik baru serta mempengaruhi proses perkembangan iman mereka. Situasi ini memunculkan persoalan teologis mengenai sejauh mana pengajar yang bertanggung jawab mendampingi anak-anak generasi Alfa di GMIT Efata Belo bersedia memperbarui diri di tengah pengaruh era digital, serta bagaimana gereja dalam lingkup PART menjalankan peran dan tanggung jawab Amanat Agung bagi generasi yang berbeda dalam konteks zaman yang semakin maju sebagai tubuh Kristus yang saling membangun iman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) dan penelitian lapangan. Metode ini dipilih guna memberi perhatian pada pengalaman hidup serta pemahaman subjek penelitian terhadap realitas pelayanan pendampingan iman generasi Alfa di GMIT Efata Belo. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen gerejawi atau literatur yang relevan. Penulisan penelitian bersifat deskriptif, analisis, dan reflektif dengan memanfaatkan teori perkembangan iman James Fowler sebagai kerangka analisis. Dengan lokus penelitian ini adalah Jemaat GMIT Efata Belo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan dunia digital dalam pendampingan iman anak belum dilakukan secara optimal dan kontekstual, serta masih terdapat keterbatasan sikap keterbukaan dan penerimaan lintas generasi. Oleh karena itu, gereja dalam hal ini para pengajar dipanggil untuk menghadirkan pendampingan iman yang relasional, kolaboratif, dan kontekstual, dengan memandang dunia digital bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai komunitas baru bagi perkembangan iman generasi Alfa
GUSTIN S.B. LANGATA
2026 · Thesis · Open Access
Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas kehidupan anggota Mata
Jemaat Betania Mampui yang menjalankan aktivitas pertanian berdasarkan tahun
tertentu, yakni tahun ganjil dan tahun genap. Kondisi ini dipengaruhi oleh tradisi
yang diwariskan oleh leluhur, yakni tradisi Tarong Gang Tarong Bu (Tahun baik
dan tahun buruk). Tradisi ini mendasari pemahaman jemaat bahwa tahun bernomor
ganjil merupakan tahun tidak baik, sebab tahun ini mempengaruhi peningkatan
hama tikus. Sebaliknya tahun bernomor genap merupakan tahun baik, sehingga
baik untuk melaksanakan aktivitas pertanian. Adapun tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui pemahaman jemaat terhadap tradisi ini, kemudian
mengidentifikasi setiap pemahaman berdasarkan tradisi ini menggunakan model
pendekatan teologi kontekstual. Model kontekstual yang digunakan adalah model
antropologis dan sintesis yang digagas oleh Stephen B. Bevans, selanjutnya
menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Tarong Gang Tarong Bu
serta merumuskan refleksi teologis dan relevansinya bagi anggota Mata Jemaat
Betania Mampui. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif
dengan pendekatan deskriptif-analitis-reflektif. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui wawancara dan observasi. Penelitian ini turut menggunakan
metode kepustakaan yang bersumber dari buku, jurnal, dan artikel-artikel teologis.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman jemaat dalam pengecualian tahun
didasari atas ketakutan akan hama tikus yang meningkat, padahal peningkatan
hama tikus bukan didasari oleh tahun tertentu, melainkan pada faktor pembersihan
lahan yang tidak serentak pada satu lahan, seperti yang dilakukan pada tahun baik
(Tarong Gang). Berdasarkan pendekatan teologi kontekstual antropologi dan
sintesis. Pemahaman jemaat akan ketakutan hama tikus dalam tradisi ini, dapat
didialogkan dengan iman Kristen, yang tidak terlepas dari nilai-nilai yang
terkandung dalam tradisi Tarong Gang Tarong Bu. Berdasarkan pendekatan
tersebut, penelitian ini menemukan transformasi pemahaman. Pengecualian tahun
dalam aktivitas pertanian oleh anggota mata jemaat tidak lagi dilihat sebagai
ketakutan mistis, melainkan bentuk pemeliharaan alam. Selain itu, dengan
menggunakan pendekatan teologi kontekstual, penelitian ini menemukan nilai
nilai dalam tradisi yang mendukung kehidupan jemaat dan pelayanan gereja.
TRI FRESKY SE'U
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini dilaksanakan di Jemaat GMIT Elim Dadibira dan berangkat dari realitas ekonomi jemaat yang ditandai oleh keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal, ketergantungan pada sumber daya alam, serta kerentanan ekonomi kelompok tertentu, khususnya para janda. Dalam konteks tersebut, gereja berupaya mengembangkan pembangunan ekonomi jemaat melalui pemanfaatan Anggur Dadibira sebagai usaha pemberdayaan berbasis potensi lokal. Persoalan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana pembangunan ekonomi jemaat melalui Anggur Dadibira dipahami dan direfleksikan secara teologis sebagai bagian dari panggilan gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik pembangunan ekonomi jemaat di GMIT Elim Dadibira serta merefleksikannya dalam terang teologi pembangunan jemaat dan kesaksian Alkitab. Kerangka teoretis yang digunakan meliputi pemikiran pembangunan jemaat dari van Hooijdonk, Jan Hendriks, dan Rob van Kessel, serta refleksi teologis mengenai iman, keadilan, dan tanggung jawab komunal menurut J. B. Banawiratma dan Vinay Samuel bersama Chris Sudgen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan yang didukung oleh studi kepustakaan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan Anggur Dadibira tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai praksis iman yang menghadirkan solidaritas, partisipasi, dan pemberdayaan jemaat. Secara teologis, pembangunan ekonomi jemaat dipahami sebagai bagian dari panggilan gereja untuk menghadirkan kehidupan yang lebih adil, bermartabat, dan berkelanjutan bagi seluruh anggota jemaat.
ANSI JANE KARELS PELLO
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Penelitian ini mengkaji praktik arisan dalam ibadah Kaum Perempuan di Jemaat GMIT Rehobot Kauan, Klasis Semau, dalam terang pemahaman gereja sebagai komunitas iman menurut pemikiran Robert O’Gorman. Pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian adalah adanya ketegangan antara arisan sebagai sarana membangun kebersamaan dan ibadah sebagai perjumpaan dengan Tuhan, khususnya ketika motivasi sebagian anggota hadir dalam ibadah lebih didorong oleh arisan daripada oleh kerinduan bersekutu dengan Allah. Situasi ini menimbulkan pertanyaan teologis tentang apakah praktik arisan sungguh mendukung pembentukan komunitas iman atau justru berisiko menggeser makna ibadah menjadi kegiatan sosial semata. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan konteks Jemaat GMIT Rehobot Kauan, menganalisis pelaksanaan arisan dalam ibadah Kaum Perempuan, serta merumuskan refleksi teologis dan implikasi pastoral terhadap praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis-reflektif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur dengan narasumber yang terdiri dari unsur majelis, tokoh jemaat, dan kaum perempuan, serta analisis dokumen. Data dianalisis melalui proses reduksi, pengorganisasian, dan penafsiran secara tematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arisan memiliki dampak positif dalam meningkatkan kehadiran, mempererat relasi, dan menumbuhkan rasa kebersamaan di antara Kaum Perempuan. Arisan juga menjadi ruang perjumpaan yang lebih akrab untuk saling berbagi dan saling menopang dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penelitian ini juga menemukan adanya risiko pergeseran motivasi beribadah, ketika arisan menjadi daya tarik utama dan bukan lagi firman Tuhan dan persekutuan itu sendiri. Dalam terang pemikiran Robert O’Gorman, praktik arisan perlu ditempatkan secara seimbang dalam kerangka pelayanan, refleksi, dan persekutuan agar tetap mendukung pembentukan komunitas iman yang utuh. Dengan demikian, arisan dapat dipertahankan sebagai sarana pastoral yang kontekstual tanpa mengaburkan makna ibadah sebagai perjumpaan dengan Allah.
NIMROD TAOPAN
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya persoalan ketegangan peran yang dialami pendeta dalam konteks pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), khususnya di wilayah Klasis Amabi Oefeto Timur. Fokus utama penelitian diarahkan pada analisis satu status pelayanan pendeta yang memuat berbagai tuntutan peran yang harus dijalankan secara bersamaan, antara lain sebagai pelayan rohani, pemimpin organisasi gereja, pendamping pastoral bagi jemaat, figur sosial di tengah masyarakat, serta juga sebagai anggota keluarga. Keragaman dan kompleksitas ekspektasi tersebut, sering kali menimbulkan ketegangan peran yang berdampak pada kondisi fisik, emosional, dan spiritual pendeta. Namun situasi ini cenderung dipandang sebagai kelemahan pribadi, sehingga menutupi akar masalah yang bersifat struktural dan sistemik dalam kehidupan bergereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami latar belakang terjadinya ketegangan peran pendeta dalam konteks GMIT, menganalisis dampaknya terhadap kualitas pelayanan dan kehidupan pendeta, serta merumuskan refleksi sosio-teologis yang dapat membantu gereja menata kembali pemahaman dan praktik pelayanannya agar lebih selaras dengan hakikat gereja sebagai persekutuan tubuh Kristus yang saling menopang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pendeta dan pihak-pihak terkait. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan kajian pustaka terhadap literatur teologis dan sosiologis yang relavan, khusunya teori ketegangan peran (role strain) yang dikemukakan oleh Robert K. Merton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketegangan peran pendeta bukan terutama disebabkan oleh keterbatasan individu, melainkan oleh struktur pelayanan gereja yang menempatkan pendeta sebagai pusat berbagai tuntutan, tingginya ekspektasi jemaat, serta keterbatasan sumber daya dan fasilitas pelayanan. Refleksi sosio-teologis menegaskan pentingnya pengembangan sistem pelayanan yang lebih kolaboratif, partisipatif, dan saling mendukung, sehingga pendeta dapat menjalankan panggilannya secara manusiawi, sehat, dan berkelanjutan.
YAKOBUS DAMMA PADJO
2026 · Thesis · Open Access
Di Pulau Sabu, salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah pehere djara. Tradisi ini kemudian menginspirasi umat Kristen di Sabu untuk mengadopsinya menjadi pehere djara paskah. Tradisi pehere djara paskah memiliki nilai kearifan lokal yang penting dalam memperkuat solidaritas antarsesama. Di Jemaat GMIT Bukit Sion Boko, Klasis Sabu Barat Raijua, tradisi ini memegang peran penting, terutama dalam kehidupan masyarakat adat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Jemaat GMIT Bukit Sion Boko memaknai pehere djara paskah sebagai bentuk penghormatan terhadap kemenangan Yesus Kristus atas maut. Selain itu, peneliti menggali bagaimana jemaat menerapkan tradisi ini dalam kehidupan bergereja melalui liturgi serta bagaimana tradisi tersebut direfleksikan melalui teologi kontekstual, berdasarkan pandangan Stephen B. Bevans. Pendekatan teologis ini digunakan untuk menghubungkan budaya lokal dengan pemahaman Kristen. Dengan demikian, pehere djara paskah tidak hanya dilaksanakan sebagai ritual semata, melainkan sebagai sarana bagi jemaat untuk merasakan dan memaknai kemenangan Kristus atas maut secara mendalam. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif-analitis-reflektif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan tokoh jemaat dan masyarakat adat, serta studi dokumen terkait tradisi dan ibadah Paskah. Teknik analisis data mencakup reduksi data untuk menyaring informasi esensial, triangulasi sumber untuk memastikan keabsahan, serta penarikan kesimpulan yang logis dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pehere djara paskah memberikan kontribusi positif dalam menjaga keharmonisan sosial. Tradisi ini memperkuat hubungan antara iman Kristen, budaya lokal Sabu, dan kehidupan sehari-hari jemaat. Pelaksanaannya menjadi wujud nyata penerapan teologi kontekstual yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dengan ajaran Kristen. Analisis teologis mengungkapkan bahwa ritual pehere djara paskah mencerminkan nilai-nilai Kristen, seperti kebangkitan Kristus, kasih sesama, dan solidaritas komunal. Gereja didorong untuk melihat tradisi ini sebagai jembatan yang memperkuat iman, budaya, pemahaman teologis jemaat, serta tindakan sosial yang berdampak positif. Oleh karena itu, pelestarian tradisi pehere djara paskah di Jemaat GMIT Bukit Sion Boko menjadi upaya krusial dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkaya kehidupan beriman. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan ilmu teologi kontekstual serta sumbangan praktis bagi jemaat GMIT Bukit Sion Boko dalam mengintegrasikan tradisi lokal ke dalam ibadah Kristen yang relevan dan bermakna.
ARNOLD FINA
2026 · Thesis · Open Access
Pelayanan pastoral merupakan wujud konkret kehadiran gereja dalam mendampingi kehidupan iman jemaat secara holistik. Namun, dalam realitas pelayanan di Jemaat GMIT Pniel Oetua Klasis Amanuban Timur, praktik pastoral, khususnya perkunjungan pastoral masih cenderung bersifat pendeta-sentris dan belum melibatkan majelis jemaat secara optimal. Kondisi ini menimbulkan keterbatasan jangkauan pelayanan, lemahnya partisipasi jemaat, serta ketergantungan yang tinggi terhadap figur pendeta. Berdasarkan realitas tersebut, pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana gambaran konteks Jemaat GMIT Pniel Oetua, bagaimana realita model perkunjungan pastoral yang dijalankan, serta bagaimana tinjauan teologi pastoral dapat berimplikasi terhadap pengembangan model perkunjungan pastoral yang partisipatif. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan konteks kehidupan jemaat, menganalisis praktik perkunjungan pastoral yang berlangsung, serta merumuskan pemahaman teologi pastoral yang dapat menjadi dasar bagi pengembangan model perkunjungan pastoral yang melibatkan seluruh unsur pelayan jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap pendeta, penatua, diaken, dan pengajar jemaat, kemudian dianalisis secara deskriptif, analitis, dan reflektif dengan menggunakan perspektif teologi pastoral, khususnya pemikiran Eugene Peterson. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa pelayanan pastoral di Jemaat GMIT Pniel Oetua masih dipahami sebagai tanggung jawab individual pendeta, sehingga peran majelis jemaat belum berfungsi secara maksimal. Melalui tinjauan teologi pastoral, penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan pastoral sejatinya merupakan tanggung jawab kolektif seluruh tubuh Kristus. Oleh karena itu, perkunjungan pastoral perlu dimaknai sebagai ruang persekutuan, pendampingan, dan penggembalaan bersama yang partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan. Model pastoral yang partisipatif ini diharapkan mampu memperkuat pemeliharaan iman jemaat serta menghadirkan gereja sebagai komunitas yang saling menggembalakan.
JYBRAMARSELYNUS A. BAOK
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini berangkat dari realitas kehidupan jemaat GMIT Pniel Sikumana yang menghadapi tantangan dalam membangun persekutuan antargenerasi. Pembagian pelayanan ke dalam Unit Pembantu Pelayanan (UPP) dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan kategorial jemaat, namun dalam praktiknya kerap memunculkan jarak relasional, minimnya interaksi lintas generasi, serta kecenderungan pelayanan yang berjalan secara terpisah. Kondisi ini menimbulkan persoalan teologis mengenai sejauh mana gereja sungguh menghidupi koinonia sebagai persekutuan yang mencerminkan identitas gereja sebagai keluarga Allah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami pengalaman dan pemaknaan warga jemaat GMIT Pniel Sikumana terhadap kehidupan persekutuan antargenerasi, serta merefleksikannya dalam terang teologi gereja sebagai rumah iman (homemaking) guna merumuskan implikasi teologis bagi kehidupan bergereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Metode ini dipilih untuk menaruh perhatian pada pengalaman hidup dan pemaknaan subjek penelitian terhadap realitas persekutuan jemaat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatoris, wawancara mendalam (in-depth interview), dan studi dokumen terhadap dokumen gereja serta literatur yang relevan. Lokus penelitian adalah Jemaat GMIT Pniel Sikumana, Klasis Kota Kupang Barat. Informan berjumlah delapan orang yang dipilih melalui purposive sampling, terdiri dari pendeta, unsur kategorial jemaat, pengajar PART, dan lansia. Metode penulisan yang digunakan bersifat deskriptif, analitis, dan reflektif, dengan memanfaatkan kerangka teologis homemaking dari Elizabeth Caldwell sebagai alat analisis. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa kehidupan persekutuan jemaat masih menghadapi tantangan relasional antargenerasi, namun sekaligus menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. Pendekatan homemaking menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi rumah bersama yang aman, inklusif, dan relasional, di mana setiap generasi hadir sebagai subjek yang saling membangun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa homemaking merupakan pendekatan teologis yang relevan untuk memperkuat koinonia dan memperkaya praksis kehidupan bergereja di GMIT Pniel Sikumana.
SEFNAT NOEL
2026 · Thesis · Open Access
Tulisan berjudul “Pertanian Berpindah” oleh Sefnat Noel membahas praktik pertanian berpindah yang hingga kini masih dijalankan oleh Jemaat GMIT Imanuel Manubelon. Kajian ini bertolak dari realitas kehidupan jemaat yang menggantungkan pemenuhan kebutuhan hidup terutama pada sektor pertanian. Pertanian berpindah tidak semata-mata dipahami sebagai kegiatan ekonomi, melainkan juga sebagai praktik sosial, kultural, dan religius yang telah mengakar dalam kehidupan jemaat secara turun-temurun. Oleh sebab itu, praktik ini tidak dapat dilepaskan dari konteks historis, geografis, dan sosial masyarakat setempat. Fokus kajian diarahkan pada dinamika pertanian berpindah yang mengandung ketegangan antara manfaat dan dampaknya. Di satu pihak, praktik ini berkontribusi positif terhadap keberlangsungan ekonomi jemaat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan keluarga. Dalam kondisi terbatasnya lapangan kerja dan akses ekonomi, pertanian berpindah dipandang sebagai pilihan yang paling memungkinkan untuk menopang kehidupan sehari-hari. Selain itu, praktik ini juga memperkuat ikatan sosial karena pelaksanaannya kerap melibatkan kerja kolektif yang mempererat relasi antaranggota jemaat. Namun, di pihak lain, pertanian berpindah membawa konsekuensi ekologis yang cukup serius. Aktivitas penebangan hutan dan pembakaran lahan menyebabkan berkurangnya tutupan vegetasi, menurunnya kemampuan tanah menyerap air, serta menyusutnya sumber mata air. Dampak tersebut meningkatkan potensi banjir, mempercepat degradasi tanah, dan mengancam keberlangsungan berbagai jenis flora dan fauna, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kondisi jemaat sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan praktik pertanian berpindah. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara dan observasi langsung, penelitian ini menemukan bahwa praktik tersebut dipertahankan karena faktor ekonomi, pemahaman iman tentang mandat pengelolaan alam, kebebasan dalam mengolah tanah, serta pandangan bahwa tanah harus dimanfaatkan demi kelangsungan hidup. Berdasarkan temuan tersebut, penulis menegaskan pentingnya pengelolaan alam yang bertanggung jawab dan relasi yang harmonis antara manusia dan alam sebagai wujud ketaatan kepada Allah, sekaligus sebagai kontribusi bagi refleksi ekoteologi kontekstual.
MARIA YUNITA AEK
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini berjudul Pengaruh Stres Kerja dan Beban Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Aneka Niaga Kota Kupang. Rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah apakah stres kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT. Aneka Niaga Kota Kupang dan apakah beban kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT. Aneka Niaga Kota Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres kerja terhadap kinerja karyawan PT. Aneka Niaga Kota Kupang serta untuk mengetahui pengaruh beban kerja terhadap kinerja karyawan PT. Aneka Niaga Kota Kupang. Penentuan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT. Aneka Niaga Kota Kupang yang berjumlah 55 orang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 55 orang (sampel jenuh). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang disebarkan secara langsung kepada responden. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan meliputi analisis regresi linear berganda, uji parsial (uji t), uji simultan (uji F), dan koefisien determinasi (R²). Berdasarkan nilai indeks jawaban responden variabel stres kerja, nilai indeks setiap indikator berkisar antara 75,815 sampai dengan 87,089. Dengan demikian jumlah dari seluruh indeks yaitu 752,161 dan nilai rata-rata indeks sebesar 83,573 yang berada pada kategori tinggi. Berdasarkan nilai indeks jawaban responden variabel beban kerja, nilai indeks setiap indikator berkisar antara 70,541 sampai dengan 85,271. Dengan demikian jumlah dari seluruh indeks yaitu 614,151 dan nilai rata-rata indeks sebesar 76,768 yang berada pada kategori tinggi. Berdasarkan nilai indeks jawaban responden variabel kinerja karyawan, nilai indeks setiap indikator berkisar antara 59,086 sampai dengan 77,088. Dengan demikian jumlah dari seluruh indeks yaitu 623,050 dan nilai rata-rata indeks sebesar 69,227 yang berada pada kategori sedang. Berdasarkan hasil persamaan regresi linear berganda Y = −34,354 + 1,028X₁ + 0,305X₂, diketahui konstanta regresi sebesar −34,354, koefisien regresi b₁ = 1,028 dan koefisien regresi b₂ = 0,305. Nilai konstanta sebesar −34,354 artinya jika stres kerja (X₁) dan beban kerja (X₂) bernilai nol, maka kinerja karyawan (Y) memiliki nilai sebesar −34,354 satuan. Koefisien regresi stres kerja (b₁) sebesar 1,028 artinya jika stres kerja (X₁) mengalami kenaikan sebesar satu satuan, maka kinerja karyawan (Y) akan meningkat sebesar 1,028 satuan. Koefisien regresi bernilai positif yang berarti terdapat pengaruh positif stres kerja (X₁) terhadap kinerja karyawan (Y). Koefisien regresi beban kerja (b₂) sebesar 0,305 artinya jika beban kerja (X₂) mengalami kenaikan sebesar satu satuan, maka kinerja karyawan (Y) akan meningkat sebesar 0,305 satuan, namun pengaruh tersebut tidak signifikan secara statistik. Implementasi terapan: Berdasarkan hasil penelitian, yang menunjukan bahwa stress kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan di PT. Aneka Niaga Kota Kupang, pimpinan PT. Aneka Niaga Kota Kupang, diharapkan dapat memperhatikan dan mengelola Tingkat stress kerja karyawan dengan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, komunikasi yang baik antara atasan dan karyawan, serta pemberian dukungan kerja yang memadai, agar tidak berdampak negatif terhadap kinerja karyawan. Selanjutnya meskipun beban kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan, pimpinan PT. Aneka Niaga Kota Kupang tetap diharapkan dapat memperhatikan pengelolaan beban kerja dengan memberikan arahan yang jelas, target kerja yang realistis, serta waktu penyelesaian pekerjaan yang cukup sehingga karyawan dapat bekerja lebih efektif dan kondisi kerja karyawan tetap terjaga dengan baik. Selain itu masih terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan namun belum dibahas dalam penelitian ini. Oleh karena itu, peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperdalam kajian mengenai stress kerja dan beban kerja dengan menggunakan metode penelitian yang berbeda, memperluas objek penelitian, serta menambah jumlah dan karakteristik responden yang lebih beragam agar diperoleh hasil penelitian yang lebih komprehensif.
WIDYAWATI BAITANU
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini berangkat dari realitas terbatasnya pemahaman jemaat GMIT Zoar Penkase tentang marturia, yang berdampak pada implementasi pelayanan bidang marturia yang belum optimal dan cenderung dipersempit dalam bentuk program marturia secara tertulis. Meskipun dalam pengamatan empiris Zoar telah melaksanakan berbagai aktivitas yang menunjukkan bahwa pelayanan marturia sudah dijalankan, tetapi dari pelayanan tersebut juga cenderung dipahami secara terbatas karena masih pada batasan-batasan tertentu. Situasi ini menjadi titik munculnya kesenjangan antara konsep teologis marturia dan praktik pelayanan di jemaat. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri pemahaman mengenai marturia, menganalisis dialog antara konsep teologis dan praktik pelayanan di jemaat, yang merefleksikan secara teologis serta implikasi praktis bagi pelayanan marturia yang lebih kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, observasi partisipatif, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan pemahaman jemaat tentang marturia berdampak pada implementasi dari pelayanan marturia di gereja yang masih sempit. Dengan menggunakan beberapa kerangka teologi marturia salah satunya Moltmann menghasilkan tiga unsur konstruksi pemahaman yang profetis, kritis, dan transformasional dan GMIT Zoar masih terbatas menjalankan marturia yang terbatas pada dimensi profetis. Dalam penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan marturia tidak hanya terbatas pada perkataan, tetapi juga dalam tindakan nyata yang menyatakan keberpihakan kepada keadilan, solidaritas dengan yang tertindas, serta keterlibatan aktif gereja untuk menampilkan marturia yang profetis, kritis, dan transformasional. Rekonstruksi pemahaman menegaskan marturia merupakan tugas panggilan gereja yang integral dan harus dihidupi dengan kasih, solidaritas dalam konteks pelayanan marturia. Refleksi teologis yang sintesis dari perspektif perjanjian lama dan perjanjian baru menyatakan bahwa marturia tidak pernah netral, melainkan berakar pada kebenaran Allah, berhadapan dengan realitas ketidakadilan, dan mengarah pada pemulihan dan transformasi hidup bersama. Dengan demikian, implikasi bagi pelayanan di Zoar penkase, terletak pada bagaimana kehadiran gereja di dunia menjadi gereja yang bersaksi tidak hanya secara profetis, tetapi kritis dan transformasional.