RITUS SABUNG AYAM
Jemaat GMIT Paulus Nadega merupakan salah satu Gereja yang ada di Raijua Klasis Sabu Barat-Raijua. Jemaat Paulus Nadega merupakan jemaat yang nota benenya hidup berbaur dengan budaya adat istiadat setempat. Penelitian ini berfokus pada pemahaman jemaat terkait dengan ritus Sabung Ayam (Pe’iu Manu) yang terus terpelihara hingga kini dan warga jemaat Paulus Nadega pun ikut turun mengambil bagian dalam praktik tersebut. Meneliti pemahaman jemaat berkaitan dengan praktik ritus Sabung Ayam menjadi penting karena ritus Sabung Ayam mulai dipraktikan dengan pemahaman bahwa praktik Sabung Ayam itu sendiri merupakan bagian dari jati diri atau simbol perdamaian, pemersatu, bagi setiap orang Raijua, kususnya warga Jemaat Paulus Nadega. Namun dalam praktinya orang tidak lagi menjalankan Praktik sabung ayam sebagai mana mestinya, orang memanfaatkan ajang ini untuk berupaya untuk mendatangkan keberuntungan dalam bentuk nilai rupiah atau melakukan perjudian. Ada yang memahami praktik ritus sabung ayam sebagai bagian dari cara mengenang atau menghormati para leluhur dan juga melihat kembali sejarah dibalik prakti sabung ayam yang melambangkan perdamaiaan dan persekutuan, namun ada yang menolak dikarenakan praktik tersebut bagian orang Jingitiu dan yang sudah menjadi Kriten tidak boleh mengikuti praktik tersebut. Gereja ada untuk memberikan pemahaman teologis kepada Warga Jemaat, maka gereja bisa merawat, memelihara dan melestarikan teologis yang ada, agar jemaat tidak menyimpang dari Iman Kristen. Pada kenyataannya tujuan dari ayam yang di adu dan pertumpahan darah merupakan simbol perdamaian dan itu sudah digenapi lewat karya salib, sehingga tidak ada lagi korban-korban yang lain. Untuk mengetahui ritus Sabung Ayam yang masih dipraktikkan oleh warga jemaat GMIT Paulus Nadega, maka penulis akan menggunakan metode penelitian kualitatif dan metode penulisan deskriptif-analisis-reflektif. Kata Kunci: Ritus Sabung Ayam, Perdamaian, Judi.