PERTANIAN ORGANIK SUATU TINJAUAN EKOTEOLOGI TERHADAP SISTEM PERTANIAN ORGANIK DAN IMPLIKASINYA BAGI POLA PERTANIAN DI JEMAAT GMIT ALFA OMEGA LABAT
Pertanian yang dijalankandenganpengunaanbahan-bahankimiasemakinharisemakinmengancamtanahsebagaiwadahpertanian. Tanah yang semakinrusakditandaidengankesuburan yang berkurang, hama yang semakinkebaldankematian mikro-organisme di dalamtanah. Bahankimiainijugaberakibatpadakerusakanalamataulingkungansepertipeningkatan gas emisi, pencemarantanahdan air akibatreduksibahankimiadankeracunanpadamakanan yang dikonsumsiolehmakhlukhidup yang memakanya. Pola pertanian dengan bahan-bahan kimia juga masih ditemukan di Jemaat GMIT Alfa Omega Labat. Para petani di jemaat ini didorong untuk bertani selaras alam yaitu “Pertanian Organik”. BerefleksidariKejadian 2:4b-25, menolong agar setiapmanusiakhususnyaparapetanimulaimenyadari bahwa pemberian lahan pertanian dari Allah adalah melanjutkan tugas dari Allah untuk mengelola dan memeliharataman Eden. Pertanian yang baikdanmenjadisolusidalammenghadapikerusakanlingkungan di bidangpertanian ialah “pertanian organik”.Penelitiandanpenulisaninibertujuanmenganalisisdanmenjelaskanhubunganpertaniandengankerusakanlingkungan.Krisis ekologi dari bidang pertanian perlu untuk diperhatikan. Wilayah pertanian di Jemaat Alfa Omega Labat sangat berperan penting bagi jemaat sekitarnya, berbagai interaksi terjadi melalui bidang pertanian di jemaat ini. Pertanian sudah menjadi salah satu sumber hidup bagi jemaat di tempat ini, lingkungan yang padat ekosistem dengan berbagai tumbuhan dan sungai sangat mendukung pertanian di wilayah ini. Model atau pola pertanian di wilayah ini mulai berganti dengan penggunaan teknologi seperti traktor dan bahan-bahan kimia untuk menyuburkan tanaman dan menjaga dari kerusakan. Penggunaan bahan kimia yang sudah berlangsung selama ini ternyata berbanding terbalik dengan harapan para petani. Tanah semakin semakin rusak dan hasil panen terus menurun. Pola pertanian seperti ini jika terus dipertahankan maka, akan memberi dampak pada kerusakan lingkungan. Dalam bingkai ekoteologi gerejadanumatkristenjugabertanggungjawabuntukmemperbaikilingkungan yang sudahrusakdaribidangpertanian. Berefleksi dari Kejadian 2:4b-25, mengarahkan kita maupun para petani pada sikap hidup yang menghormati dan menghargai alam semesta sebagai bentuk penyembahan kepada Allah, terutama dalam pengelolaan pertanian yang selaras dengan alam. Parapetani di Jemaat GMIT Alfa Omega Labat diharapkan agar mulaimenerapkansistempertanianorganik yang menyejahterakandanmemberikeharmonisanbagisesamaciptaanlainya. Pertanianorganikperlujugamendasarikehidupanparapetaniketikabertani, Pertanianinimenjadiwujudimandanibadahsejatikepada Allah. Para petaniperlumemandangsetiaplingkunganpertanianlayaknyataman Eden yang sedangdiusahakandanberpihakpadakehidupantanpakeserakahan.