Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

MARIA SERAN

3 karya publik ditemukan.

2026: 12021: 2

ANALISIS TATA KELOLA KEUANGAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDES) BERDASARKAN PRINSIP GOOD GOVERNANCE DI DESA MATAULUN KECAMATAN MALAKA TENGAH, KABUPATEN MALAKA”

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Pemerintah Indonesia telah menetapkan UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa. Desa adalah sebuah kebijakan yang telah dibentuk oleh pemerintah dengan tujuan untuk menujukan kepada pembangunan dan kemajuan desa dengan melalui pemberdayaan oleh masyarakat dan manajemen potensi yang ada di desa. Dengan adanya UU Desa diharapkan mampu menjadi pedoman untuk dapat menciptakan suatu desa yang mandiri secara politik, ekonomi yang mempunyai landasan sosial, budaya dan kearifan lokal yang kuat. Konsistensi dalam pemerintah terkait upaya pelimpahan wewenang perekonomian terwujud ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2021 tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Masalah penelitian ini adalah Tata Kelola Keuangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berdasarkan Prinsip Good Governance Di Desa Mataulun, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka. Dengan demikian persoalan penelitian ini adalah Bagaimana Tata Kelola Keuangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berdasarkan Prinsip Good Governance Di Desa Mataulun Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka?. Tujuan penelitian ini adalah (a) Mengidentifikasi praktik tata kelola keuangan yang ada di BUMDes Desa Mataulan dan mengevaluasi efektivitasnya, dan (b) Menilai penerapan prinsip Good Governance dalam pengelolaan BUMDes, termasuk keterbukaan, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat. Untuk mendukung arah menelitian, beberapa teori diangkat yaitu (a) Pengelolaan Keuangan. Pengelolaan keuangan BUMDes mengikuti tahapan kegiatan mengikuti siklus perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan dan oertanggungjawaban, dan (b) Good Governance. Good Governance didefinisikan sebagai pemerintahan yang mengembangkan dan menetapkan konsep profesionalisme, akuntabilitas, transparansi, pelayanan besar, demokrasi, efisiensi, efektivitas, dan supremasi hukum dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat. Populasi penelitian ini adalah pemangku kepentingan BUMDes Dato Mota di Desa Mataulun Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka berjumlah 9 orang yang sebagaimana tampak dalam struktur organisasi BUMDes Dato Mota, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka. Sampel penelitian sejumlah 3 orang masing-masing sekretaris desa, bendahara dan pengawas BUMDes Dato Mota, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka. Data dikumpulkan dengan metode wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian dan analisisnya, dapat diambil kesimpulan bahwa BumDes Dato Mota do di Desa Mataulun, Kecamatan Malaka Tengan, Kabupaten Malaka belum dikeloka dengan baik berdasarkan Prinsip Good Governance. Di Desa Mataulun Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka.

“AGAMA SEBAGAI PEREKAT SOSIAL” “Suatu Tinjauan Sosio-Teologis Terhadap Pemikiran Emile Durkheim yaitu Agama Sebagai Perekat Sosial serta Implikasinya bagi Klasis Timor Tengah Utara”

2021 · Book · Koleksi Perpustakaan

Emile Durkheim merupakan Sosiolog besar yang berpengaruh pada perkembangan ilmu sosial. Sama seperti Karl Max dan Weber, Durkheim hidup dalam masa peralihan sosial dan krisis di Eropa akibat revolusi industri. Revolusi industri inilah yang menjadi penggerak pemikirannya tentang fungsi sosial agama. Kerangka teori berpikir Durkheim terletak pada makna penting struktur masyarakat, interaksi dan kelembagaan sosial untuk melihat dan mempelajari masyarakat. Bagi Durkheim, agama adalah produk sosial masyarakat yang dijadikan standar moralitas bersama atau membangkitkan prinsip solidaritas bersama. Teori Durkheim terkait agama sebagai perekat sosial, penulis angkat dan dialogkan dengan konteks Klasis TTU yang menghadapi kesenjangan sosial. Untuk mendialogkan serta mendekati masalah tersebut, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif khususnya studi pustaka serta melakukan wawancara beberapa pihak terkait. Metode penulisan yang digunakan ialah metode deskriptif dengan pendekatan deduktif juga menganalisis berdasarkan pemikiran beberapa ahli. Berdasarkan pola serta metode yang digunakan, penulis mendapati bahwa peran agama sebagai fungsi sosial di wilayah Klasis TTU belum optimal. Terlihat dari data-data serta isu-isu sosial yang masih kuat di Kabupaten Kefamenanu, serta kaum Katolik sebagai mayoritas yang mendominasi. Sehingga agama sebagai perekat sosial menjadi pergumulan Klasis TTU sebagai bagian di dalam Kabupaten Kefamenanu. Penulis kemudian melakukan refleksi Sosio Teologis dalam Injil Mat. 22: 34-40. Penulis mendapati bahwa di tengah kesenjangan sosial, Yesus merekatkan dengan kehadiranNya bagi semua orang di mana Ia dibutuhkan. Yesus menunjukkan bahwa kasih melampui segala kesenjangan yang terjadi. Kasih melampui batas-batas sosial, karena kasih tidak pernah terbatas. Sehingga dengan mengasihi sesama, manusia telah mengasihi Allah (Mat. 22:36-40).

“AGAMA SEBAGAI PEREKAT SOSIAL” “Suatu Tinjauan Sosio-Teologis Terhadap Pemikiran Emile Durkheim yaitu Agama Sebagai Perekat Sosial serta Implikasinya bagi Klasis Timor Tengah Utara”

2021 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Emile Durkheim merupakan Sosiolog besar yang berpengaruh pada perkembangan ilmu sosial. Sama seperti Karl Max dan Weber, Durkheim hidup dalam masa peralihan sosial dan krisis di Eropa akibat revolusi industri. Revolusi industri inilah yang menjadi penggerak pemikirannya tentang fungsi sosial agama. Kerangka teori berpikir Durkheim terletak pada makna penting struktur masyarakat, interaksi dan kelembagaan sosial untuk melihat dan mempelajari masyarakat. Bagi Durkheim, agama adalah produk sosial masyarakat yang dijadikan standar moralitas bersama atau membangkitkan prinsip solidaritas bersama. Teori Durkheim terkait agama sebagai perekat sosial, penulis angkat dan dialogkan dengan konteks Klasis TTU yang menghadapi kesenjangan sosial. Untuk mendialogkan serta mendekati masalah tersebut, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif khususnya studi pustaka serta melakukan wawancara beberapa pihak terkait. Metode penulisan yang digunakan ialah metode deskriptif dengan pendekatan deduktif juga menganalisis berdasarkan pemikiran beberapa ahli. Berdasarkan pola serta metode yang digunakan, penulis mendapati bahwa peran agama sebagai fungsi sosial di wilayah Klasis TTU belum optimal. Terlihat dari data-data serta isu-isu sosial yang masih kuat di Kabupaten Kefamenanu, serta kaum Katolik sebagai mayoritas yang mendominasi. Sehingga agama sebagai perekat sosial menjadi pergumulan Klasis TTU sebagai bagian di dalam Kabupaten Kefamenanu. Penulis kemudian melakukan refleksi Sosio Teologis dalam Injil Mat. 22: 34-40. Penulis mendapati bahwa di tengah kesenjangan sosial, Yesus merekatkan dengan kehadiranNya bagi semua orang di mana Ia dibutuhkan. Yesus menunjukkan bahwa kasih melampui segala kesenjangan yang terjadi. Kasih melampui batas-batas sosial, karena kasih tidak pernah terbatas. Sehingga dengan mengasihi sesama, manusia telah mengasihi Allah (Mat. 22:36-40).