PAULINA OKTAVINA KALE
2022 · Thesis · Open Access
A B S T R A K Panggilan Tuhan terjadi dalam kehidupan masa kini. Panggilan secara umum adalah untuk semua orang percaya agar selalu dekat dengan Tuhan. Panggilan khusus ini terjadi dalam kehidupan para pejabat gereja. Secara umum dalam zaman reformasi panggilan selalu dikaitkan dengan pekerjaan yang digeluti oleh setiap orang. Panggilan pelayanan Firman Tuhan yang ada dalam diri pelayan-pelayan masa kini seperti Pendeta, Penatua, Diaken dan Pengajar yang ada dalam GMIT, harus dilaksanakan dengan baik. Panggilan tersebut harus dijawab, agar menunjukkan keaktifan dari orang yang dipanggil. Tuhan memanggil manusia, tidak hanya untuk hidup yang enak, Dia memanggil orang untuk melayani dengan selalu memikul salib seperti yang Ia telah lakukan. Banyak tantangan yang akan dihadapi oleh setiap orang yang dipanggil, tetapi yang dituntut adalah bagaimana sikap orang yang dipanggil terhadap tantangan tersebut. Semua tantangan yang dihadapi akan dilalui dengan baik, jika hanya berharap pada Tuhan. Dalam Akitab tertulis tentang bagaimana orang yang terpanggil berperan dan memimpin umatnya dengan berbagai cara, gaya serta metode. Sehingga dalam surat Titus diberitahukan bahwa persyaratan yang diberikan oleh Paulus kepada Titus sebagai seorang pemimpin jemaat di Kreta. Ada beberapa jabatan yang bertugas didalam gereja. Salah satunya adalah penatua. Penatua merupakan dasar yang dipakai oleh gereja. Penatua terpilih bukan atas pilihan jemaat saja tetapi juga penentuan Allah untuk menggenapai pekerjaan Tuhan yang belum teratasi dengan baik. Mereka dipilih dengan persyaratan-persyaratan yang ditentukan seperti yang terdapat dalam Titus 1:5-9. Mereka bertatap muka dan berhubungan langsung dengan jemaat yang dipercayakan kepadanya. Di mata Tuhan dan jemaat, penatua memiliki wewenang untuk memimpin dan mengajar, melayani Firman, menggembalakan dan memerintah. Penatua memikul tanggung jawab ini dan bertanggung jawab untuk memperlengkapi jemaat untuk pelayanan-pelayanan yang ada. Jabatan ini diberikan untuk mereka yang pantas mendapatkannya dan memenuhi persyaratan, disertai dengan kesadaran dan doa. Sebagai pemimpin, penatua juga menjadi gembala harus berwawasan luas, berdedikasi, sabar, rendah hati, penuh kasih dan mencintai Tuhan.Ketika seorang penatua menjalankan tugas pelayanannya, ia juga harus mengurus keluarga, karena ia juga dapat menjadi pemimpin keluarga, dan ia mencintai istri dan anak-anaknya. Di sisi lain, penatua juga diharapkan menjadi panutan bagi masyarakat, berkah bagi lingkungan sekitar, dan garam dan terang dunia. Menjadi panutan bagi lingkungan memang tidak mudah, namun penatua harus berani tampil, apapun resikonya. Kata kunci : Penatua, Pemimpin, Panggilan
ELISABET GRASIA MONE
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Skripsi ini berjudul: Tangi Pali, dan sub judul: Suatu Tinjauan TeologI Kontekstual terhadap makna Tangi Pali saat kematian Orang Sabu dan implikasinya bagi Jemaat GMIT Betel Gelanalalu, Klasis Sabu Barat-Raijua.Praktik Tangi Pali oleh Orang Kristen Sabu di Jemaat GMIT Betel Gelanalalu dan makna yang terkandung dalam tuturan Tangi Pali merupakan alasan penulisan skripsi ini. Kebudayaan telah menjadi bagian hidup manusia sejak lama. Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil karya yang dijadikan milik dari mansuia dengan belajar. Kebudayaan juga diidentifikasikan sebagai suatu yang mengintegrasikan kepercayaan, nilai, kebiasaan, dan sebagainya. Berdasarkan pernyataan tersebut maka Orang Kristen Sabu tentunya tidak bisa terlepas dari kebudayaan mereka. Salah satu praktik kebudayaan yang lazimnya terjadi saat kematian Orang Sabu adalah Tangi Pali. Tangi Pali merupakan sebuah tradisi meuutur sambil meratap yang dilakukan dalam peristiwa dukacita karena kematian.Tangi Pali mengandung makna yang terdapat dalam setiapkalimat tuturannya dengan gambaran keyakinan Orang Sabu terhadap keberadaan mansuia setelah kematian dan sebagainya. Untuk hal ini, model pendekatan kontekstual yaitu antropologis digunakan untuk meninjau praktik Tangi Pali. Model ini menekankan nilai budaya dan revansinya bagi iman Kristen. Praktik Tangi Pali masih dilakukan hingga sekarang oleh Kristen Sabu, khususnya di Gelanalalu oleh karena beberapa faktor. Lingkungan keberadaan jemaat tersebut selalu berdampungan dengan orang-orang yang beragama suku. Artinya dalam segala tatanan hidup dan kebersamaan, mereka selalu berdampingan. Adapun, jemaat setempat adalah orang-orang yang awalnya menganut agamma suku Jingitiukemudian menjadi Kristen. Faktor budaya juga turut memperngaruhi hal ini. Dalam kajian ini terdapat nilai-nilai yang muncul, takni nilai mistis, nilai hormat kepada leluhur, ruang untuk mengolah duka, kepercayaan atau keyakinan dan nilai soledaritas. Adapun dua tema dominan dalam praktik ini, yaitu relasi antara yang hidup dan yang mati serta tema keberlanjutan hidup setelah kematian. Model antropolgis, menekankan nilai-nilai dan jati diri budaya oleh seseorang yang beriman Kristen. Tetapi model ini tidak serta merta mengabaikan kitab suci dan tradisi Kristen. Nilai-nilai budaya tentang kematian dapat ditinjau dalam refleksi teologis. Kematian dan keberadaan manusia setelah kematian merupakan daulat Allah sepenuhnya. Penghakiman ataupun pengampunan setelah kematian tidak dapat dilakukan oleh leluhur karena tentang hal ini adalah daulat Allah yang telah yang telah mengalahkan maut lewat kematian Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah kebangkitan dan hidup. Orang yang mati di dalam Dia tidak akan binasa (Yohanes 11:25-26). Kata kunci:Tangi Pali, kematuian, kehidupan, kedaulatan Allah.
DEFLIN YULIA ARISANDI MANANEL
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Pada Tahun 1957 Jemaat Ebenhaezer Pukdale berdiri sendiri dan pisah dari Jemaat Imanuel Oesao. Pada waktu itu juga banyak orang yang memberi diri untuk di Baptis. Semua anggota Jemaat dan tara tokoh jemaat mulai membangun sebuah gedung yang layak dipakai untuk beribadah. Namun, ketika Kekristenan sudah masuk dan berkembang di Jemaat Ebenhaezer Pukdale, Jemaat masih melakukan tradisi atau ritus-ritus yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka. Salah satu tradisi atau ritus yang masih Jemaat lakukan ialah tradisi Mampe’e Nok. Tradisi atau ritus Mampe’e Nok ialah mencuci kepala atau rambut menggunakan kelapa. Tradisi atau ritus ini biasanya dilakukan pada saat ada kematian dan waktu pelaksanaannya satu hari sesudah pemakaman. Maksud dari tradisi atau ritus Mampe’e Nok ialah membantu keluarga yang berduka untuk melunasi hutang-hutang pada saat kedukaan. Tradisi atau ritus Mampe’e Nok ini masih dilakukan karena menurut Jemaat Ebenhaezer Pukdale, tradisi atau ritus ini dapat mempersatukan Jemaat, mengasihi dan menolong sesama yang berduka. Fakta yang penulis temukan di lokasi penelitian ialah Jemaat masih mempraktekkan tradisi atau ritus Mampe’e Nok, walaupun semua yang berada di sana beragama Kristen. Berkaitan dengan masalah yang di atas, maka tujuan skripsi ini untuk mengetahui perjumpaan antara kekristenan dan tradisi Mampe’e Nok. Apakah kekristenan memberi ruang kepada tradisi atau tradisi yang memberi ruang kepada kekristenan. Tujuan ini dapat dicapai melalui penelitian lapangan dalam metode penelitian kualitatif untuk mendapatkan data yang akurat, mengandung kebenaran tentang perjumpaan kekristenan dan tradisi Mampe’e Nok. Fakta yang penulis temukan dalam penelitian ialah kekristenan atau gereja sendiri yang memberi ruang kepada tradisi Mampe’e Nok, alasannya karena tradisi ini dapat mempererat persekutuan Jemaat, hidup saling mengasihi, dan saling tolong menolong atau membantu sesama yang kesusahan atau berduka, sehingga tradisi ini masih dilakukan sampai dengan saat ini. Melihat masalah-masalah yang disampaikan, penulis akan meninjau dari sudut pandang Historis Teologis. Penulis meninjau masalah ini dari pandangan Historis Teologis karena dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk masa depan, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah yang dapat dijadikan pelajaran untuk mengambil keputusan di masa depan dan juga untuk memahami dunia dan perilaku masyarakat mulai dari perkembangan teknologi, sistem pemerintahan, hingga perilaku sosial budaya yang ada di masyarakat dan juga kekristenan. Penulis menggunakan ciri-ciri pendekatan dari 5 tipologi Nieburh yaitu tipologi ke 5 yakni Transformasi Kebudayaan untuk menyelesaiakan masalah yang penulis angkat. Dalam menanggapi masalah ini, maka Gereja perlu memberikan pemahaman yang baik tentang tradisi atau budaya kepada Jemaat, bahwa tradisi tidak dapat dilupakan tetapi dijadikan sebagai refleksi karena Gereja adalah wadah pembinaan Spiritualitas Jemaat. Gereja perlu memberikan pemahaman kepada Jemaat bahwa sang pemilik persekutuan dan Kasih yang sebenarnya ialah TUHAN.
SIPORA SIR OLANG
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada ritus Mani Sir Koko dan Bekolang Manu yang masih di lakukan oleh Jemaat GMIT Bukit Sion Beribu. Ritus Mani Sir Koko dan Bekolang Manu ini dilakukan oleh Jemaat yang karena dipercaya dapat memberikan berkat, perlindungan, keamanan bagi mereka. Dipercaya bahwa Mani Sir koko dan Bekolang Manu adalah dua sosok binatang yang sebagai sumber untuk meminta berkat, kesuksesan, kekuatan dan terlebih pemeliharaan. Mani Sir Koko adalah sosok yang menyerupai ayam yang berfungsi sebagai sosok yang dipercayai dapat memberikan berkat berupa kekayaan dan kesuksesan sedangkan Bekolang Manu menyerupai seekor babi yang dipercayai memberikan kekuatan dan juga pemeliharaan kepada mereka. Namun perlu diketahui bahwa iman Kristen mengajarkan kepada umat Kristen untuk tidak ada dalam praktik penyembahan atau kepercayaan apapun itu. Untuk mencapai tujuan dari penulisan ini, maka penulis mengunaan metode penelitian lapangan atau metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Dalam hal ini juga penulis mengunakan metode penulisan deskripsi, analisis dan refleksi teologis. Metode ini penulis pilih untuk mendapatkan data yang akurat dan baik serta mengandung kebenaran mengenai ritus yang masih dilakukan oleh Jemaat Bukit Sion Beribu. Sehingga dari penelitian yang dilakukan didapati fakta bahwa Jemaat masih melakukan ritus ini. Realita yang penulis temukan di lokasi penelitian adalah semua masyarakat di tempat ini beragama Kristen, namun mereka masih meminta perlindungan pada alam yang dipercayai dapat memberikan berkat dan kekuatan untuk melindungi dan menjaga mereka dari segala kemiskinan dan malapetaka yang mengancam hidup mereka. Melihat alas an-alasan yang telah disampaikan maka penulis akan meninjau masalah ini dari sudut pandang teologi kontekstual. Alasan penulis meninjau masalah ini dari sudut pandang teologi kontekstual karena teologi kostekstua adalah salah satu ilmu yang mempelajari tentang budaya dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipelihara sampai saat ini. Menanggapi masalah ini, gereja hadir dan berperan sebagai lembaga yang dapat membina spiritual jemaat. Kata Kunci : Budaya, Berkat, Pemelihara, Gereja
RIDAMITA JUHALEN TEFA
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Gereja hadir di tengah dunia bukan dirinya sendiri, melainkan untuk mengemban sebuah tugas atau amant kerasulan. Dalam merumuskan pemahaman mengenai misi atau tugasnya sebagai gereja, GMIT menuangkan amanat kerasulan dalam Panca Pelayanan GMIT yakni koinonia, marturia, diakonia, liturgia, dan oikonomia. Jemaat GMIT Nazaret Oeekam juga melakukan tugas dan panggilannya sebagai gereja di dunia dengan melaksanakan panca pelayanan GMIT. Namun di dalam pelaksanaannya, teori tidak sejalan dengan praktek yang ada. Dalam menulis karya ilmiah ini penulis menggunakan metode deskripsi-analisis-refleksi, yaitu dengan mendeskripsikan jemaat yang menjadi lokus bagi penulis untuk meneliti, menganalisis masalah berdasarkan realita yang ada. Melalui sidang majelis jemaat yang dilaksanakan pada tahun 2020, laporan mengenai hasil pelaksanaan program pelayanan baik dalam bidang pelayanan koinonia, marturia, diakonia, liturgia dan oikonomia tidak terlaksana dengan baik. Beberapa program pelayanan di antaranya berjalan sesuai harapan dan beberapa di antaranya tidak terlaksana. Gereja disebut juga sebagai alat untuk melaksanakan visi Kerajaan Allah di dunia. Karena itu gereja harus mampu melayani dengan baik. Untuk melaksanakan visi Kerajaan Allah di dunia, maka gereja-gereja khususnya Jemaat GMIT Nazaret Oeekam sebagai gereja mewujudkannya dalam panca pelayanan.
LENI MARIANA KALE
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada praktek Panat Li’ana yang masih dilakukan oleh jemaat GMIT Betel Haulasi. Praktek Panat Li’ana adalah bentuk dan upaya untuk melindungi, memelihara dan menjaga kehidupan anak mulai dari dalam kandungan hingga sesudah dilahirkan. Dipercaya bahwa ada kuasa roh-roh jahat yang mampu merusak janin. Namun perlu diketahui bahwa iman Kristen mengajarkan kepada umat kristen untuk mempercayai bahwa kekuasaan Allah melebihi segala kuasa yang ada di bumi. Untuk mencapai tujuan dari penulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian lapangan atau metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif/. Dalam hal ini juga penulis menggunakan metode penulisan deskripsi, analisis dan refleksi teologis. Metode ini penulis pilih untuk mendapatkan data yang akurat dan baik serta mengandung kebenaran mengenai praktek yang masih dilakukan oleh Jemaat GMIT Betel Haulasi. Sehingga dari penelitian yang dilakukan didapati fakta bahwa masyarakat masih melakukan praktek ini. Realita yang ditemukan oleh penulis di lokasi penelitian adalah jemaat masih mempercayai bahwa ada kuasa roh-roh jahat yang mampu merusak manusia . Melihat alasan-alasan yang telah disampaikan maka penulis akan meninjau masalah ini dari sudut pandang teologi kontekstual Alasanya adalah karena teologi kontekstual merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang budaya dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipelihara hingga saat ini. Menanggapi masalah ini gerja hadir dan berperan sebagai lembaga yang dapat membina spiritual jemaat. Kata kunci: Tradisi, melindungi, dan gereja
CARLOS TROI LODIWICH NDAUMANU
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Perceraian merupakan persoalan yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, namun ternyata perceraian pun bisa menimpa kehidupan para tokoh agama seprti mereka yang berprofesi sebagai pendeta. Penyebab perceraian yang sering dialami oleh para pendeta ini adalah melalui kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan juga perselingkuhan, dan juga dampak dari perceraian inilah yang juga memiliki pengaruh bagi anak-anak mereka sendiri. Yang diteliti saat ini adalah kehidupan anak-anak pendeta korban perceraian dengan aspek-aspek yang nampak dalam penelitian ini yaitu aspek fisik, menta, sosial, serta spiritualitas. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendetakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik wawancara dan koisioner untuk mengumpulkan data terhadap anak-anak pendeta korban percerain yang memiliki gangguan psikologis dalam situasi perceraian kedua orang tua. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, penulis menemukan bahwa peristiwa perceraian dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai pendeta memiliki dampak atau pengaruh psikologis bagi anak-anak mereka. Dalam pergumulan yang dirasakan oleh anakanak pendeta korban perceraian, gereja sudah seharusnya hadir bukan hanya untuk mendampingi kedua orang tua anak-anak saja, tetapi juga membantu mendampingi serta membimbing anak-anak pendeta korban percerain ini agar dapat dimampukan dalam membangun iman serta spiritualitas mereka. Anak-anak korban perceraian ini sangat perlu untuk mendapatkan pendampingan yang baik oleh gereja, setelah peristiwa perceraian orang tua yang mereka alami. Maka itu penulis pun menemukan bahwa ada lima pendekatan pastoral yang sangat baik diterapkan untuk membantu gereja dalam pendekatan atau pendampinganya terhadap anak-anak pendeta korban perceraian, sehingga mereka pun dapat merasakan bahwa mereka tidak pernah sendiri dalam menjalani persoalan hidup yang sedang mereka alami. Kata Kunci: Keluarga, Perceraian, Anak-anak Pendeta, Pastoral, Peran Gereja.
RAMA SURYAKA
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
PandemiCovid-19adalahvirusyangmenyerangseluruhumatduniadan
menyebabkan krisis ekonomi,sosialdalam kehidupan.Kota kupang secara
keseluruhantidakbebasdaripandemiCovid-19padatahun2020-hinggasekarang
JemaatGMITGloriaKayuPutihKlasisKotaKupangTimuradalahjemaatyang
masukdalamwilayahpemerintahanKotaKupangsehingga banyakpelayanandi
jemaatyangterhambatakibatpembatasansosialyangdilakukakanolehpemerintah.
Dalamsituasitersebutpendetasebagaiseorangpelayanmengalamiketerbatasan
dalammelaksanakanpelayananditengah-tengahjemaat,sementarakebutuhan
pelayanandalamjemaatsangattinggiditambahlagidengansituasipandemiCovid19.BeberapakeluargadalamjemaatGMITGloriakayuPutihterinfeksiCovid-19dan
dalamkondisitersebutpelayananpendetamasihsangatterbatas.Situasiterbatas
iniyangmenarikuntukditeliti.Apasajaharapan-harapanjemaatbagipelayanan
seorangpendetaditengahkrisispandemiCovid-19.
Tujuaninidapatdicapaimelaluipenelitianlapangandalammetodepenelitian
kualitatifuntukmendapatkandatayangakuratmengandungkebenarantentang
harapanwargajemaatmengenaipelayananpendetaditengahpandemiCovid19.Hasilpenelitanyangpenulistemukan,adaenam
harapanjemaatterhadap
pelayananpendetadimasapandemiCovid-19yaitupandemiCovid-19adalahbudaya
yangbarudanpendetaharusdapatberadaptasidengankrisistersebut,pelayanan
pendeta harus lebih bersifataktif,tidak boleh ada penekanan pelayanan,
perkunjunganpendetatetapberjalan,setiappelayananpendetamelihatdaridata
jemaatuntukbisamenjawabkebutuhanjemaat
Berdasarkanhasilpenelitiantersebutpenulismelakukanrefleksiteologis
kesaksian Alkitab tentang umat dalam penderitaan,gambaran Allah dalam
penderitaanumat,menjadipelayanyangmengertikebutuhanjemaat,danharapan
jemaatdalampelayananpendetadimasapandemiCovid-19,danimplikasinyabagi
pelayanandijemaatGMITGloriaKayuPutihKlasisKotaKupangTimur
Katakunci:Harapanjemaat,PandemiCovid-19,pelayananPendeta,JemaatGMIT
GloriaKayuPutih
OKTOVIANUS KLAPING MAUBUTHY
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Berdasarkan kesaksian Alkitab dan pertolongan Roh Kudus, Gereja mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Pegakuan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan ini selalu diikrarkan oleh jemaat pada setiap kebaktian Minggu. Yesus Kristus adalah Tuhan, artinya Ia mempunyai kuasa baik itu di surga maupun di bumi. Untuk itu ketika seseorang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, maka dalam kehidupan sehari-hari hendaknya ia taat dengan sungguh kepada-Nya. Hendaknya ia mengakui kuasa-Nya serta mempercayakan diri kepada-Nya. Namun, dalam realita kehidupan berjemaat, jemaat selalu dihadapkan dengan berbagai penderitaan, salah satunya adalah human trafficking atau perdagangan manusia. Mereka yang menjadi korban human trafficking adalah mereka yang lemah dan rentan untuk dieksploitasi. Orang-orang ini disiksa, ditindas dan bahkan kehilangan nyawa. Dalam realita seperti ini, apakah Yesus Kristus masih bisa diakui sebagai Tuhan? Jika Yesus Kristus adalah Tuhan dan benar bahwa Dia memiliki kuasa di surga maupun di bumi, mengapa orang-orang yang lemah dieksploitasi dan diperdagangkan? Dan apakah manusia masih dapat mempercayakan dirinya serta taat kepada Yesus Kristus yang diakui sebagai Tuhan tersebut? Karena itu melalui tulisan ini, yaitu dengan judul Yesus Kristus adalah Tuhan dan sub judul Suatu Tinjauan Dogmatis Megenai Makna Yesus Kristus adalah Tuhan dalam Pengakuan Iman Rasuli dan Implikasinya Bagi Persoalan Human Trafficking di GMIT. Penulis melihat hubungan antara makna Yesus Kristus adalah Tuhan dengan persoalan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan berjemaat. Penulisan ini didasarkan atas kajian pustaka tentang makna Yesus Krisus adalah Tuhan dalam Pengakuan Iman Rasuli. Dari penelitian ini ditemukan bahwa pengakuan akan ke-Tuhan-an Yesus Kristus berkaitan erat dengan siapa Dia sesunguhnya serta apa yang dikerjakan-Nya untuk seluruh manusia dan segenap ciptaan. Bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia, melalui dan di dalam Yesus Kristus Allah menyatakan solidaritas-Nya guna menyelamatkan manusia dari lumpur dosa. Dengan demikian kuasa Allah dipakai untuk menolong mereka yang membutuhkan, bukan untuk menerangkan superioritas Allah sendiri. Menyikapi persoalan human trafficking yang terjadi di tengah kehidupan berjemaat, maka tulisan ini mengarahkan suatu sikap yang didasarkan atas nilai yang terkandung di dalam pengakuan akan ke-Tuhan-an Yesus, yakni solidaritas. Dalam hal ini iman jemaat kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan menjadi dasar bagi jemaat dalam solidaritasnya terhadap sesama yang menderita. Dengan demikian kuasa pembeabasan dari Allah melalui Yesus Kristus dapat dirasakan dalam setiap kehidupan manusia.
DIANI E K NOKAS
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Penulisan skripsi ini berupaya untuk memahami maksud Paulus mengenai hidup anak-anak terang menurut surat Efesus 5:15-21. Orang Kristen yang telah mendapat anugerah keselamatan dari Allah, memiliki kewajiban untuk hidup sebagai anak-anak terang di dalam dunia. Namun, rupanya hidup sebagai anak-anak terang tidaklah mudah. Ketika orang Kristen berusaha untuk menjadi anak terang, iblis pun tak tinggal diam sehingga dengan berbagai cara menggoda orang Kristen untuk kembali kepada sifat lama mereka yaitu hidup dalam kegelapan dan dikuasai oleh keinginan daging. Orang Kristen yang tidak memiliki iman yang kuat akan dengan mudah terjerumus ke dalam kuasa iblis. Oleh karena itu, melalui penfasiran menggunakan metode historis kritis terhadap surat Efesus 5:15-21 dapat memberi pemahaman tentang bagaimana caranya agar orang Kristen dapat tetap mempertahakan kekudusan hidupnya untuk terus hidup sebagai anak-anak terang dalam dunia ini. Surat Efesus 5:15-21 secara khusus mau menasihatkan jemaat Kristen akan bahayanya jika orang Kristen hidup dalam kebodohan dan tanpa pimpinan Roh Kudus. Jemaat di Efesus memang dahulu adalah orang-orang kafir yang tidak mengenal Allah. Mereka terkenal dengan penyembahannya kepada para dewa khususnya dewi Arthemis yang memilki kuil megah di Efesus. Selain itu mereka percaya akan ilmu-ilmu sihir yang berkembang pada masa itu. Namun ketika mereka memperoleh kasih karunia Allah, mereka telah meninggalkan kehidupan lama mereka dan hanya percaya kepada Tuhan. Oleh karena itu, penulis surat Efesus perlu menasihatkan jemaat agar tetap teguh dalam iman mereka dan mempertahankan kekudusan hidup mereka dengan hidup sebagai anak-anak terang. Pada masa kini kuasa-kuasa kegelapan yang ingin mengusai kehidupan orang Kristen mungkin tidak sama dengan yang dihadapi oleh jemaat Efesus pada masa itu. Di masa sekarang ini kuasa-kuasa kegelapan semakin kompleks dan tak jarang terbungkus rapi dan menarik sehingga begitu menggoda. Perkembangan modernisasi dan teknologi telah memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia pada masa kini. Namun, tak dapat dipungkiri juga bahwa ketika manusia tidak bijaksana dalam memanfaatkannya maka akan menimbulkan banyak masalah. Itulah tantangan yang dihadapi orang Kristen pada masa kini. Pengaruh modernisasi dan teknologi yang semakin berkembang tak jarang menimbulkan masalah seperti pergaulan bebas diantara para pemuda Kristen. Hal ini karena pemuda Kristen adalah generasi milenial yang dituntut untuk turut serta dalam perkembangan itu. Namun, pemuda Kristen sebagai anak-anak terang, tetap dituntut untuk menjaga kekudusaanya setiap waktu. Dalam tuntutan untuk tetap hidup sebagai anak-anak terang, orang Kristen perlu memliki sikap hidup yang bijaksana serta hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Karena ke dua sikap hidup itulah yang dapat menjadi penangkal bagi anak-anak terang untuk dapat melawan kuasa-kuasa kegelapan. Kata kunci: bijaksana, dipenuhi Roh
ANGRYDION PETRUS CORNELIS SADUK
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Skripsi ini berfokus pada masalah wabah demam berdarah dengue (DBD) yang terjadi di Jemaat GMIT Pniel Oebobo. Jemaat ini merupakan salah satu jemaat yang berada di wilayah Kecamatan Oebobo yang menjadi penyumbang tertinggi kasus DBD di Kota Kupang. Masalah sosial ini semestinya menjadi tanggung jawab sosial gereja untuk bersama pemerintah dan seluruh warga menanggulangi wabah DBD ini. Tanggung jawab gereja ini berdasarkan pada sikap Allah yang sudah terlebih dahulu dilakukan dan pribadi Yesus yang sudah terlebih dahulu memperhatikan orang-orang terlantar, memberi makan mereka yang lapar, melepaskan mereka dari penindasan, bahkan menyembuhkan orang-orang dari sakit-penyakit yang diderita. Kajian Teologi Sosial yang penulis pakai untuk menganalisa masalah ini adalah teori dari J. B. Banawiratma. Menurut J. B. Banawiratma, aspek teologi sosial yaitu aspek sosial, aspek historis, aspek kultural dan aspek personal merupakan kajian Teologi Sosial yang dapat membantu Gereja menjalankan peran dalam menanggulangi masalah sosial di Jemaat dan memberi implikasi khususnya bagi Jemaat GMIT Pniel Oebobo. Metode yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah ini terbagi atas dua yaitu metode penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang berlokasi di jemaat GMIT Pniel Oebobo. Populasi dalam penelitian ini ialah warga jemaat dengan jumlah sampel 15 orang. Sedangkan untuk metode penulisan memakai metode deskripsi, analisis dan refleksi teologis. Artinya metode yang dipakai ini akan mendeskripsikan keadaan yang terjadi, kemudian menganalisis memakai teori yang ada dan diakhiri dengan refleksi teologi bagi jemaat. Berdasarkan hasil penelitian dan análisis data, penulis menemukan bahwa kurangnya kesadaran dari anggota jemaat terhadap pencegahan penyakit DBD mempengaruhi penyebaran penyakit ini. Demikian pula gereja belum sepenuhnya memberi perhatian yang serius terhadap penanggulangan DBD. Gereja seharusnya lebih peka terhadap persoalan yang terjadi di dalam jemaatnya. Gereja juga mestinya mengambil komitmen untuk terlibat dalam penyelesaian masalah DBD di jemaat sesuai dengan tanggung jawabnya untuk menghadirkan damai sejahtera dalam kehidupan jemaat. Hal ini menunjukkan peran sosial gereja terhadap anggota jemaatnya dalam mengupayakan kesejahteraan umat Allah, serta menjadi kabar baik (injil) bagi semua orang yang masih hidup dan yang masih berjuang dalam dunia ini. Kata Kunci: Masyarakat, penyakit DBD, Teologi Sosial, Gereja
JENI ELFIANTI KOA
2022 · Thesis · Open Access
Peran kepemimpinan perempuan dipahami oleh jemaat sebagai sesuatu yang sangat penting baik itu dalam pelayanan gereja maupun di luar pelayanan gereja. Perempuan adalah makhluk yang emosional, maka di pandang tidak bisa memimpin dan karena itu di tempatkan pada posisi yang tidak penting atau posisi yang rendah. Pemahaman bahwa sudah peran perempuan sudah menjadi kodrat untuk menjadi lebih lemah dan karena itu tergantung kepada laki-laki dalam banyak hal untuk hidupnya. Sehingga dalam ini perempuan berusaha untuk keluar dari diskrimasi gender yang dilakukan. Tujuan perjuangan dan pembebasan kaum perempuan adalah untuk kesetaraan dalam gereja dan masyarakat ini bukan untuk menindas kaum laki-laki, melainkan membangun masyarakat yang adil dan damai. Tujuan dari peran perempuan adalah untuk membangun masyarakat yang adil dan manusiawi sehingga tidak ada diskrimasi gender. Dasar pelayanan seorang pemimpin dalam gereja sangat penting karena yang diprioritaskan itu bukan kesiapan dalam melayani melainkan status sosialnya. Sudah saatnya bahwa gereja harus mengubah pola kepemimpinan yang lama dimana kaum perempuan dianggap sebagai orang-orang yang lemah dan tidak bisa memegang jabatan dalam kepemimpinan. Oleh karena itu, kepercayaan atau iman seseorang itu dipengaruhi dari cara berpikir, berperilaku, sikap nilai yang tercermin dari seorang pemimpin bukan dari lemah atau kuatnya seseorang.
MATILDE MARIANCE DA COSTA
2022 · Thesis · Open Access
INTISARI Judul Skripsi Penulis adalah Disparitas putusan pemidanaan oleh hakim terhadap terdakwa kecelakaan lalulintas. Permasalahan pokok dalam penelitian ini, penulis lebih memfokuskan dengan permasalahan: Megapa terjadinya disparitas pemidanaan oleh hakim terhadap terdakwa kecelakaan lalulintas? Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui alasan terjadi disparitas pemidanaan oleh hakim terhadap terdakwa kecelakaan lalulintas. Selanjutnya, Penelitian ini berjenis penelitian normatif yang bersifat deskriptif artinya bahwa sifat penelitian ini berusaha mendeskripsikan atau menguraikan suatu gejala sosial atau peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dengan penerapan suatu norma (peraturan perundang-undangan) yang berlaku. Sumber data dan jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang jenisnya berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan bahan hukum melalui Studi pustaka atau dokument.Analisis bahan hukum yang diperoleh dari hasil wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi disparitas pemidanaan oleh hakim terhadap terdakwa kecelakaan lalulintas, dapat dikategorikan dalam beberapa pertimbangan mendasar yaitu: Kekuatan Mengikat Alat Bukti Yang Diajukan Oleh Jaksa Penuntut Umum, Tuntutan Penuntut Umum Berbeda-beda, Kualitas Perbuatan Pidana Terdakwa Anak, Hal Memberatkan dan Meringankan, Indepedensi Hakim, dan Tidak Adanya Pedoman Pemidanaan Oleh Hakim. Oleh sebab itu penulis menyarankan bahwa, diharapakan Terdakwa supaya tertib berlalulintas dijalan, jangan buru-buru dalam mengendarai kendaraan bermotor dijalan, diharapkan penuntut umum harus mempelajari perkara-perkara yang lain sehingga dapat menuntut terdakwa dalam kasus lakalantas tidak terjadinya disparitas.Diharapkan hakim dalam menjatuhkan putusan harus mempelajari tentang kualitas perbuatan pidana yang dilakukan terdakwa sehingga tidak terjadinya disparitas,diharapkan hakim dapat memeriksa perkara-perkara terdahulu yang berkaitan dengan tindak pidana lakalantas tentang hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa sehingga hakim tidak menimbulkan suatu putusan disparitas yang terlalu melebar, diharapkan dengan kewenangan indepedensi ini hakim harus mempelajari perkara-perkara terdahulu sehingga dapat mengurangi terjadinya disparitas putusan hakim, dan diharapkan harus adanya pedoman pemidanaan sehingga tidak terjadinya disparitas yang terlalu melebar, dan juga dalam penjatuhan harus pula mempelajari putusan-putusan terdahulu agar tidak terjadinya disparitas putusan terlalu jauh. Kata Kunci : Disparitas,Putusan,Tindak Pidana Lalulintas
EXANDRY HERIFANY UNUMSINT FRANS
2022 · Thesis · Open Access
Pekerjaan diaken pada umumnya disebut sebagai pelayanan dari kasih atau kemurahan kristiani karena memperlihatkan kasih Allah dalam Kristus, mengurus dan membagi-bagikan persembahan jemaat, dan menyadarkan jemaat. Diaken dapat melakukan tugas mulai dari menata bunga, memberi makan orang-orang miskin dan berbagi dalam tanggung jawab pastoral gereja. Diaken dianggap hanya sebatas memungut kolekte dan melayani meja perjamuan. Dari penjelasan di atas, itu semua merupakan realita pemahaman jemaat pada umumnya tentang tugas dan pelayanan seorang diaken. Realita ini terjadi juga di Jemaat GMIT Marturia Oetete Tarus. Kurangnya Pemahaman tentang tugas dan pelayanan diaken menimbulkan masalah yang serius. Masalah ini datang dari kinerja diaken yang tidak maksimal, di mana salah seorang diaken mengantar diakonia kepada jemaat melalui perantaraan tukang ojek. Dari masalah ini timbullah pengeluhan dari jemaat tentang tugas dan pelayanan diaken yang sesungguhnya. Masalah ini telah di keluhkan oleh jemaat namun, tindakan dari pihak gereja pun belum maksimal. J. L. Ch Abineno dalam bukunya “ Diaken, Diakonia dan Diakonat Gereja” menyatakan bahwa tugas diaken yang sesungguhnya adalah memelihara orang miskin dan sakit. Artinya ada diaken yang bertugas memelihara orang-orang miskin dan ada juga diaken yang bertugas dalam pelayanan orang sakit, ini adalah tugas diaken yang sesungguhnya. Untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, maka metode yang di gunakan adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang meneliti berdasarkan metodologi penelitian suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Jenis penelitian kualitatif ini salah satunya yaitu Fenomenologi yang merupakan salah satu metode penelitian dalam studi kualitatif. Dalam menyelesaikan penulisan ini, maka metode penulisan yang dipakai oleh penulis adalah deskriptif-analisis-reflektif. Metode analisis digunakan untuk mengungkapkan faktor-faktor penyebabnya. Sedangkan refleksi teologis dimaksudkan untuk meninjau secara teologis tugas dan pelayanan diaken pada masa kini.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis menemukan bahwa masalah yang terjadi di GMIT Marturia Oetete-Tarus, datang dari berbagai faktor salah satunya adalah untuk menjadi seorang diaken tidak secara keseluruhan semuanya dipilih menjadi calon diaken. Namun ada juga yang memberi diri untuk melayani. faktor lain juga yang mempengaruhi datang dari faktor lingkungan, faktor pekerjaan, faktor kesediaan, faktor kurangnya Penggembalaan dan pemahaman materi tentang tugas dan pelayanan diaken.
Berdasarkan hasil penelitian lapangan dan analisis maka penulis menemukan bahwa masalah tentang pemahaman tugas dan pelayanan diaken yang terjadi di GMIT Marturia Oetete-Tarus sesungguhnya dapat di selesaikan dengan beberapa cara. Salah satunya adalah dengan menggunakan beberapa teks alkitab yaitu Kisah Para Rasul 6:1-7 dan 1 Timotius 3:8-13. Penulis juga menggunakan teori pembangunan jemaaat salah satunya yaitu teori yang mengaktifkan gaya kepemimpinan yang terbuka dengan membangun relasi antara individu dan kelompok. Gaya kepemimpinan yang dimaksud ialah kepemimpinan tidak hanya dijalankan oleh orang yang telah diangkat sebagai seorang pemimpin namun kepemimpinan dilakukan secara bersama-sama sehingga anggota merasa berpartisipasi dalam pelayanan.
ESTHI MIRMA SISILIA BABIS
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Kepemimpinan yang terjadi di awal abad Masehi menunjukkan sikap kepemimpan yang tidak mensejahterakan kehidupan umat Kristen. Kehidupan orang Kristen pada saat itu diperhadapkan dengan system kepemimpinan dengan berbagai aturan-aturan yang mengatur sehingga menyebabkan kehidupan orang Kristen hidup dalam penderitaan dan kemiskinan. Keadaan ini membuat Kekaisaran Romawi menguasai seluruh daerah bangsa Yahudi. Hal-hal kepemimpinan yang diterapkan oleh pemerintah sangat tidak stabil sehingga rakyat semakin menderita. Yang diakibatkan oleh pemerintahan secara bergantian dari para kaisar sampai pada puncak pemerintahan Kaisar Nero rakyat semakin menderita karena tindakannya yang mengharuskan orang Kristen untuk menyembah patung Kaisar. Bahkan seluruh kehidupan baik itu bahasa, bangunan-bangunan dan Pendidikan pun diatur oleh system pemerintahan dengan gaya dan corak kebudayaan Yunani. Sistem pemerintahan yang sangat kejam juga membuat yang kaya semakin berkuasa sedangkan yang miskin semakin tertindas. Kehidupan keagamaanpun dikuasai oleh para penguasa. Bahkan dalam pemerintahan pun system patriakhi diterapkan dalam hidup sehari-hari. Yang mengharuskan para kaum perempuan untuk tunduk dan taat kepada para penguasa yaitu kaum laki-laki. Perempuan dianggap tidak mempunyai kekuatan untuk dapat memimpin karena sifatnya yang lemah. Tugas perempuan bukan untuk memimpin melainkan mengurus rumah tangga dan anak. Sedangkan kaum laki-laki berhak memimpin karena dianggap memiliki kekuatan yang besar yang mampu untuk berdiri sebagai pemimpin. Berdasarkan kisah kepemimpinan yang terjadi di awal abad Masehi Injil Lukas memberikan gambaran cerita menarik terkait kepemimpinan yang sangat penting. Petrus dengan latar belakang yang sederhana dipilih dan dipanggil oleh Allah untuk melayani. Kehidupan seorang nelayan yang sederhana, diubah Tuhan dari seorang penjala ikan menjadi penjala manusia. Gelar yang baru diberikan oleh Tuhan kepada Petrus untuk membawa atau menangkap orang-orang kepada Yesus. Petrus dipilih sebagai murid yang pertama untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab dalam menjalankan misi Allah. Petrus menunjukkan sikap keberanian dalam menerima tugas dan panggilannya untuk membawa orang-orang kepada Yesus Kristus. Seiring berjalannya waktu, ia akhirnya menyangkal mengenal Tuhan. Jawaban ini diberikan dengan alas an karena takut terhadap orang-orang yang telah menangkap Yesus. Terkadang dalam kehidupan ini, sebagai manusia yang berdosa kita pun melakukan hal yang sama dengan dilakukan oleh Petrus. Banyak pemimpin-pemimpin baik itu pemerintah maupun pemimpin gereja seringkali menyangkal dalam tugas dan pelayanan untuk membela diri agar tidak jatuh kepada hal-hal yang menjatuhkan diri sendiri. Dengan demikian, untuk mencapai maksud tersebut, penulis menggunakan kajian teologi murni agar dapat mengkaji maksud dalam teologi Injil Lukas yang sekiranya dapat diterapkan dalam konteks. Kata kunci: Kepemimpinan, Panggilan, Tanggungjawab
HORI YUSLINDA MASAE
2022 · Thesis · Open Access
Seorang pemimpin dalam memakai kekuasaannya untuk keuntungan bagi diri sendiri, tanpa memperhatikan orang lain adalah pemimpin yang gagal. Injil Markus 6:14-29, menggambarkan dengan jelas tentang kekuatan seorang pemimpin (raja Herodes Antipas) yang perbuatannya melanggar hokum Yahudi. Ketika Herodes Antipas ditegur oleh seorang nabi yang disegani oleh banyak orang termasuk dirinya, dengan keangkuhan ia membalas teguran itu dengan memasukkan Yohanes Pembaptis kedalam penjara. Pada masa itu karena rajalah yang memiliki kekuasaan berhak melakukan hal tersebut. Meskipun pada Yohanes Pembaptis tidak ada tindakan kejahatan yang dilakukan. Yohanes Pembaptis mengetahui benar situasi kekuasaan seorang pemimpin pada saat itu. Yohanes Pembaptis menyadari bahwa tegurannya kepada Herodes Antipas akan menghasilkan suatu kemalangan bagi dirinya. Tetapi, karena keteguhannya sebagai seorang yang memiliki tanggungjawab dalam menyampaikan kebenaran, ia mampumenunjukkan integritas dirinya sebagai seorang yang diutus Allah. Yohanes Pembaptis tidak takut kepada kekuasaan raja Herodes Antipas, ia hanya takut apa bila suara Tuhan tidak disuarakan. Kesetiaannya kepada kebenaran (FirmanTuhan) membuat terus memahami arti panggilan kehadirannya. Yohanes Pembaptis dipilih dan diutus Allah untuk mempersiapkan umat menyambut kedatangan sang Mesias. Situasi kehidupan sekarang ini membuat seseorang memilih diam ketika melihat perbuatan ketidakdilan terjadi. Hal ini mempengaruhi integritas dari seseorang itu hilang, akan berbahaya jika seseorang itu ialah pendeta. Pendeta yang kehilangan integritas dirinya sebagai pelayan Tuhan, akan membuatnya kehilangan kepercayaan dari jemaat. Nilai-nilai pada citra seorang pendeta akan menurun. Karena itu, dengan mendalami teks injil Markus 6:14-29 tentang Yohanes Pembaptis dibunuh, dengan menggunakan metodologi historis kritis untuk memperoleh kerygma. Dan dari kerygma dapat memberikan sumbangsih untuk menemukan makna dari integritas seorang pelayan.
JUANTI TAOPAN
2022 · Thesis · Open Access
ABSTRAK
Kemajemukan merupakan salah kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia.Tetapi dalam kenyataannya, kemajemukan ini juga menjadi sebuah ancaman. Salah satu pemicu munculnya masalah ialah keberagaman agama dan ajarannya masing-masing. Hal ini terlihat dari pemahaman yang masih salah tentang keselamatan yang berasal dari satu agama di tengah-tengah kemajemukan. Masing-masing agama datang dengan keyakinan ajaran tentang keselamatan sehingga dari pemahaman inilah lahir sikap eksklusif yang menjadi jurang pemisah antara umat beragama.
Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang kristen masa kini yang membatasi keselamatan Allah yang universal. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membahas Teologi Injil Yohanes tentang Gereja yang Inklusif yang sesuai dengan konsep berteologi di dalam GMIT. Kajian Ilmiah ini bertujuan untuk membangun pemahaman dari orang kristen masa kini tentang Teologi Injil Yohanes yang bukan saja bersifat eksklusif namun juga bersifat Inklusif, yang dapat direfleksikan dan manfaatnya bagi Toleransi antar umat beragama di NTT dan merumuskan konsep keselamatan yang juga diterima oleh umat beragama lain.
Metode yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah adalah metode penelitian pustaka yaitu dengan memanfaatkan buku-buku sumber sebagai alat dalam memperoleh informasi. Sedangkan untuk metode penulisan memakai metode deskriptif-analitis-reflektif. Metode deskripsi digunakan untuk memberikan gambaran dan penjelasan tentang latar belakang Injil Yohanes. Metode analisis digunakan untuk menganalisis Teologi Injil Yohanes tentang Inklusivisme. Metode refleksi akan digunakan sebagai upaya berteologi dan implikasinya bagi pelayanan di GMIT.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, penulis menemukan bahwa Teologi Injil Yohanes pada dasarnya menunjukkan bagaimana sisi Yesus yang Eksklusif dan Inklusif terhadap semua ciptaan. Hal ini sesungguhnya sama dengan konsep GMIT dalam berteologi yaitu bahwa GMIT terbuka lebih fleksibel dan lebih terbuka dalam menerima keberadaan umat beragama lain tetapi tetap mempertahankan ciri khas dari setiap agama. Teologi Injil Yohanes tentang Inklusif ini tentu menjadi relevan dan bisa dijadikan bahan untuk memperbaiki pemahaman orang kristen masa kini, yang sedang menjalankan misi Allah dalam persekutuan hidup berdampingan dengan agama lain. Teologi Injil Yohanes tentang Inklusif menjadi konsep teologi yang menarik bagi pengembangan wacana dan wawasan orang kristen masa kini dalam menghadapi kemajemukan dalam era globalisasi ini.
Kata Kunci : Inklusif, Karya Kasih dan Keselamatan Allah Bagi Dunia, Aku Yesus Bagi Dunia.
ROSINTA LOGO BUKE
2022 · Thesis · Open Access
Rumah orang Sabu dibedakan menjadi dua jenis yakni rumah asli Sabu (Ammu Hawu) dan juga rumah asing (Ammu Jawa). Rumah asli Sabu berbentuk panggung dan mempunyai dua jenis yaitu Ammu Ae Nga Rukoko serta Ammu Taga ‘Batu. Rumah jenis pertama ini kedua ujung bubungannya menonjol ke luar yakni ke barat dan ke timur (hal ini dikarenakan rumah asli Sabu memanjang barat-timur) dengan bagian atap yang disebut rukoko (daun leher). Rumah jenis kedua yakni Taga ‘Batu dua batang baloknya melengkung dan salah satu ujungnya dihubungkan sehingga membentuk setengah lingkaran pada kedua sisi melebar rumah. Orang Sabu meyakini bahwa warga dalam sebuah rumah sama seperti halnya penumpang dalam sebuah perahu. Pandangan orang Sabu mengenai rumah ialah rumah bukanlah sebagai tempat tinggal saja tetapi juga rumah memiliki sebuah makna yang lebih dari itu. Rumah orang Sabu pada saat pembuatan sudah diberi posisi dengan makna tersendiri yang melambangkan sebuah kehidupan. Hingga kini, ammu ae nga rukoko merupakan salah satu budaya orang Sabu yang masih terpelihara hingga saat ini, meskipun sudah terjadi modernisasi. Modernisasi yang terjadi saat ini membuat sebagian masyarakat Sabu memilih untuk membangun rumah sesuai dengan gaya yang modern yang tidak sesuai lagi dengan rumah asli orang Sabu (ammu ae nga rukoko). Jemaat GMIT Yeruel Seba Kota merupakan jemaat yang berada di tengah perkotaan Seba. Sebagai jemaat yang berada di tengah perkotaan, tentunya pengaruh modernisasi sangat bisa dirasakan oleh jemaat ini. Namun, masih ada juga sebagian jemaat yang lebih memilih untuk tetap menjaga dan melestarikan rumah ini dengan cara masih tetap tinggal di rumah ini. Hal inilah yang ingin dikaji oleh penulis yaitu apakah modernisasi memberikan pengaruh terhadap pemaknaan rumah bagi orang Kristen Sabu, dan juga mengapa ada sebagian masyarakat yang sangat menjaga sekali agar bangunan rumah ini tetap terjaga dengan dilestarikan. Apakah karena ada nilai-nilai dari rumah ini yang nyaris tidak terjaga karena adanya modernisasi sehingga sebagian orang tetap memilih untuk melestarikan rumah ini? Penulis berharap tulisan ini dapat membantu jemaat Kristen
ANGMINENG ELISABET LANBUY
2022 · Thesis · Open Access
Keluarga adalah lembaga yang pertama yang ada di dunia. Setiap keluarga sejati dan bahagia merupakan suatu komunitas yang melandaskan cinta kasih. Kehidupan keluarga yang baik ditandai dengan relasi yang harmonis, selaras, dan seimbang di antara anggota keluarga. Tetapi dalam kenyataannya, relasi dalam keluarga cenderung banyak yang rusak dengan berbagai persoalan. Hal ini dikerenakan, anggota keluarga belum memahami peran dan fungsinya masing-masing sehingga relasi yang terjalin dalam keluarga tidak berjalan dengan baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak relasi keluarga kristen masa kini yang rusak. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membahas pemahaman pemikiran Paulus dalam surat Kolose tentang relasi dalam keluarga. Kajian Ilmiah ini bertujuan untuk menyampaikan interpretasi yang benar dan alkitabiah tentang relasi keluarga menurut Paulus dalam surat Kolose. Kemudian, melalui karya ilmiah ini keluarga-keluarga Kristen dapat menemukan apa yang menjadi prinsip, tujuan serta aspek-aspek dalam mempertahan keutuhan rumah tangga. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, menunjukkan bahwa relasi yang benar dalam keluarga, yang menuntut adanya sikap tunduk, mengasihi, dan menaati. Serta menjadikan kasih Kristus sebagai dasar kehidupan rumah tangga memiliki dampak yang sangat kuat untuk menentukan keutuhan rumah tangga Kristen. Dengan kata lain, rumah tangga tanpa kasih Kristus, maka rumah tangga itu akan mengalami kehancuran. Oleh karena itu, setiap anggota keluarga Kristen dapat melakukan peran dan fungsi dengan baik demi mewujudkan keluarga yang harmonis.
ALMENDA EKO MARSLIN FALLO
2022 · Thesis · Open Access
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa pemuda berasal dari kata “muda” yang berarti belum sampai pada setengah umur. Dalam pengertian ini jelas bahwa muda berarti manusia yang belum lanjut usia dan tidak berada pada posisi anak kecil lagi. Kaum muda dianggap sebagai orang-orang yang terpengaruh oleh hal-hal baru baik positif maupun negatif. Hal ini juga terjadi pada generasi muda jemaat GMIT Sion Boentuka .Sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus, generasi muda gereja seharusnya ikut berperan aktif dalam melayani Tuhan. Mereka seharusnya menjadi anggota gereja yang baik dan berperan aktif sebagai saksi Kristus. Generasi muda GMIT Sion Boentuka adalah para pemuda yang juga kaum yang mudah terpengaruh dengan hal-hal baru. mereka terdiri dari anak-anak yang sedang duduk di bangku pendidikan SMA sampai mereka yang sudah tamat sekolah. Tahun 2018 lalu terjadi konflik antar kaum pemuda dengan salah satu Majelis Jemaat Harian. Hal ini kemudian berdampak pada pelayanan pemuda yang kemudian terhenti dan tidak berjalan seperti biasa. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui Dampak yang ditimbulkan dari konflik yang terjadi antara kaum pemuda dengan Majelis Jemaat Harian serta merefleksikan menurut sudut pandang Teologi Pastoral. Tujuan ini dicapai dengan melakukan penelitian lapangan dan metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang di gunakan untuk memperoleh data yang akurat dengan metode yang digunakan untuk penulisannya adalah metode studi kasus. Metode studi kasus membantu untuk mendeskripsikan, menganalisa, merefleksikan dan memberikan tawaran aksi pastoral yang dapat dipakai oleh gereja. Semua manusia ciptaan Allah adalah tubuh Kristus yang walaupun berbeda tetapi saling melengkapi untuk membentuk satu tubuh yang utuh dan sempurna. konflik ini menimbulkan perpecahan. Perpecahan yang terjadi ini harus di selesaikan agar persekutuan sebagai tubuh Kristus menjadi kembali utuh.